Tuesday, 21 May 2019

Persaudaraan Alumni 212 Desak Kriminalisasi dan Ketidakadilan terhadap Ulama Dihentikan

Persaudaraan Alumni 212 Desak Kriminalisasi dan Ketidakadilan terhadap Ulama Dihentikan

Foto: Musyawarah ulama, tokoh dan aktivis 212, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. (Dok. Forjim)

Jakarta, Swamedium.com – Musyawarah Nasional Persaudaraan Alumni 212 yang pertama, berharap Imam Besar Habib Rizieq Syihab bisa segera pulang ke Tanah Air. Sebab, keberadaannya di Indonesia sangat dibutuhkan untuk memperkuat dakwah dan syiar Islam di Indonesia.

“Kami mohon pada rezim yang sedang berkuasa sekarang agar segera memfasilitasi kepulangan Imam Besar HRS dan menghentikan kriminalisasi terhadapnya,” ujar Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212, Ustadz Slamet Maarif, Sabtu (27/1).

Mantan juru bicara FPI itu juga menyerukan, agar rezim penguasa saat ini dapat bersikap adil terhadap para ulama dan umat Islam. Sebab, di saat yang sama, para pelaku ujaran kebencian dan penghina ulama justru bebas berkeliaran di luar sana.

“Para penganjur kekerasan, bahkan pembunuhan terhadap umat Islam, seperti dilakukan oleh Victor Laiscodat dibiarkan berkeliaran, sementara para tokoh-tokoh seperti Buni Yani, Ustadz (Alfian) Tanjung diperlakukan sangat berbeda,” tutur Ustadz Slamet.

Selain itu, Persaudaraan Alumni 212 juga meminta pemerintahan Jokowi-JK tidak lagi melakukan kebohongan-kebohongan dan misteri destruktif antara rakyat dan penguasa, agar dapat ditemukan solusi bersama.

Untuk itu, Munas merekomendasikan bahwa dalam setiap kegiatan Persaudaraan Alumni 212 yang bersifat nasional, akan mengundang semua pimpinan nasional dan pihak-pihak terkait lainnya.

“Kami telah berketetapan, bilamana kami mengadakan kegiatan yang bersifat nasional, pimpinan nasional, para menteri terkait, kepolisian dan berbagai instansi negara penting lainnya akan kami undang untuk dapat menghadiri,” tandas Ustadz Slamet.

Tak hanya itu, Munas juga meminta pemerintah tidak sekadar hadir namun juga berkomitmen untuk tidak mengirimkan wakil, maksudnya jika yang diundang Presiden maka Presiden harus mau menghadiri undangan Persaudaraan Alumni 212.

“Tidak mengirimkan wakil. Kami akan tampil secara terbuka, tanpa rasa takut apa pun, untuk mendiskusikan masalah-masalah kebangsaan dengan pimpinan nasional langsung beserta seluruh jajarannya, sehingga bila kami nanti mengundang para tokoh penting itu, seyogyanya dapat hadir secara elegan dan tidak mengirimkan wakil,” tegasnya. (*/ls)

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)