Rabu, 04 Agustus 2021

5 Fakta Usai Beredarnya Rekaman Menteri Rini dan bos PLN

5 Fakta Usai Beredarnya Rekaman Menteri Rini dan bos PLN

Foto: Dirut PLN Sofyan Basir (kanan) bersama Presiden Jokowi dan Menteri BUMN Rini Sumarno. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno tengah disorot. Penyebabnya tak lain beredarnya percakapan dilakukan oleh Menteri Rini bersama Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, terkait pembagian saham atas proyek yang digarap oleh PLN bersama Pertamina.

Banner Iklan Swamedium

Dalam percakapan yang berdurasi sekitar 6 menit tersebut, keduanya juga menyebut nama Ari Soemarno, kakak kandung Rini. Sofyan dalam rekaman percakapan tersebut mengeluhkan jatah saham yang akan diterima oleh PLN lebih kecil dari yang seharusnya.

Kementerian BUMN menegaskan bahwa percakapan tersebut bukan membahas tentang ‘bagi-bagi fee’ sebagaimana yang dicoba digambarkan dalam penggalan rekaman suara tersebut. Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro mengatakan, memang benar bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir melakukan diskusi mengenai rencana investasi proyek penyediaan energi yang melibatkan PLN dan Pertamina.

Dalam diskusi tersebut, baik Menteri BUMN Rini Soemarno maupun Dirut PLN Sofyan Basir memiliki tujuan yang sama yaitu memastikan bahwa investasi tersebut memberikan manfaat maksimal bagi PLN dan negara, bukan sebaliknya untuk membebani PLN.

Percakapan utuh yang sebenarnya terjadi adalah membahas upaya Dirut PLN Sofyan Basir dalam memastikan bahwa sebagai syarat untuk PLN ikut serta dalam proyek tersebut adalah PLN harus mendapatkan porsi saham yang signifikan. Sehingga PLN memiliki kontrol dalam menilai kelayakannya, baik kelayakan terhadap PLN sebagai calon pengguna utama, maupun sebagai pemilik proyek itu sendiri.

Dalam perbincangan yang dilakukan pada tahun lalu itu pun Menteri Rini secara tegas mengungkapkan bahwa hal yang utama adalah BUMN dapat berperan maksimal dalam setiap proyek yang dikerjakan. Sehingga BUMN dapat mandiri dalam mengerjakan proyek dengan penguasaan teknologi dan keahlian yang mumpuni.

Proyek penyediaan energi ini pada akhirnya tidak terealisasi karena memang belum diyakini dapat memberikan keuntungan optimal, baik untuk Pertamina maupun PLN. “Kami tegaskan kembali bahwa pembicaraan utuh tersebut isinya sejalan dengan tugas Menteri BUMN untuk memastikan bahwa seluruh BUMN dijalankan dengan dasar Good Corporate Governance (GCG),” kata Iman.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dilansir merdeka.com berikut sejumlah fakta untuk pembaca.

1. Jokowi didesak segera usut kasus rekaman Menteri Rini
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman, ikut mengomentari soal rekaman Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Sumarno dengan bos Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir. Rekaman itu dikait-kaitkan dengan ‘bagi-bagi jatah’ proyek antar Pertamina dan PLN.

“Prinsipnya, saya kira persoalan Pertamina, PLN, persoalan sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak tentu harus bener-benar dikelola dengan penuh profesionalisme. Jangan basisnya itu adalah nepotisme dan sebagainya,” kata Sohibul Iman usai kampanye untuk Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Bekasi.

Dalam rekaman yang beredar, Sohibul menangkap bahwa ada semacam upaya pengelolaan lebih mengutamakan salah satu pihak. Oleh karena itu, dia menilai perilaku tersebut tidak profesional dan etis. “Saya kira ini benar-benar disetop. Dan saya kira kalau Pak Jokowi melihat ini sebagai sebuah persoalan besar, saya kira ini harus diusut,” kata dia.

2. Menteri Rini duga ada pihak yang tidak suka
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, menduga viralnya rekaman suara antara dirinya dengan Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero) Sofyan Basir karena adanya kalangan yang tak suka dengan kesolidan BUMN yang tengah dibangunnya. Menteri Rini mengaku nama baiknya telah tercoreng dengan adanya rekaman tersebut.

“Ya sudah, mungkin memang ada orang yang tidak happy kepada kita. Karena saya terus tekankan bahwa kita one nation, one spirit, one family,” kata Menteri Rini.

Dijelaskannya, konteks utuh dari pembicaraan itu sebenarnya mengenai rencana PLN dan Pertamina menjadi offtaker dari salah satu proyek storage gas. Disitu, Menteri Rini menginstruksikan kepada PLN dan Pertamina untuk memiliki saham dari proyek tersebut. Dengan begitu, dua BUMN bisa memperoleh keuntungan.

Namun dari rekaman viral tersebut seolah-olah Menteri Rini dan Sofyan yang memiliki kepentingan pribadi untuk bisa mendapatkan fee dari proyek tersebut. Dia menjelaskan rekaman tersebut dibuat tidak lengkap, tidak dalam pembicaraan utuh.

“Iya, dipotong-potong bikinnya. Sepertinya Pak Sofyan yang minta dan saya yang minta padahal kita selalu jelaskan kita selalu berjuang untuk BUMN bagaimana BUMN agar lebih baik ke depan sehingga bumn bisa survive 100 tahun ke depan itu komitmen kita sebagai seluruh direksi BUMN,” tuturnya.

3. Menteri Rini dan bos PLN bersama membawa kasus ke jalur hukum
Menteri Rini dan Sofyan Basir berencana akan menempuh jalur hukum. “Iya kita mau coba jalur hukum. Jadi sekarang terus terang dari Pak Sofyan Basir juga akan melakukan (menempuh jalur hukum). Saya bilang saya juga akan melakukan (menempuh jalur hukum). Karena itu juga bicarakan nama baik saya sebagai keluarga, jadi ya saya juga akan mulai jalur hukum,” tegas Menteri Rini.

Sementara itu, terkait dengan penyebaran dan pengeditan rekaman pembicaraan yang jelas dilakukan dengan tujuan untuk menyebarkan informasi yang salah dan menyesatkan kepada masyarakat, Kementerian BUMN akan mengambil upaya hukum untuk mengungkap pembuat serta penyebar informasi menyesatkan tersebut.

4. DPR segera panggil Menteri Rini dan bos PLN
Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana memanggil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir untuk mengklarifikasi beredarnya rekaman yang diduga pembicaraan soal bagi-bagi jatah (fee) pada proyek penyediaan energi. Pemanggilan segera dilakukan setelah masa reses berakhir.

“Setelah reses Komisi VI akan memanggil Dirut PLN dan Menteri BUMN untuk meminta klarifikasi rekaman tersebut,” kata Wakil Ketua Komisi VI DPR Inas Nasrullah.

Menurut Inas, akan sulit mendapat penjelasan terkait masalah ini dari tingkat direksi. Maka dari itu, Komisi VI memilih langsung memanggil Menteri Rini dan Sofyan untuk memberi penjelasan.

“Tidak akan ada yang berani mengeluh, karena mengeluh berarti dipecat,” ucap Anggota DPR dari Fraksi Partai Hanura tersebut.

5. Menteri Rini dituding membangkang perintah Presiden Jokowi
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menilai percakapan pembagian saham antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dengan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basyir melanggar perintah Presiden Jokowi. Dalam rekaman tersebut, keduanya membahas soal bagi-bagi saham atas proyek yang digarap oleh PLN bersama Pertamina.

Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan, di awal pembentukan kabinet kerja, Presiden Jokowi telah mengingatkan agar jajaran menterinya tidak mencampuradukkan urusan negara dengan keluarga.

“Saya ingat apa yang dikatakan Pak Jokowi ketika menyiapkan pembentukan menteri. Dia mengatakan bagaimana seluruh menteri harus bekerja keras mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dan tidak boleh ada campur tangan keluarga,” ujar Hasto.

Dalam rekaman percakapan itu, nama kakak Menteri Rini, Ari Soemarno sempat disebut beberapa kali. Menurut Hasto, sebagai menteri tidak seharusnya Rini Soemarno melanggar perintah Presiden Jokowi.

“Seharusnya perintah dari bapak Jokowi terlebih dari menteri BUMN, untuk tidak libatkan keluarga itu sudah seharusnya dipatuhi sebagai sebuah perintah untuk menjadikan BUMN betul-betul sebagai BUMN,” ucapnya.

“Ketika di rekaman disebutkan nama keluarga beliau tentu saja ini hal yang bagi kami tidak sesuai perintah pak presiden,” sambung Hasto. (*/ls)

Sumber: Merdeka

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita