Tuesday, 21 January 2020

Bahasa Betawi Lesap? Lestarikan

Bahasa Betawi Lesap? Lestarikan

Foto. Beberapa kali buku pelajaran berisi konten yang tak senonoh bisa lolos beredar luas di masyarakat.(ist)

Jakarta, Swamedium.com — Bahasa dan budaya Betawi berangsur lenyap. Menurut pekamus dan budayawan Betawi, Abdul Chaer, sekarang banyak orang Betawi, terutama generasi muda, tidak mengetahui tentang kata-kata atau istilah-istilah Betawi.

Dalam acara diskusi buku dan budaya Betawi di Jakarta, Jumat (8/12), Chaer mengatakan, “Orang tidak tahu buah kundur. Padahal, yang nanya (tentang buah kundur) [ber]umur 30-an.”

Buah kundur atau beligo (benincasa hispida) adalah buah besar dan lonjong, tanamannya menjalar, dan biasanya dibuat sebagai bahan sayur, manisan tang kwe atau tangkue.

Perubahan lingkungan menyebabkan hilangnya buah kundur, padahal dahulu berlimpah di kampung-kampung Betawi.

Apalagi, kundur terdapat pada salah satu peribahasa Indonesia: “kundur tidak melata pergi, labu tidak melata mari” (persetujuan atau persahabatan harus datang dari kedua belah pihak).

Selain itu, masyarakat Betawi perlahan melupakan kosakata Betawi (Melayu Jakarta). Sejumlah kata atau istilah, seperti laklakan (pangkal lidah; lubang tenggorok), péléngan (pelipis), user-user (pusar-pusar; pusar kepala), oyok (kejar; susul), pilon (tidak tahu apa-apa; bodoh), puguh (tentu; pasti), renyem (tidak karuan), tepok (lapuk), memudar.

Keadaan demikian merupakan salah satu dampak dinamika sosial dan perkembangan ekonomi Ibu Kota Jakarta.

Pembangunan fisik Jakarta menggeser masyarakat Betawi, pengguna utama bahasa Betawi dan dialek-dialeknya.

“Terpinggirkan karena digusur. Kalau tanah mau dibikin sekolah, ya dikasih,” ungkap Chaer.

DKI Jakarta didiami oleh masyarakat dari beragam etnik. Oleh sebab itu, sehari-hari warga menggunakan bahasa Indonesia.

Sosiolinguis pensiunan dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKIP Jakarta hingga) Universitas Negeri Jakarta itu menyatakan, “Orang tahu bahasa Betawi paling akhiran enya.”

Selain digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari, bahasa Melayu Jakarta dipakai pula dalam berbagai karya sastra dan kesenian, seperti pantun, lenong, dan wayang Betawi.

Pages: 1 2 3

Related posts