Sunday, 15 December 2019

Infrastruktur Jadi Andalan, Mengapa Anggarannya Kalah Dari Bayar Utang?

Infrastruktur Jadi Andalan, Mengapa Anggarannya Kalah Dari Bayar Utang?

Foto. Proyek infrastruktur yang dibangga-banggakan Presiden Jokowi ternyata bujetnya jauh lebih kecil daripada untuk bayar utang. (ist)

Menurut Dradjad, masyarakat sering rancu membedakan antara utang pemerintah dan utang negara. Utang pemerintah adalah utang yang dilakukan pemerintah, sedangkan utang negara adalah utang pemerintah ditambah dengan utang korporasi, termasuk BUMN.

“Tolok ukurnya yang klasik dalam ekonomi makro adalah ‘rasio utang pemerintah terhadap PDB’. Istilahnya public-atau government-debt ratio(GDR),” kata dia.

Jika ukurannya GDR, kata Dradjad, posisi GDR tahun 2017 itu 29,2 persen atau sangat rendah. Bahkan, di antara negara G20, Indonesia adalah negara kedua yang paling rendah GDR-nya. “Yang paling rendah itu Rusia, hanya 12,6 persen pada tahun 2017,” ungkap anggota Dewan Kehormatan PAN ini.

Yang paling tinggi adalah Jepang (250,4 persen), Italia (131,5 persen), dan Amerika Serikat (105,4 persen).
GDR Indonesia juga masih jauh di bawah India (69,5 persen) dan China (46,2 persen).
Apakah aman? Dradjad mengatakan, ini agak lebih njlimet melihatnya. Aman itu artinya pemerintah mampu membayar utang yang jatuh tempo, baik pokok maupun bunganya.

“Sumbernya (untuk membayar–Red) ada tiga, yaitu aset dan tabungan pemerintah, penerimaan pemerintah, dan utang baru. Di Indonesia, penerimaan pemerintah ini dalam APBN disebut penerimaan negara, baik pajak maupun bukan pajak,” papar Dradjad.

Jepang dan AS dengan tingkat GDR yang supertinggi itu, kata Dradjad, tergolong masih aman. Hal ini karena, pertama, rasio penerimaan pajak Jepang terhadap PDB (rasio pajak) tinggi. Rasio pajak Jepang sekitar 36 persen dan AS 26 persen.

Kedua, investor dunia memiliki kepercayaan yang sangat tinggi kepada kedua negara ini sehingga cenderung terus membeli surat utang baru mereka. Padahal, bunga surat utang mereka relatif sangat rendah.

“Faktor kedua ini, yaitu kepercayaan, sangatlah krusial,” kata Dradjad. Jadi, GDR Jepang dan AS aman karena penerimaan pajaknya tinggi dan mereka dipercaya investor.

Pages: 1 2 3

Related posts

1 Comment

  1. Anonymous

    kebutuhan infrastruktur jelas makin menghadapi banyak tantangan, khususnya terkait dana, tapi itu untuk jangka kedepannya kan berguna banget looo…., hebat bukan disaat pemerintah mlaukan pembangunan guna kemerataan selain itu melakukan pelunasan ULN kita semangat terusss buat Indonesia

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.