Kamis, 05 Agustus 2021

Refleksi 20 Tahun Reformasi

Refleksi 20 Tahun Reformasi

Jakarta, Swamedium.com – Hari ini 20 tahun silam, empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta Barat gugur ditembak aparat keamanan dan puluhan lainnya luka-luka akibat dipukul serta diterjang peluru saat berunjuk rasa menuntut reformasi. Tragedi berdarah 12 Mei 1998 di depan Kampus Trisakti, titik penting dalam sejarah menumbangkan pemerintah otoriter Orde Baru.

Banner Iklan Swamedium

Empat mahasiswa Trisakti yang gugur adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka mengorbankan nyawa demi mewujudkan demokrasi yangdikekang penguasa Orde Baru Soeharto dengan berbagai jargon. Kelak keempat aktivis itu dikenal sebagai Pahlawan Reformasi.

Tapi, dua dasawarsa berlalu peristiwa itu meninggalkan noda hitam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang sampai kini belum tuntas diungkap; siapa pelaku dan dalang di balik pembunuhan, penculikan aktivis reformasi? Kapan mereka diadili?

Aksi demo menumbangkan Soeharto yang sudah 31 menguasai Indonesia dengan membungkam suara-suara kritis dan membelenggu pers dimulai dari daerah-daerah. Para aktivis dan mahasiswa di Jakarta juga tak diam, mereka turun ke jalan menuntut perubahan untuk Indonesia tercinta.

Pada 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa Trisakti berunjuk rasa di depan kampusnya. Sekira pukul 11.00 WIB, demo makin panas. Mereka memblokir ruas jalan depan kampus. Gemuruh yel-yel dan teriakan revolusi mewarnai demo. Polisi dan serdadu dikerahkan untuk mengawal aksi massa.

Mengenang korban Tragedi Trisakti (Antara)

Suasana makin panas. Mahasiswa tak mau mundur selangkah pun meski yang dihadapinya wajah-wajah sangar alat-alat negara yang bersenjata. Negosiasi pun dilakukan dengan aparat. Akhirnya mahasiswa memilih mundur hingga masuk ke dalam kampus.

Namun, tiba-tiba suara tembakan terdengar dari seberang jalan depan kampus Trisakti. Tembakan aparat berseragam diarahkan ke mahasiswa secara membabi buta. Mahasiswa juga diserang dengan pukulan dan tendangan.

“Pas lagi jalan mundur ke gerbang jarak 5 sampai 10 menit ditembakin oleh mereka yang berseragam, kondisi kacau balau. Mahasiswa balas lempar batu, ditembakin membabi buta, rusuh sekitar 20 menit,” kenang Haris Azhar, mahasiswa Universitas Trisakti kala itu.

“15 menit kemudian dapat kabar ada yang ketembak, yang luka banyak, yang meninggal empat, sampai saat ini para saksi mata juga masih hidup,” ujar Haris yang kini konsen memperjuangkan isu-isu HAM.

Bentrokan antara pihak jajaran aparat berseragam dengan mahasiswa tersebut akhirnya mereda setelah selang hampir sekira setengah jam. Para korban yang terkena tembak dan pukul dibawa ke rumah sakit. Tiga di antaranya meninggal di tempat, satu lagi saat dibawa ke RS.

Mereka tewas tertembak di dalam kampusnya usai terkena peluru tajam di bagian kepala, tenggorokan, dan dada.

Menuntut penuntasan pelanggaran HAM Tragedi Trisakti (Antara)

Penembakan terhadap aktivis mahasiswa itu ternyata mengundang kemarahan rakyat. Pemerintah dikecam. Perlawanan terhadap Soeharto makin menjadi-jadi di Jakarta dan berbagai daerah. Hingga akhirnya, rakyat yang dimotori aktivis dan mahasiswa berkumpul di Ibu Kota menggelar demo besar-besaran menuntut reformasi total; bersihkan Indonesia dari rezim Orde Baru dan antek-anteknya yang telah menjerumuskan negara ini dalam belenggu korupsi, kolusi dan nepotisme.

Meski dihadang sana-sini dan diserang oleh aparat, rakyat akhirnya menguasai Gedung DPR/MPR dan sukses memaksa Soeharto lengser dari Presiden. Pada 21 Mei 1998, sang penguasa bertangan besi itu akhirnya membacakan pidato pengunduran dirinya. (*/ls)

Sumber: Okezone

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita