Rabu, 04 Agustus 2021

Tahun Politik, Momen Bersatunya Umat Islam dalam Memilih Pemimpin

Tahun Politik, Momen Bersatunya Umat Islam dalam Memilih Pemimpin

Foto: Don Zakiyamani. (Dok. Pribadi)

Jakarta, Swamedium.com – Tahun 2018 sampai 2019 merupakan tahun politik bagi bangsa Indonesia. Nyaris tak ada ruang pembicaraan yang tak membicarakan politik. Bukan hanya politisi, semua lapisan masyarakat dari berbagai profesi, suku, dan agama larut dalam perbincangan politik. Bukan hanya masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan pun bicara soal politik.

Banner Iklan Swamedium

“Kabar gembira itu harus diikuti kewaspadaan pula, terutama umat Islam sebagai mayoritas. Umat Islam harus bersatu, tidak boleh terkotak-kotak dalam siklus permainan politik. Umat Islam wajib paham politik karena melalui politik lahir pemimpin dan produk hukum yang berimplikasi pada kepentingan orang banyak termasuk umat Islam,” kata Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI), Don Zakiyamani melalui rilisnya, Senin (30/4).

JIMI mengimbau umat Islam agar tidak terpecah, terhasut, apalagi dengki pada ulama. Umat Islam harus lebih rajin melakukan shalat jamaah di masjid agar tidak mudah dikotak-kotakan. “Shalat jamaah bukan sebatas ritual ibadah akan tetapi konsolidasi umat Islam, sehari 5 kali,” ujar Don.

JIMI yakin dengan shalat berjamaah persatuan umat Islam akan terwujud dan kemenangan akan diraih sebagaimana panggilan Adzan.

Lebih lanjut, kata Don, JIMI menilai ada kelompok yang ingin mengkotak-kotakan umat Islam ditahun politik ini. Mereka sepertinya paham umat Islam merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia. Melalui umat Islam bangsa ini berhasil mengusir penjajah sehingga umat Islam di Indonesia bisa pula mengusir kelompok kapitalis yang sedang berusaha mengambil SDA. “Target mengkotak-kotakan umat Islam akan berimplikasi pada keutuhan bangsa Indonesia. Bila umat Islam mampu dikotak-kotakan maka bangsa Indonesia akan menjadi lemah,” tukas Don.

Menurut pria penyuka kopi ini, mereka yang ingin mengkotak-kotakan umat Islam, memfasilitasi provokator yang terus berusaha memojokkan umat Islam sehingga akan ada umat Islam yang malah membenci umat Islam sendiri. “Karenanya tahun politik harus dijadikan momen bersatunya umat Islam dalam memilih pemimpin yang sesuai kriteria Islam dan Pancasila,” tandasnya.

JIMI menilai belakangan ini semakin banyak isu yang mendiskreditkan umat Islam. Kebangkitan dan kesadaran umat Islam dalam politik dicurigai sebagai radikalisme, umat Islam di Indonesia dicurigai akan mengganti Pancasila dengan syariat Islam. Padahal bila umat Islam arogan dan egois, sejak republik ini hadir bisa saja hal itu dilakukan namun umat Islam sangat toleran dan mengedepankan kepentingan umum. “Tuduhan dan fitnah serta kecurigaan yang tanpa fakta itu harus dihadapi umat Islam dengan persatuan,” kata Don.

Untuk itu, JIMI meminta umat Islam harus lebih aktif dalam urusan negara, terlibat langsung dalam momen politik sehingga tidak selalu dipolitisir. “Jangan mau dijadikan ‘tumbal’ politik, saatnya kembali ke mesjid dan rapatkan shaf,” tegas Don.

JIMI yakin gerakan kembali ke masjid dan konsolidasi setiap hari akan memperkuat persatuan umat. Tahun politik akan dilalui umat Islam Indonesia dengan kemenangan gemilang. “Kemenangan bangsa Indonesia dengan memilih pemimpin yang mencintai rakyatnya bukan pemimpin yang patuh pada kekuatan asing dan kapitalisme,” pungkasnya. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita