Jumat, 27 November 2020

Taklim Jurnalistik, Antara ‘Keterpaksaan’ dan Kebutuhan

Taklim Jurnalistik, Antara ‘Keterpaksaan’ dan Kebutuhan

Foto: Taklim Jurnalistik (Taktik) Community wilayah Jawa Tengah dan DIY. (Dok. Taktik)

Jogyakarta, Swamedium.com – Taklim Jurnalistik (Taktik) Community saya kenal sekira sebulan yang lalu. Sebelum memutuskan bergabung di grup WhatsApp untuk wilayah Jateng-DIY, saya terlebih dahulu mencari-cari informasi tentang komunitas ini di internet. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung dan menghadiri Rakorwil Taktik Jateng-DIY pada 30 Desember 2017.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhat al-Musytaqin menyebutkan tiga jenis gerak, yaitu gerak dengan kehendak (harakah iradiyah), gerak natural (harakah thabi’iyah), dan gerak dengan paksaan (harakah qasriyyah).Gerak dengan kehendak berarti diiringi dengan perasaan dan pengetahuan, sebaliknya gerak natural berarti tanpa diiringi perasaan dan pengetahuan. Sementara gerak dengan paksaan ialah gerakan yang terjadi disebabkan faktor eksternal.

Kedatangan saya ke acara Rakorwil Taktik Jateng-DIY itu mungkin tergolong pada harakah iradiyah. Ada perasaan dan pengetahuan yang mendorong saya untuk menghadirinya. Akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa penunjukkan saya sebagai ketua wilayah Jateng-DIY merupakan bentuk harakah qasriyyah, karena paksaan faktor eksternal. Paksaan tidak selalu berirama negatif dan buruk.

Berkenaan dengan ini, saya merasa seperti dipaksa mengarungi jalan yang lurus. Mengapa? Sebab komunitas menentukan sikap. Bergaul dengan tukang minyak wangi akan menularkan harum wewangian, sebaliknya tukang pandai besi terkadang menebarkan percikan api yang panas.

Komunitas Menentukan Sikap
Menyimak pengalaman-pengalaman yang dibagikan di grup Taktik Jateng-DIY, saya semakin merasa perlu banyak belajar. Ada di antara mereka yang karyanya berkali-kali terpampang di koran dan majalah, bahkan ada pula yang telah menerbitkan buku. Sementara saya? Masih sangat pemula dalam hal kepenulisan.

Namun kemudian Buya Hamka memberikan nasihat melalui Tasawuf Modern dengan menyatakan, “Pergaulan mempengaruhi didikan otak. Pergaulan membentuk kepercayaan dan keyakinan. Oleh karena itu, maka, untuk kebersihan jiwa, hendaklah bergaul dengan orang-orang yang berbudi, orang yang dapat kita kutip manfaat daripadanya.”

Jika bergaul dengan tukang minyak wangi akan menularkan harum wewangian, maka bergaul dengan para penulis tentunya akan menularkan kecakapan dalam merangkai kata dan melahirkan karya. Komunitas akan mendidik otak dan memberi pengaruh pada sikap.

Taktik sebagai komunitas tentu akan memancarkan kepercayaan dan keyakinan untuk mengembangkan tulisan. Hal ini sebagaimana tujuan dari Taktik Community, yaitu: 1) sebagai wadah untuk setiap penulis junior maupun senior untuk mengembangkan kretifitas dalam bidang kepenulisan; dan 2) sebagai wadah bagi penulis/jurnalis untuk saling diskusi dan bertukar pendapat terkait ilmu jurnalistik.

Urgensi Komunitas
Ustadz Salim A Fillah mengutip ungkapan dari Sa’id bin Jubair bahwa Rasulullah Saw. senantiasa membariskan pasukan sebelum berperang. Mereka ditata dengan rapih dan saling bertautan, sehingga tak ada celah bagi musuh untuk menembus shaff mereka.

“Sebagian mereka tidak dibiarkan bergantung pada sebagian yang lain, tapi setiap orang dalam kedudukannya memiliki pembagian kerja yang jelas dan dia berkonsentrasi penuh memenuhi tugasnya itu,” demikian tulis Ustadz Salim dalam “Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku”.

Berangkat dari semangat berjamaah, maka komunitas menjadi sesuatu yang penting untuk mencapai sebuah tujuan. Barisan yang tertata dengan rapih dan saling bertautan menjadi tanda kokokohannya. Pembagian kerja yang jelas menjadi tolok ukur kecantikan manajemen sebuah komunitas.

Oleh karena itu, dalam rangka dakwah bil-qalam dan perang melawan hoax, urgensi komunitas menjadi sangat jelas. Sebagaimana ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Kebaikan yang tak terorganisir akan terkalahkan dengan kejahatan yang terorganisir.”

Dari semua inilah saya memutuskan untuk belajar di Taktik Community. (*/ls)
_________________

Foto: Hendriyan Rayhan. (instagram)

Penulis adalah Hendriyan Rayhan (@he_rayhan) Ketua Taklim Jurnalistik (Taktik) Community Wilayah Jateng-DIY

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.