Jumat, 22 Januari 2021

Intelijen Afghanistan Culik Beberapa Guru Sekolah Asing

Intelijen Afghanistan Culik Beberapa Guru Sekolah Asing

Kabul, Swamedium.com — Seorang warga Afghanistan dan tiga guru warga negara asing yang diduga terkait dengan gerakan tertentu diculik oleh staf intelijen Afghanistan pada Selasa, (12/12).

Banner Iklan Swamedium

Langkah melawan lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendidikan CAG Turki Afghanistan (ATCE), organisasi pengelola sekolah yang mempekerjakan guru-guru itu, merupakan bagian dari perburuan rezim partai politik penguasa, AKP, yang dilancarkan terhadap kelompok pengikut seorang ulama Islam Turki, Fethullah Gülen, yang dituduh tanpa bukti oleh pemerintah Turki telah mendalangi upaya kudeta pada Juli 2016.

ATCE, yang merupakan organisasi independen, mengelola sekolah di beberapa kota, termasuk Ibu Kota Kabul, Mazar-i-Syarif, Kandahar, dan Herat. Ia telah berada di Afghanistan sejak 1995.

“Sekitar jam 7 pagi, empat guru kami yang bepergian dengan dua mobil yang berbeda diculik [oleh staf intelijen Afghanistan],” kata Ketua ATCE, Numan Erdoğan, seperti dilansir oleh Reuters.

Beberapa petugas intelijen yang lainnya kemudian pergi ke sekolah perempuan ATCE untuk mencari guru yang lainnya.

Numan mengungkapkan bahwa mereka memperkenalkan diri mereka sebagai staf direktorat keamanan nasional (NDS), sebuah agensi intelijen utama Republik Islam Afghanistan.

Baik NDS maupun pemerintah Afghanistan tidak segera menanggapi untuk berkomentar atas kejadian itu.

Pada Maret 2017, atas desakan rezim AKP, Afghanistan memerintahkan sekolah-sekolah ATCE tersebut agar dipindahkan ke sekolah-sekolah suatu yayasan yang disetujui oleh pemerintah Turki.

Pada 2016, sesaat sebelum kunjungan Presiden Erdoğan ke Ibu Kota Islamabad, pemerintah Pakistan memerintahkan para guru Turki di sekolah-sekolah yang dikelola oleh PakTurk Internasional (PTISC), suatu instansi pendidikan swasta Turki, agar meninggalkan Pakistan.

Gülen, mantan sekutu Erdoğan yang kini tinggal di pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat, demi menghindari teror rezim sekularis Turki pada 1990-an, mempromosikan Islam melalui segala bidang kehidupan, seperti pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi.

Ia yang akrab disapa “Hoca Efendi” (baca: Hoja Efendi) tidak tertarik dengan urusan politik, apalagi berambisi dalam politik. Ia dan kelompoknya yang disebut Hizmet (secara harfiah: Pelayanan) hanya menjadi pendukung parpol-parpol Islam, termasuk AKP yang menjunjung sekularisme juga sebagai ideologi partai. Namun, AKP menuding ia dan Hizmet berada di balik upaya kudeta tanpa mencurigai pihak sekularis. (Pamungkas)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita