Jumat, 22 Januari 2021

Para Agen Zionis yang Menyamar Menjadi Rakyat Palestina

Para Agen Zionis yang Menyamar Menjadi Rakyat Palestina

Ramallah, Swamedium.com — Mereka berpakaian seperti pengunjuk rasa Palestina, berbicara dengan aksen dan ekspresi yang sama, dan menunjukkan perangai yang sama pula.

Banner Iklan Swamedium

Wajah mereka ditutupi dengan kûffiyyah kotak-kotak khas Palestina atau dengan balaclava (pelindung yang menutupi kepala dan leher). Mereka menyoraki pasukan zionis dan melemparkan batu ke arah tentara. Mereka melakukannya sambil menarik seorang Palestina.

Mereka menahan pengunjuk rasa Palestina, mengacungkan senjata api yang mereka sembunyikan di balik baju mereka, menembakkan peluru ke udara, dan menjatuhkan tahanannya ke tanah.

Tentara segera maju dan membawa tahanan itu, sementara pengunjuk rasa yang lainnya membubarkan diri.

Pengunjuk rasa Palestina meneriakkan satu kata sebagai peringatan kepada yang lainnya, “!مستعربين‎ (Musta’ribîn!)”

Secara harfiah, kata itu berarti mereka yang menyerupai orang-orang Arab. Itulah para agen zionis yang menyamar.

Menyamar sebagai orang-orang Arab
Musta’ribîn, atau mista’arvim dalam bahasa Ibrani yang arti harfiahnya ialah dijadikan berkarakter orang Arab, merupakan suatu kata yang berasal dari bahasa Arab musta’rib, yakni seseorang yang berspesialisasi dalam bahasa dan budaya Arab.

Dalam peristilahan keamanan zionis, kata itu menunjukkan pasukan keamanan yang menyamar sebagai orang-orang Arab dan menjalankan misi di Palestina atau di negara-negara Arab.

Mereka merupakan unit kontra teroris dari pasukan pertahanan zionis (IDF), polisi perbatasan, maupun polisi zionis.

Para agen telah mengikuti pelatihan keras. Mereka berpikir dan bertindak layaknya rakyat Palestina.

Misi utama mereka menurut pakar urusan Israel, Antoine Shalhat, mencakup menggalang informasi, menahan rakyat Palestina, dan menjalankan berbagai operasi kontra teroris.

“Unit musta’ribîn pertama kali dibentuk pada 1942 sebelum negara muncul pada 1950,” ungkap Antoine.

“Unit ini merupakan bagian dari Palmach, sebuah divisi elite milisi Haganah yang kemudian menjadi inti tentara Israel.”

Tidak banyak yang diketahui dari agensi-agensi ini karena mereka beroperasi secara rahasia.

Tentara zionis membubarkan unit ini ketika pekerjaan mereka terbongkar, dan membentuk yang baru sebagai pengganti.

“Para agen harus berbicara bahasa Arab seperti bahasa ibu mereka,” jelas Antoine. “Mereka menjalani kursus untuk menguasai dialek Palestina dan aksen Arab berdasarkan suatu negara Arab yang menjadi tempat operasinya, seperti Yaman atau Tunisia.”

Kursus itu berlangsung selama empat hingga enam bulan dan sudah termasuk menguasai adat istiadat dan praktik-praktik keagamaan, seperti berpuasa dan mengamalkan shalat.

Para agen menggunakan riasan wajah dan rambut palsu untuk melengkapi penyamaran mereka, tetapi itu dipilih berdasarkan kesesuaian antara penampilan fisik dan wajah Arab mereka.

Secara keseluruhan, pelatihan dapat berlangsung selama 15 bulan. Pelatihan fisik terdiri dari menyetir, menembak secara diam-diam, dan bergerak di antara kerumunan rakyat Palestina.

“Satu unit yang paling dikenal ialah Rimon yang dibentuk pada 1978 dan aktif hingga 2005,” terang Antoine. “Tugas mereka sebagian besar berkonsentrasi di Jalur Gaza. Unit lain yang beroperasi di Gaza pada ’80-an dan ’90-an bernama Shimshon.”

“Unit elite 217 Duvdevan masih aktif beroperasi di bawah ketentaraan. Ia dibentuk pada 1980-an oleh [mantan Perdana Menteri] Ehud Barak; dan saat ini berfungsi di Tepi Barat, dan dianggap sebagai yang paling aktif dan paling tertutup.”

Dua agen penyamar zionis menahan seorang pengunjuk rasa Palestina di dekat Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina, pada 13 Desember 2017. (Goran Tomasevic/Reuters)

Hadir dalam unjuk rasa baru-baru ini
Selama dua pekan terakhir, rakyat Palestina memprotes putusan Presiden Donald Trump yang mengakui Al-Quds sebagai ibu kota negara ilegal Israel. Ratusan pengunjuk rasa telah ditahan oleh pasukan zionis, bahkan 10 orang dibunuh di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pekan lalu saat sebuah unjuk rasa di pintu masuk utara Ramallah, sekelompok musta’ribîn menyusup dan menahan tiga pemuda Palestina menurut Rasha Harzallah, seorang jurnalis.

“Mereka berada di sana hanya 10 menit,” kata Rasha yang berdiri paling dekat dengan seorang pengunjuk rasa Palestina yang pertama ditangkap pada Rabu (13/12). “Mereka berpakaian sama persis dengan para pengunjuk rasa Palestina yang lainnya.”

“Mereka berjumlah sekitar lima orang, mengeluarkan senjata api mereka, dan mulai menembak ke udara,” lanjutnya.

“Kemudian, tentara dalam jumlah besar tiba-tiba maju, dan mereka mulai menembaki orang-orang dan menembak ke udara, bahkan [mereka menembak] ke arah para jurnalis.”

Rasha yang bekerja pada kantor berita Wafa mengutarakan bahwa agen yang berada di dekatnya saat itu mengenakan baju merah tua dan menutupi wajahnya dengan kûffiyyah.

“Sebelumnya, ia (sang agen) berdiri di barisan depan bersama para pengunjuk rasa Palestina yang lainnya melemparkan batu-batu ke arah tentara Israel,” jelas Rasha menceritakan kejadian saat itu.

“Kemudian, tentara tiba-tiba maju dengan cepat. Lalu, saya memerhatikan seorang pria berbaju merah …, dan ia mengarahkan senjata apinya ke arah saya, dan seorang fotografer di sebelah saya berteriak, ‘Jangan mendekat!'” terangnya tentang momen menegangkan.

Rasha menceritakan bahwa sebelum musta’ribîn membuat penyamarannya diketahui, para pengunjuk rasa melemparkan batu ke arah tentara zionis, namun tentara itu tidak meresponsnya.

Hal itu menimbulkan kecurigaan.

“Mereka tidak melakukan apa pun,” ujarnya. “Dari pengalaman, para pengunjuk rasa tahu apabila tentara Israel berhenti menembakkan granat suara, gas air mata, peluru karet …, ada kemungkinan besar musta’ribîn berada di antara mereka.

Pada 2015, terjadi unjuk rasa yang rakyat Palestina biasanya sebut sebagai “Intifâdhah pisau”. Rasha menyaksikan serangan tiba-tiba musta’ribîn yang ia gambarkan lebih buruk.

“Mereka menembak dua warga Palestina dengan senjata api, satu di kepala [seseorang] dan satu lagi di kaki [orang yang lain]nya dari jarak dekat,” kenang Rasha tentang kejadian pada 2015 itu.

“Saya menyaksikan mereka menyeret seorang warga Palestina yang ditembak di kepalanya itu … Saya pikir ia tewas karena saya melihat sedikit bagian dagingnya di tanah.”

Pemuda itu bernama Mohammed Ziyadeh. Ia masih hidup, namun menderita lumpuh sebagian.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera tidak lama setelah insiden tersebut, Ziyadeh terbaring di ranjang rumah sakit. Kepalanya ditembak oleh musta’ribîn dan ia tak sadarkan diri.

“Saat saya siuman, mereka mulai menginterogasi saya, tetapi saya katakan kepada mereka bahwa saya tidak dapat mengingat apa pun,” ucap Ziyadeh dengan kurang jelas. “Mereka membawa saya ke rumah sakit dan memukuli saya lagi.”

Ziyadeh menjalani dua operasi dan diinterogasi serta dipukuli usai setiap operasi itu.

Pengacaranya akhirnya berhasil membebaskannya, dan tidak lama kemudian, ia dapat berjalan lagi.

Dengan munculnya musta’ribîn dalam unjuk rasa, rakyat Palestina telah belajar menjadi lebih waspada.

Salah satu cara membedakan mereka dengan agen penyamar zionis adalah melilitkan baju di pergelangan tangan, sehingga tidak mengenakan baju dan ada/tidaknya senjata api dapat terlihat.

“Mereka pun harus berhati-hati kala sekelompok [musta’ribîn] menyeret pengunjuk rasa yang lainnya mendekat ke arah tentara,” ujar Rasha. “Dan memastikan ada sekelompok yang mengawasi para pengunjuk rasa yang lainnya,” pungkasnya. (Pamungkas)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita