Kamis, 05 Agustus 2021

Disaksikan Kapolri, Din Syamsuddin Blak-blakan Bicara soal Terorisme

Disaksikan Kapolri, Din Syamsuddin Blak-blakan Bicara soal Terorisme

Jakarta, Swamedium.com — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Prof Din Syamsudin di Indonesia Lawyer Club (ILC) , Selasa (15/5) lalu menjelaskan soal terorisme dengan terbuka dan blak-blakan.

Banner Iklan Swamedium

Din menegaskan, terorisme bukan semata aksi kriminal luar biasa, tetapi ada dimensi intelijen, politik, dan ekonomi. Termasuk faktor geopolitik global.

Dia mengaku menonton video Hillary Clinton saat kampanye Pilpres AS, yang mengakui ISIS itu ciptaan Amerika.

“Jadi, ISIS itu bukan Islam. Itu yang saya sebut self crime islamic terrorism, diklaim tapi sebenarnya ada pemain-pemain,” kata Din, disambut tepuk tangan peserta ILC.

Karena itu, dia usul, dalam masalah terorisme, berikan juga perhatian pada faktor non-ideologi. Sebab, tambahnya, tanpa sentuhan faktor ekonomi, politik, dan intelijen, faktor ideologi saja tidak cukup menyebabkan munculnya terorisme.

Terakhir, Din berharap, kasus terorisme ini membuat sesama anak bangsa saling meneror hanya karena berbeda ormas, agama, partai, dan profesi.

Itu diungkapkannya, sebab menurutnya, sekarang ini terjadi saling teror di antara anak bangsa hanya karena perbedaan pandangan dalam menyikapi sesuatu, termasuk kasus terorisme.

Untuk mengatasi terorisme, Din mengusulkan, selain pendekatan law enforcement, juga mesti dilakukan melalui pendekatan kultural.

“Sejak tahun 2003, ormas-ormas bersama MUI sudah meminta ke Polri, ‘jangan mengaitkan terorisme dengan Islam’. Mungkinkah Polri menggunakan istilah lain, seperti kelompok pengacau keamanan. Karena, ketika Polri mengaitkan terorisme dengan Islam, maka itu jelas menyinggung perasaan umat Islam yang jelas-jelas tidak memiliki pemahaman radikal. Inilah salah satu cara dengan pendekatan kultural,” tegas Din dengan lugas, seraya diperhatikan Kapolri Jend. Pol. Tito Karnavian yang juga hadir malam itu.

Dia menyebut, ormas-ormas Islam sudah sejak lama meminta data ke kepolisian, berapa dan siapa saja orang-orang yang disebut pulang dari Suriah. Jika data itu diketahui ormas Islam, maka ormas bisa ikut memantau. “Tapi kita tidak tahu,” tegasnya.

“Pernah disebut jumlahnya seribu orang. Lantas, saya pernah usul ke Kapolri (Dai Bachtiar), bagaimana jika kita mengumpulkan mereka, untuk kita bicarakan bersama agar mereka bisa diselesaikan secara Indonesia, tidak dikejar-kejar. Tapi, ketika itu, usulan saya kandas karena data mereka yang pulang dari Suriah tak pernah diberikan ke kita. Jadi, kalau mau bekerjasama dengan ormas, berilah mereka data. Si ini ada di kampung ini, sehingga yang bersangkutan bisa dipantau,” jelas Din.

“Mohon maaf, umat Islam Indonesia sudah kenyang dengan perekayasaan seperti Komando Jihad. Dan ada lagi kejadian lain serupa. Saya termasuk yang geram dan gusar juga, seraya bertanya, mengapa teror terjadi dan terjadi lagi. Kita dukung Polri, negara, namun mungkinkah mempertimbangkan suara-suara dari masyarakat,” pungkas Din. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita