Monday, 14 October 2019

Ada Raja Ampat, Anyer dan Bromo di Vietnam

Ada Raja Ampat, Anyer dan Bromo di Vietnam

Foto, Kapal pesiar berjejer rapi siap membawa turis menikmati area wisata di Halong Bai Vietnam. (maida)

Jakarta, Swamedium.com – Vietnam menjadi salah satu destinasi wisata di Asia Tenggara yang mulai diminati oleh turis Barat maupun Asia. Tak hanya pertaniannya yang maju, pemerintahan Vietnam tampaknya juga mengelola sektor pariwisatanya dengan baik. Banyak tempat tujuan wisata eksotis yang menarik untuk dikunjungi di sini.

Selama sepekan berlibur di Vietnam, kami mengunjungi tiga kota, yaitu Hanoi (Ibukota Vietnam yang baru), ibukota Vietnam lama Saigon, yang nama barunya Ho Chi Minh City (HCMC) dan kota Mui Ne. Dari Jakarta, ada penerbangan langsung ke HCMC dengan maskapai Vietjet milik Vietnam atau bisa juga transit dulu di Kuala Lumpur.

Rombongan kami yang berjumlah 25 orang ini memilih penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur-Hanoi. Setelah menempuh penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur sekitar dua jam dan Kuala Lumpur-Hanoi hampir 3 jam, tibalah kami di No Bai International Airport, Hanoi.

Tempat wisata pertama yang kami kunjungi di Hanoi adalah Museum Ho Chi Minh yang di dalamnya bersemayam mumi dari jenasah Presiden Ho Chi Minh yang berkuasa 1945-1969. Ho Chi Minh adalah tokoh berpengaruh di Vietnam yang sangat dihormati rakyatnya. Dia meninggal di usia 79 tahun, sebelum akhir Perang Vietnam. Para ahli Rusia mengawetkan tubuhnya, yang hingga kini dapat dilihat di Museum Ho Chi Minh di Hanoi tersebut.

Tujuan wisata berikutnya adalah Halong Bai atau Teluk Halong yang sangat populer di kalangan pelancong di Vietnam. Teluk ini dikelilingi oleh bebatuan yang indah, pulau kapur yang memesona dan air yang jernih. Kami menggunakan cruise/kapal pesiar sembari menikmati santap siang menuju Thin Cung Cave atau dikenal sebagai Heaven Cave (gua surga). Panorama alam yang cantik dan jalanan di sepanjang lorong gua yang rapi dengan sorotan lampu-lampu yang terang membuat ukir-ukiran alam di gua ini tampak lebih indah.

Perahu di Teluk Halong ini bervariasi mulai dari perahu biasa hingga yang mewah. Pengunjung yang ingin mengunjungi Teluk Halong akan dikenakan tiket masuk dalam mata uang Vietnam Dong (VND) 150,000 atau sekitar Rp 100 ribu. Jika ingin masuk ke tempat lain di Halong, seperti Heaven Cave tadi, pengunjung harus membeli lagi tiket dengan harga kisaran VND 50,000 atau sekitar Rp 30 ribu.

Selain airnya yang jernih, udara yang sejuk. panorama gunung kapur di area Halong juga sangat indah. Menurut saya, agak mirip dengan area wisata Raja Ampat di Papua Barat. Menurut Thien, pemandu wisata kami yang asli Vietnam, Halong ini berbatasan dengan Provinsi Hainan, China. Airnya juga sangat bagus. Tak heran jika para gadis di sini memiliki kulit yang putih bersih. “Para gadis di sini lebih cantik alami dibanding wilayah lain karena airnya bagus,” kata Thien.

Foto. Meski pemerintahannya sosialis komunis, warga Vietnam beragama sehingga banyak tempat ibadah, termasuk masjid. (ist)

Puas seharian di Halong Bai, malam hari mengunjungi masjid An Nur yang dibangun tahun 1885 dan jalan-jalan menyusuri kota. Di Masjid An Nur ini bisa menonton pagelaran wayang air. Bagi muslim, di area masjid ini juga bisa ditemui restoran halal yang biasanya dimiliki oleh orang Malaysia atau India. Maklum makanan halal masih sulit ditemui di Hanoi.

Kota Hanoi yang menjadi pusat pemerintahan Vietnam ini, suasananya mirip dengan Legian, Bali. Turis Eropa kebetulan sedang banyak berlibur di sini. Meski tak sedingin di Eropa, saat kami berkunjung di Januari 2018, cuaca di Hanoi juga cukup dingin, yaitu antara 9 derajat sampai 13 derajat. Tak heran, orang-orang di sana tampak selalu mengenakan jaket dan sepatu sneakers atau boot layaknya fesyen musim dingin di Eropa.

Penampilan kaum milenial di Vietnam sangat fashinonable layaknya kaum muda di Korea. Kebetulan saat itu malam Minggu sehingga muda-mudi banyak yang menghabiskan akhir pekan dengan bergerombol di kafe-kafe yang banyak bertebaran di sepanjang jalan kota itu.

Foto. Berwisata bersama keluarga dan kerabat kei Vietnam menyenangkan karena tujuan wisatanya bervariasi. (maida)

Berkunjung di Ho Chi Minh

Setelah puas dua hari berkeliling di Hanoi, perjalanan dilanjutkan menuju kota Saigon atau Ho Chi Minh. Setelah dua jam perjalanan, kami mendarat di bandara internasional Tan So Nhat di Ho Chi Minh. Ibukota lama Vietnam ini jauh lebih ramai dibandingkan dengan Hanoi. Ho Chi Minh yang dihuni 10 juta orang ini adalah kota terbesar di Vietnam. Gedung-gedung tinggi dan pertokoan barang bermerek tampak berderet di pusat kota layaknya di area Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta.

Jalan-jalan tampak padat dengan kendaraan bermotor yang didominasi sepeda motor. Menurut pemandu wisata selama tur di Saigon, yang kami panggil Romeo, di negerinya satu orang punya sepeda motor lebih dari satu sehingga jumlah motor lebih banyak dari orangnya. Sedangkan pemilik mobil hanya sekitar 1 juta orang atau seper sepuluh dari jumlah penduduk karena pajaknya sangat tinggi. “Hanya orang-orang sangat kaya yang punya mobil di sni,” jelas Romeo.

Di Ho Chi Minh, kami mengunjungi War Remnants Museum. Museum ini lebih terkenal di kalangan turis Barat karena memang ada sisi kebrutalan masa perang yang coba disajikan oleh museum ini. Yang menjadi fokus di museum ini adalah dokumentasi kekejaman selama perang Amerika Serikat-Vietnam.

Bukan hanya dokumentasi kekejaman Amerika yang digambarkan oleh museum ini, namun segala kendaraan dan fasilitas perang yang digunakan pada masa lampau pun turut dipertontonkan, seperti halnya senjata infanteri, bom, artileri, dan kendaraan berlapis baja. Beberapa artifak juga ada di museum ini dan yang dipamerkan ke pengunjung adalah yang paling ikonik dari peralatan perang Perancis, yaitu ‘kandang harimau’ yang tidak memiliki perikemanusiaan sebab dulunya digunakan untuk tempat para komunis Vietnam yang dipenjara.

Ketika beralih ke lantai atas, ada Pameran Requiem dan memang sengaja diatur dengan sangat luar biasa rapi oleh Tim Page yang merupakan seorang fotografer perang legendaris. Koleksi pameran ini berisi karya-karya dari para fotografer yang terbunuh di medan perang atau selama masa konflik di masa lampau.

Kami juga sempat mengunjungi Notredame Catedral Basilica atau gereja peninggalan Prancis yang sempat menjajah Vietnam selama lebih dari 100 tahun. Gereja katedral yang selesai dibangun tahun 1886 ini, desain bangunannya terinspirasi dari Paris Cathedral. Bagian dekorasinya dihiasi lukisan-lukisan religius dan jendela yang berwarna-warni beserta pintunya. Namun interiornya kental akan gaya Vietnam, yaitu dominasi dua warna khas merah dan kuning. Tepat di depan katedral, berdiri dengan cantik sebuah patung Bunda Maria.

Meski pemerintahannya komunis yang atheis, warga Vietnam bebas memeluk agama. Menurut statistik resmi dari pemerintah yang dikutip Wikipedia, pada 2014 terdapat 24 juta orang dari 90 juta penduduknya yang teridentifikasi beragama. 11 juta orang diantaranya adalah penganut Buddha (12.2%), 6.2 juta adalah penganut Katolik (6.8%), 4.4 juta adalah penganut Caodai (4.8%), 1.4 juta adalah penganut Protestan (1.6%), 1.3 juta adalah penganut Hoahao (1.4%), dan terdapat 75,000 Muslim, 7,000 Bahai, 1,500 Hindu dan kelompok kecil lainnya (<1%). Selain gereja, di tengah kota Ho Chi Minh juga terdapat Masjid Jamal atau Masjid Dong Du. Kami pun menyempatkan diri untuk sholat Dhuhur sekaligus Ashar disitu. Masjid yang terletak di jalan Dong Du Street bersebelahan dengan Hotel Sheraton ini dibangun sekitar tahun 1935 oleh dan untuk muslim dari India selatan yang tinggal di Ho Chi Minh City (HCMC). Namun kini, masjid ini terbuka untuk semua muslim, termasuk muslim dari Indonesia, Malaysia dan lainnya. Lokasinya yang strategis di pusat bisnis kota HCMC membuat masjid ini menjadi tujuan utama bagi muslim di kawasan tersebut. Tak jauh dari masjid juga berjejer beberapa rumah makan halal yang dikelola oleh muslim dari Turki, Malaysia dan India. Di depan masjid ini bahkan berjejer pedagang yang menjajakan makanan halal. [caption id="attachment_52207" align="alignnone" width="300"] Foto. Souvenir khas Vietnam ini bisa dijadikan buah tangan untuk dibawa ke Indonesia. (ist)[/caption]

Puas berwisata sejarah, jangan lupa berbelanja di Pasar Be tham, semacam Pasar Tanah Abang di Jakarta. Barang-barang yang dijual di pasar rakyat ini berkualitas baik dan murah bila pandai tawar menawar. Sebuah koper atau tas merek Samsonite yang ditawarkan dalam mata uang Vietnam Dong (VND) 1,4 juta bisa didapatkan dengan harga VND 600 ribu atau kisaran Rp 400 ribu, hanya sepertiga dari penawaran. Namun jika tidak mau pusing menawar, sebaiknya beli ke toko di pasar itu juga yang penjaganya berseragam. Toko yang disediakan oleh pemerintah ini memberikan harga pas atau tidak ada tawar menawar. Harganya memang sedikit lebih mahal.

Kalau belum puas berbelanja di siang hari, pemerintah juga membuka pasar di malam hari atau night market untuk memfasilitasi turis yang tidak sempat belanja di siang hari. Pedagang dan barang-barangnya juga sama dengan yang dijual di Pasar Ben Tham.

Berbelanja di sini memang menyenangkan. Sebab selain murah, barangnya berkualitas bagus. Banyak juga barang-barang branded merek internasional seperti Zara, Mango, Guess hingga Long Champ asli buatan Vietnam dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan yang dijual di Jakarta.

Foto. Panorama padang pasir merah, Red Sand Dunes di Mue Ni. (maida)

Padang Pasir Mui Ne

Dari hotel di pusat kota Ho Chi Minh, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Mui Ne. Jaraknya cukup jauh karena butuh waktu sekitar 6 jam dengan bus. Namun jalanan yang mulus, tidak macet dan melintasi perkampungan yang banyak kemiripan dengan kampung di Indonesia membawa keasyikkan tersendiri. Tujuan kami ke Mui Ne adalah melihat matahari terbit dari gurun pasir.

Di Mui Ne ini terdapat sebuah gumuk pasir atau sand dunes yang memiliki beberapa warna, yakni merah dan putih, masing masing dipanggil sebagai Mui Ne Red Sand Dunes dan Mui Ne White Sand Dunes.

Di sana, kami menemukan keindahan lainnya berupa pantai, berbagai macam resor mewah dan banyak sekali tempat makan atau restoran. Sand dunes yang terdapat di Mui Ne ini berukuran cukup luas dan mungkin akan terlihat lebih seperti padang pasir. Dengan membayar VND 100 ribu per orang, kami berenam menyewa jeep menuju puncak padang pasir dan menikmati matahari terbit.

Meski di wisata Bromo, Jawa Timur bisa main ATV, namun padang pasirnya tidak seluas di Mue Ni sehingga namanya disebut pasir berbisik.

Pasir di sini berwarna putih dengan nama White Sand Dunes. Tak jauh dari lokasi ini, Anda juga bisa melihat padang pasir yang warnanya merah atau Red Sand Dunes. Di Red Sand Dunes banyak yang menawarkan sewa papan fiber glas buat main seluncuran atau tikar untuk sekedar duduk-duduk menikmati panorama alam. Namun kami memilih untuk mengambil foto panorama alamnya yang indah.

Menurut pengamatan saya, area wisata Mui Ne ini memiliki kemiripan dengan Pantai Anyer di Banten dan Langkawi. Malaysia. Banyak resor yang berderet di sepanjang pantai. Setelah puas bermain pasir dan menginap semalam di resor, kami kembali ke hotel di pusat kota Ho Chi Minh.

Dalam perjalanan pulang ini, kami sempat mampir ke kampung nelayan (Fisherman Village) di Mue Ni untuk melihat kehidupan nelayan tradisional di Vietnam yang sangat unik. Pantainya memang indah, tapi keunikan kehidupan di Fishing Village ini justru lebih menarik perhatian ketimbang keindahan pantainya sendiri.

Fishing Village adalah sebutan untuk sebuah kampung sangat ramai dengan aktivitas nelayan di sepanjang pantai di Mui Ne. Kehidupan di sini hampir sama dengan kehidupan di daerah pesisir lainnya. Para lelaki menangkap ikan di lautan, sedangkan para perempuan bekerja di darat, seperti mengupas kerang. Tapi bagaimana cara nelayan di Mui Ne menangkap ikan inilah yang membuatnya menjadi unik.

Nelayan-nelayan di Vietnam masih banyak yang mengandalkan perahu tradisional untuk menangkap ikan di laut. Setelah didekati, beberapa perahu yang digunakan nelayan ini berbentuk bulat seperti mangkuk yang mengapung di laut. Bagaimana cara kerja perahu bulat ini memecah ombak, pakai dayung atau mesin, saya juga tak paham. Berdasarkan pengamatan saya, sebagai negara serumpun, Vietnam banyak memiliki kemiripan budaya maupun panorama alam dengan Indonesia. (maida)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.