Jumat, 10 Juli 2020

Pilgub dan Politik Sektarian

Pilgub dan Politik Sektarian

Foto: Tony Rosyid. (ist)

Oleh: Tony Rosyid*

Jakarta, Swamedium.com — Orang Sunda lebih sreg pilih gubernur Jabar dari orang keturunan Sunda. Orang Jawa, Batak, dan Bugis juga punya kecenderungan yang sama. Itu alami dan wajar dalam sebuah demokrasi.

Orang Islam, Kristen, Hindu, umumnya juga lebih sreg pilih yang seagama. Tidak perlu heran jika di Papua gubernurnya selalu beragama Kristen, di Bali beragama Hindu dan di Sulawesi Selatan beragama Islam. Gak perlu marah dan sok rasional ketika memahami mengapa orang Jakarta lebih suka memilih gubernur yang seagama. Preferensi sosiologis, dimana seseorang cenderung memilih sesuai basis sosialnya, adalah lumrah dan manusiawi.

Di Amerika, Australia, dan sebagian negara Eropa seperti Perancis dan Inggris, kampanye anti Islam masih sexy. Kampanye model seperti ini masih dianggap efektif untuk menjaring suara masyarakat yang anti Islam. Jumlah mereka masih cukup banyak. Gak perlu heran, apalagi marah.

Orang kulit hitam lebih senang dipimpin sesama kulit hitam. Begitu juga kulit putih. Soal ini, Obama sudah mengkampanyekannya pada pilpres di Amerika. Begitulah politik identitas, melekat pada setiap orang.

Umumnya, setiap orang punya identitas lebih dari satu. Misal, orang Sunda, aktifis IPNU, lalu kuliah di UGM dan aktif di HMI. Keempat identitas ini tidak serta merta sama kuatnya. Satu dengan yang lain pasti beda ukuran dan tingkat emosionalnya. Mana yang paling kuat ikatan emosionalnya akan terlihat salah satunya ketika dihadapkan pada pilihan politik praktis. Misal, muncul empat calon dari Sunda, NU, HMI dan alumni UGM. Jika dia pilih calon dari NU, besar kemungkinan ikatan emosional ke-NU-annya lebih kuat dibanding dengan identitas yang lain. Dengan catatan, tidak ada varibel lain seperti money politik dan sejenisnya.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.