Kamis, 05 Agustus 2021

Nakba Day dan Harapan Pulang Rakyat Palestina

Nakba Day dan Harapan Pulang Rakyat Palestina

Gaza, Swamedium.com – Tentang Hari Nakba di bulan Mei ini, jutaan warga Gaza sedang menunggu puncak hari itu tiba. Namun, ketika ditanyakan ke sebagian besar masyarakat Indonesia, bisa dipastikan dengan sedikit mengerut, banyak yang tak mengetahui apa itu Hari Nakba.

Banner Iklan Swamedium

Sepanjang Mei ini, yang umumnya diketahui oleh rakyat Indonesia mungkin hanya Hari Buruh 1 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei esok. Padahal, di belahan dunia lain, di tanah Gaza, Yerusalem, dan Tepi Barat sedang terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pelanggaran terjadi terhadap rakyat Palestina yang kehilangan tanah mereka sejak tahun 1948.

Apa itu Nakba Day?

Hari Nakba punya arti “hari kehancuran”, “hari bencana”, atau “hari malapetaka”. Hari Nakba diperingati sebagai kenangan buruk tentang pengusiran bangsa Palestina yang kemudian mendorong terbentuknya negara Israel pada 1948.

Istilah “Nakba” merujuk pada periode perang dan kejadian-kejadian yang menimpa warga Palestina sejak Desember 1947 sampai Januari 1949. Di tahun-tahun itu, Nakba Day menyebabkan lebih dari 700 ribu warga Palestina meninggalkan tanah dan rumah mereka. Namun kini, sepanjang puluhan tahun berlalu, jumlah penduduk Palestina yang terusir dan mengungsi dari tanah mereka telah mencapai angka jutaan jiwa. Angka tersebut masih dianggap sebagai pengungsian paling besar dalam krisis kemanusiaan apapun.

Untuk memperingati kejadian tersebut, setiap tanggal 15 Mei rakyat Palestina melakukan demonstrasi menuntut tanah air mereka dikembalikan. Mereka menuntut keluarga dan saudara mereka dikembalikan ke tanah air. Warga Palestina menuntut dunia agar tahu, bahwa Israel telah sebenar-benarnya menjajah sejak tahun 1948 silam.

Pengusiran rakyat Palestina dari tanah mereka juga tidak luput dari peristiwa berdarah. Pada 9 April 1948, 35 hari sebelum berdirinya negara Israel, terjadi pembantaian mengerikan di Desa Deir Yassin. Tiga gerombolan teroris Zionis Israel, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang desa yang terletak di sebelah barat Baitul Maqdis atau Yerusalem. Catatan kelam itu, 107 yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak tewas secara keji. Desa ini kemudian diambil alih oleh Israel dan dinyatakan sebagai wilayah mereka. Bagi rakyat Palestina, Deir Yassin adalah simbol hilangnya tanah kampung halamannya.

Pada 18 April 1948 juga terjadi teror yang sama seperti Desa Deir Yassin yang menimpa warga Palestina Tiberius. Pembantaian dan penangkapan dilakukan, menyebabkan 5.500 orang rakyat Palestina harus meninggalkan tanah mereka.

Tindakan serupa juga terjadi terhadap kota Jaffa pada 22 April 1948 yang menyebabkan 750.000 warga Palestina harus mengungsi dan meninggalkan tanah air mereka.

Hingga akhirnya negara Israel berdiri pada 1948, mengakibatkan pembersihan hampir sejuta masyarakat Palestina dan menghancurkan lebih dari 500 desa. Selama fase Nakba ini, Zionis Israel telah mengambil alih secara paksa 774 desa dan kota, menghancurkan 531 desa dan kota Palestina, lebih dari 70 kejadian pembantaian rakyat Palestina yang menyebabkan kematian lebih dari 15 ribu warga Palestina selama Nakba. Dari jumlah itu, hanya dalam periode beberapa pekan saja, sekitar 800 ribu warga Palestina mengungsi dari tanah dan rumah mereka sendiri.

“Orang-orang di desa kami ketakutan dan mereka mendesak kami untuk pergi. Ibu saya takut dengan berita pembantaian Deir Yassin dan Jafa, jadi dia memutuskan untuk melarikan diri bersama anak-anaknya. Desa itu diserang dengan artileri dan senapan mesin. 85 orang tewas dalam pembantaian itu,” ujar salah seorang pengungsi Palestina yang diwawancarai oleh Al Jazeera.

UNRWA (United Nations Relief And Works Agency) menyebutkan pengungsi Palestina tersebar di beberapa negara seperti Suriah, Lebanon, Yordania. UNRWA menyebutkan jumlah pengungsi Palestina sampai 2018 berkembang dari sekitar 700.000 menjadi 5,3 juta orang, lewat pertumbuhan alami dan gelombang pengungsi kedua, seusai Perang Enam Hari tahun 1967. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan alami dan konflik di Palestina yang tidak pernah usai.

Samīch al-Qāsim, seorang penyair Palestina, dalam puisinya yang berjudul ‘al-Qashīdah an-Nāqishah’, menggambarkan Nakba sebagai sebuah invasi Israel atas rakyat Palestina. Negara yang digambarkan seperti surga dengan ketenangan dan keadaan alam yang indah menjadi kacau ketika Israel mengambil paksa dan menghancurkan Palestina.

“Sebelum Israel mengambil tanah kami, kami hidup aman dan bahagia di pertanian kami. Rumah kami indah dan tanah kami hijau, kami memanen apel, aprikot, persik, zaitun, sayuran. Itu adalah hari terindah,” ungkap pengungsi lainnya.

Namun, warga Palestina tidak pernah menyerah atas penindasan yang dilakukan oleh Israel terhadap mereka. Harapan untuk pulang kembali ke tanah milik mereka terus dipancangkan. Demonstrasi dan bentuk perlawanan terus dilakukan. Mereka menyuarakan pengembalian hak milik mereka yang telah lama dijajah oleh Israel.

“Saya lebih suka tetap sebagai ‘pengungsi’ dan berjuang untuk kembali daripada dimukimkan kembali. Itu seperti seseorang mencuri warisan Anda. Saya lebih baik bertarung daripada kehilangan warisan itu,” terang salah seorang pengungsi Palestina.

Tahun ini, peringatan Hari Nakba kembali dilakukan pada 15 Mei 2018. Sebelumnya, rakyat Pelestina telah melakukan The Great March of Return atau Al-Awdah March yang berlangsung berturut-turut sejak 30 Maret 2018.

Protes dimulai enam pekan lalu, dilakukan di sepanjang pagar perbatasan antara Gaza dan Israel, di wilayah Khan Younis, Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan The Great March of Return telah menyebabkan 49 orang tewas dan sedikitnya 8.500 orang terluka sampai dengan 13 Mei 2018.

Puncak dari gerakan ini yaitu peringatan Hari “Nakba” yang jatuh pada 15 Mei 2018 esok. Puncak protes akan menjadi titik klimaks, agar warga dunia tahu, harapan warga Palestina untuk kembali mendapatkan hak milik atas tanah mereka.

“Rakyat Palestina akan melanjutkan perjuangannya dan tidak akan meninggalkan hak mereka untuk sebuah negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya,” ujar Mohamed Alyan selaku Koordinator Komite Nasional untuk Peringatan Nakba, mengutip laman Republika.

Tinggal menunggu hari, momentum permulaan Ramadan tahun 2018 di Gaza akan ditandai pula dengan klimaks di Nakba Day 15 Mei esok. Sesuai amanah Undang-Undang Dasar 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Tak ada ikhtiar lain, doa dan dukungan penuh dari Indonesia tak boleh surut, Insya Allah kemerdekaan untuk Palestina. (*/ls)

Sumber: act.id

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita