Tuesday, 15 October 2019

PT Nindya Karya Jadi Tersangka Kasus Korupsi Pembangunan Dermaga Sabang

PT Nindya Karya Jadi Tersangka Kasus Korupsi Pembangunan Dermaga Sabang

Jakarta, Swamedium.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan BUMN PT Nindya Karya sebagai tersangka tindak pidana korupsi pembangunan Dermaga Bongkar di Sabang, Aceh pada kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang yang dibiayai menggunakan dana APBN. Selain PT Nindya Karya, KPK juga menetapkan status tersangka PT Tuah Sejati.

“Setelah KPK melakukan proses pengumpulan informasi dan data termasuk permintaan keterangan dari sejumlah pihak dan terpenuhi bukti permulaan yang cukup. Maka KPK melakukan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi dengan tersangka, PT NK dan PT TS,” kata Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarief di Gedung Dwiwarna KPK, Jumat (13/4).

Dua perusahaan itu diproses dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi pada pelaksanaan pembangunan Dermaga Bongkar di Sabang, Aceh pada kawasan Perdagangan Bebas dan pelabuhan bebas Sabang yang dibiayai APBN tahun anggaran 2006-2011.

“Penyidikan terhadap PT NK dan PT TS sebagai tersangka merupakan pengembangan dari penyidikan perkara dengan para tersangka sebelumnya,” tambah Laode.

PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati melalui Heru Sulaksono yang merupakan Kepala PT Nindya Karya cabang Sumatera Utara dan Aceh merangkap kuasa Nindya Sejati Joint Operation diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu perusahaan terkait pekerjaan pelaksanaan pembangunan dermaga bongkar pada Kawasan Perdagangan Bebas dan pelabuhan bebas Sabang, Aceh yang dibiayai APBN tahun anggaran 2006-2011 dengan nilai proyek sekitar Rp 793 miliar.

Rinciannya adalah pada 2004 senilai Rp 7 miliar (tidak dikerjakan pada 2004-2005 karena bencana tsunami Aceh tapi uang muka telah diterima sebesar Rp1,4 miliar), pada 2006 senilai Rp 8 miliar, pada 2007 senilai Rp 24 miliar, pada 2008 senilai Rp 124 miliar, pada 2009 senilai Rp 164 miliar, pada 2010 senilai Rp 180 miliar, dan pada 2011 senilai Rp 285 miliar.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.