Kamis, 05 Agustus 2021

Tarawih dengan 4 rakaat – 4 rakaat Bidah?

Tarawih dengan 4 rakaat – 4 rakaat Bidah?

Foto: Shalat Tarawih. (ilustrasi/ist)

Oleh: Ustadz Jeje Zaenudin Abu Himam)

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Shalat malam di bulan Ramadhan disebut juga dengan Tarawih yang berarti tenang, santai atau istirahat. Dinamakan demikian karena pelaksanaan shalat malam di bulan Ramadhan pada masa generasi shahabat dan tabiin lebih lama dan lebih tenang dibanding bulan-bulan lainnya. Mereka kerap beristirahat dan diselingi doa setiap kali selesai mengerjakan empat rakaat sebelum dilanjutkan pada rakaat berikutnya.

Terjadi ikhtilaf di kalangan para fuqaha tentang pelaksanaan shalat malam di bulan Ramadhan. Yaitu seputar jumlah rakaat dan tatacara pelaksanaannya. Namun demikian, dalil-dalil yang disepakati kesahihannya oleh seluruh madzhab Ahlussunnah menunjukan bahwa shalat malam Rasulullah keumumannya adalah sebelas rokaat.

Tatacara yang ditempuh Rasulullah adakalanya dua rakaat-dua rakaat yang diakhiri dengan satu rakaat witir, dan terkadang dengan empat rakaat-empat rakaat yang ditutup tiga rakaat witir. Waktu yang diutamakan Rasulullah melaksanakan shalat malam adalah pada sepertiga akhir malam, atau sekitar pukul dua dini hari hingga menjelang subuh. Beberapa hadits menunjukan bahwa boleh saja, dan bahkan Rasulullah sendiri pernah, melaksanakan shalat malam pada awal dan tengah malam.

Oleh sebab itu, perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini bukan perbedaan yang bersifat pertentangan (ikhtilaf tadhâdhu) melaikan perbedaan yang bersifat keragaman (ikhtilaf tanawwu), yaitu menyangkut jumlah, tatacara, dan waktu mana yang lebih utama untuk dilakukan. Adalah berlebihan jika menghukumkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini sebagai sesuatu yang bidah.

Belakangan ini, terjadi keributan di beberapa mesjid hanya karena kebiasaan yang sudah dipraktekan dalam melaksanakan shalat taraweh dengan 4 rakaat-4 rakaat dan 3 rakaat witir dituduh sebagai tatacara yang bidah sehingga dipaksakan harus melaksanakan dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat dengan ditutup witir satu rakaat.

Masalah ini perlu dijernihkan agar tidak terjadi fitnah yang lebih buruk di internal maupun antar sesama jamaah. Untuk itu saya kemukakan uraian yang agak panjang terkait masalah ini sebagi berikut:

Mengenai keterangan shalat Taraweh/Qiyamu Ramadhan dengan empat rakaat-empat rakaat kemudian diakhiri witir dengan tiga rakaat, sudah sangat jelas keberadaannya. Bahkan termasuk di antara hadits shahih muttafaq alaih yang tidak ada sedikitpun keraguan dan perselisihan atas kesahihannya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukharه dari Aisyah radhiyallahu anha:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Malik dari Sa’id Al Maqbariy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim No. 1219; Imam Abu Dawud No. 1143; Imam Nasai No.1679; dan Imam Malik dalam Muwatha No. 243. Penomoran Hadits berdasar Ensiklopedi Hadits Lidwa Pusaka)

Hadits di atas dengan tegas menyatakan bahwa Rasulullah shalat malam di bulan Ramadhan dengan 4 rakaat 4 rakaat dan 3 rakaat witir.

Adapun bahwa shalat malam itu dilakukan dengan dua-dua, itupun ada hadits yang juga sahih. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhary juga dalam Bab Shalat Witir:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَام صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dan ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu ‘Umar, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim No. 1239; Imam Abu Dawud No. 1103; Tirmidzi No. 401; Imam Nasai No.1649; dan Imam Ibnu Majah No. 1213)

Karena ada dua hadits di atas, memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama, sebagian ulama berpendapat bahwa yang paling utama shalat malam itu dua-dua. Sebagian lain menyatakan yang lebih utama itu dengan empat-empat satu salam. Sebagaimana terbaca dari beberapa kitab Syarah ketika menjelaskan hadits di atas:

Muhammad Syamsulhaq Al Adhim Abadi, Pengarang Kitab Aunul Ma’bud mengatakan,

قال الشافعي: إن الأفضل في صلاة الليل والنهار مثنى مثنى. وقال أبو حنيفة رحمه الله الأفضل فيهما أربع أربع، وقال صاحباه في الليل مثنى وفي النهار رباع. والأخبار وردت على أنحاء فكل أخذ بما يترجح عنده. ومما يوافق مذهب أبي حنيفة ما ورد عن عائشة رضي الله عنها “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى أربع ركعات لا يفصل بينهن بسلام” رواه أبو يعلى الموصلي في مسنده، وما في مسلم من حديث معاذة: “أنها سألت عائشة كم كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى قالت أربع ركعات” الحديث وما في الصحيحين من حديث عائشة في بيان صلاة الليل: “يصلي أربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم أربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن” الحديث. فهذا الفصل يفيد المراد، وإلا لقالت ثمانياً فلا تسأل. كذا ذكره ابن الهمام في فتح القدير شرح الهداية.

“Berkata Imam Syafii, ‘Sesungguhnya yang lebih utama pada shalat (sunat) malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat. Abu Hanifah mengatakan, Yang utama pada shalat (sunat) siang dan malam adalah empat-empat. Kedua shahabat Abu Hanifah berkata, Kalau malam (utamanya) dua-dua, kalau siang (utamanya) empat-empat. Sedang khabar (keterangan tentang shalat malam) datang dengan bermacam-macam, maka setiap orang mengambil pendapat apa yang menurutnya rajih (pendapat yang kuat).

Di antara keterangan yang cocok dengan pendapat Abu Hanifah adalah riwayat yang datang dari Aisyah, Rasulullah shalat dhuha empat rakaat tanpa dipisahkan dengan salam. Diriwayatkan oleh Abu Yala al Maushuli dalam Musnadnya. Demikian juga riwayat Imam Muslim dari hadits Muaz, beliau bertanya kepada Aisyah berapa rakaat Rasulullah shalat dhuha? Aisyah menjawab, Empat rakaat!.

Demikian pula yang terdapat dalam dua kitab shahih (Bukhary-Muslim) dari Aisyah dalam penjelasan shalat malam, Nabi shalat empat rakaat maka jangan kamu tanya bagus dan lamanya, kemudian beliau shalat empat rakaat jangan kamu tanya bagus dan panjangnya.. maka pemisahan ini (yaitu dengan empat-empat) memberi faidah yang dimaksud (tatacaranya) sebab jika tidak demikian tentu Aisyah akan mengatakan, Rasulullah shalat delapan rakaat, jangan kamu tanya bagus dan lamanya… Demikianlah penjelasan Ibnul Hammam dalam Fathul Qadir Syarah Al Hidayah(Lihat Aunul Mabud Syarah Sunan Abu Dawud, 4: 145-146)

Pada halaman yang lain, pengarang Aunul Mabud mengatakan,

“يصلي أربعاً” : أي أربع ركعات. وأما ما سبق من أنه كان يصلي مثنى مثنى ثم واحدة فمحمول على وقت آخر، فالأمران جائزان

“(Nabi) shalat empat… ”: yaitu empat rakaat. Adapun hadits terdahulu bahwasanya Nabi shalat dua rakaat-dua rakaat kemudian satu rakaat, maka dibawa (pengertiannya kepada kemungkinan) pada waktu yang lain. Dengan demikian kedua cara tersebut boleh.” (Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud, 4 : 153)

Imam As Shan’any, pengarang Kitab Subulussalam Syarah Bulughul Maram mengatakan,

ثم فصلتها بقولها “يصلي أربعاً” يحتمل أنها متصلاً وهو الظاهر، ويحتمل أنها مفصلات وهو بعيد إلا أنه يوافق حديث “صلاة الليل مثنى مثنى”

Kemudian ia (Aisyah) menjelaskan dengan perkataan “beliau (Nabi) shalat empat rakaat” mengandung pengertian bahwasanya shalat itu bersambung (sekaligus empat rakaat) dan itulah makna yang zhahir (yang jelas dan makna asalnya), dan mungkin juga maknanya dipisah (menjadi dua-dua) dan makna demikian adalah makna yang jauh, hanya saja cocok dengan hadits shalat malam dua rakaat dua rakaat (Subulussalam, 2 : 13)

Syekh Badruddin al Ainy, Pengarang Kitab Umdatul Qâry Syarah Shahih al Bukhary, mengatakan,

وفي قولها “يصلي أربعا” حجة لأبي حنيفة رضي الله تعالى عنه في أن الأفضل في التنفل بالليل أربع ركعات بتسليمة واحدة وفيه حجة عن منع ذلك كمالك رحمه الله وفي قولها ثم يصلي ثلاثا حجة لاصطحابنا في أن الوتر ثلاث ركعات بتسليمة واحدة لأن ظاهر الكلام يقتضي ذلك فلا يعدل عن الظاهر إلا بدليل

“Dalam perkataan Aisyah ‘Beliau (Nabi) shalat empat rakaat’ menjadi dalil bagi Abu Hanifah radhiyallahu anhu, bahwa yang afdhal dalam shalat sunat malam itu empat-empat rakaat dengan satu salam. Hadits itu juga menjadi bantahan kepada orang yang melarang dari cara tersebut seperti Imam Malik rahimahullah. Dan dalam perkataan Aisyah kemudian beliau (Nabi) shalat tiga rakaat mengandung hujjah bagi para shahabat kami bahwa witir itu dengan tiga rakaat satu salam, karena lahiriyah perkataan menuntut pengertian seperti itu dan tidak boleh berpaling dari arti dhahirnya kecuali dengan dalil. (Umdatul Qary, 14: 192)

Syekh Sulaiman bin Nâshir Al Ulwân dalam Ahkâm Qiyâmillail, mengatakan,

وحديث ابن عمر ( صلاة الليل مثنى مثنى ) لا يدل على وجوب التسليم في كل ركعتين ولفظه لا يساعد على ذلك فيحمل على الاستحباب وأنه الأكثر استعمالاً. وغيره من الأحاديث تحمل على السنية في بعض الأحيان ، والعبادات الواردة على وجوه متنوعة يعمل بها كلها وهذا أفضل من المداومة على نوع وهجر غيره فإن هدي النبي صلى الله عليه وسلم عمل الأمرين على أن المداومة على نوع مراعاة للمصلحة ودرءاً للمفسدة قد تكون أفضل في وقت دون آخر كما أن المفضول يكون فاضلاً وهذا أمر عام في كل العبادات الواردة على هذا الوجه والقول الجامع فيها مراعاة المصالح وهذا يختلف باختلاف الأحوال والبلاد والأشخاص والله أعلم

“Dan hadits Ibnu Umar (Shalat malam itu dua-dua) tidak menunjukan atas wajibnya salam pada tiap dua rakaat, redaksinya tidak membantu atas pengertian itu, maka dibawa kepada pengertian anjuran dan bahwa hal itu yang lebih sering dikerjakan. Sedang hadits-hadits yang lain dibawa kepada pengertian sunnah melakukannya pada sebagian waktu. Ibadat-ibadat yang datang keterangan padanya dengan cara yang bermacam-macam dapat dilakukan semua caranya. Dan hal itu lebih utama dibanding dengan terus menerus dengan satu cara serta menjauhi cara yang lainnya, sebab petunjuk Nabi dalam mengerjakan dua perkara, bahwa terus menerus atas satu macam cara untuk menjaga kemaslahatan dan menolak mafsadat, terkadang yang afdhal pada satu waktu tidak pada waktu yang lain. Sebagaimana yang kurang utama bisa jadi utama. Dan hal ini merupakan perkara yang umum dalam setiap ibadat yang keterangannya datang dengan cara seperti itu. Perkataan yang menghimpun semuanya adalah menjaga kemaslahatan dan kemaslahatan itu berbeda dengan perbedaan situasi, perbedaan negara, dan perbedaan individu. Wallahu Alam! (Ahkâmu Qiyâmillail, hlm. 19)

Syekh Abu Tahayyib Muhamad Shadiq Khan, seorang ulama besar India di bidang hadits, beliau mengatakan,

وقد كان صلى الله تعالى عليه وآله وسلم يصلي صلاة الليل على أنحاء مختلفة فتارة يصلي ركعتين ركعتين ثم يوتر بركعة وتارة يصلي أربعا أربعا وتارة يجمع بين زيادة على الأربع وذلك كله سنة…..

“Dan sungguh Nabi SAW shalat malam dengan cara yang berbeda-beda. Terkadang beliau shalat dua rakaat-dua rakaat kemudian beliau shalat witir dengan satu rakaat, terkadang beliau shalat dengan empat rakaat-empat rakaat, terkadang belaiu menggabungkan lebih dari empat rakaat, semuanya itu merupakan sunnah yang sudah tetap (sahih) (Al Raudhah al Nadhiyyah fi syarhi al Dharar al Bahiyah, I : 113)
Penjelasan tentang hadits Taraweh dengan empat rakaat empat rakaat sebagaimana dikemukakan di atas, dapat dibaca dalam banyak kitab-kitab para ulama yang lainnya, seperti Syarah Shahih Muslim (Jilid 15 hlm.22); Al Darâry al Mudhiyyah Syarh al Durar al Bahiyyah (Jilid I, hlm. 96); Ar Raudhah an Nadiyah Syarh al Durar al Bahiyah (Jilid 1, hlm. 113); Nailul Authar (Jilid 5, hlm. 77), Shalat Tarawih karya Syekh Nâshirudin Albâny, dan lain-lain dari kitab syarah hadits.

Selain dari penjelasan dari kitab-kitab di atas, penulis ingin menambahkan beberapa komentar:

Bahwa shalat malamnya Nabi Shallallahu alihi wa sallam, dilakukan dengan beberapa cara. Termasuk dengan dua rakaat-dua rakaat dan empat rakaat-empat rakaat dengan satu salam. Iihat kitab Shalat Taraweh Syekh Al Bâny hlm. 105.

Tidak ada ulama Salaf dari madzhab yang empat yang mencela apalagi membidahkan shalat Taraweh dengan empat rakaat-empat rakaat, mereka hanya berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama (afdhal), apakah yang empat rakaat satu salam ataukah yang dua rakaat satu salam.

Para ulama yangberpendapat shalat Taraweh dengan dua rakaat satu salam lebih utama dari pada yang empat rakaat satu salam berargumen dengan hadits Nabi dari Abdullah bin Umar bahwa shalat malam itu dua-dua.

Sementara Imam Hanafi berpegang kepada zhahir hadits tersebut yaitu empat rakaat satu salam.

Penulis berpandangan, meskipun pendapat Imam Hanafi berbeda dari kebanyakan ulama lainnya, namun pendapat beliau mempunyai alasan yang kuat. Diantaranya;

Bahwa pada hadits Aisyah yang mengatakan Nabi shalat malamnya empat empat itu dengan sharih (jelas) menyebut kata di malam bulan Ramadhan, sementara hadits-hadits yang menerangkan shalat malam dengan dua-dua tidak ada satupun yang menyinggung kata malam Ramadhan, melainkan secara mutlak pada shalat malam, sehingga mempunyai penekanan makna yang kuat bahwa empat-empat itu di antara tatacara shalat Nabi di malam Ramadhan, walau kebiasaan beliau di luar Ramadhan mungkin lebih sering dengan cara dua-dua.

Sebab wurud hadits Aisyah itu karena beliau ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurahman tentang tatacara shalat Nabi di malam Ramadhan. Para shahabat dan tabiin tentu sangat tahu tatacara shalat malam Nabi yaitu dua rakaat dua rakaat sebab cara seperti itu jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh seorang shahabat, tetapi mereka merasa penasaran mengenai tatacara shalat malam di bulan Ramadhan, maka meskipun Aisyah hanya ditanya tentang tatacara shalat di malam Ramadhan, tetapi beliau menjawab dengan jawaban yang mengandung dua faidah hukum.

Pertama bahwa jumlah rakaat shalat Nabi di malam-malam bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan sama saja yaitu sebelas rakaat.

Kedua bahwa Nabi mempunyai cara lain dalam melaksanakan shalat malam, yaitu dengan empat rakaat-empat rakaat. Sehingga memberi makna tatacara yang empat-empat ini Nabi melakukannya di bulan Ramadhan.

Kalau hadits Aisyah itu ditakwilkan dengan hadits Ibnu Umar sehingga yang empat-empat itu maknanya menjadi dua-dua, berarti telah menuduh Aisyah memberi jawaban yang tidak bayan alias tidak jelas terhadap pertanyaan Abu Salamah, sementara Abu Salamah bertanya karena ingin mendapat pejelasan tentang tatacaranya, padahal tidak mungkin Aisyah radhiyallahu anha memberi jawaban penjelasan tapi tidak jelas sehingga membutuhkan penjelasan dan pentakwilan lagi dari orang lain, apalagi ditakwilkan oleh orang-orang yang datang kemudian setelah masa shahabat dan tabiin. Bukankah kaidah ushul mengatakan, meninggalkan penjelasan pada saat dibutuhkan tidak diperkenankan (tarkul bayân an waqtil hâjah lâ yajûz).

Kalau hadits shalat Taraweh empat-empat itu dipaksa ditakwilkan menjadi dua-dua, berarti semua hadits Nabi yang sahih yang menjelaskan beberapa macam shalat malam, seperti dengan enam rakaat sekaligus lalu duduk tasyahud awal dan ditambah lagi satu rakaat, atau delapan rakaat sekaligus lalu duduk tasyahud dan ditambah satu rakaat lagi, demikian juga dengan cara-cara yang lainnya (sebagaimana telah dikemukakan hadits-haditsnya oleh syekh Al Bani dalam kitab Shalat al Tarâwih dari hlm. 99-110) harus ditakwilkan dan dikembalikan kepada dua-dua. Sehingga seluruh shalat malam tidak ada cara yang lain kecuali dua-dua. Lantas apa artinya hadits-hadits yang menerangkan ada beberapa macam cara shalat malam kalau semuanya ditakwilkan menjadi dua-dua?

Dengan demikian, melaksanakan shalat Taraweh dengan empat-empat merupakan pengamalan terhadap salah satu sunnah Nabi tentang tatacara shalat malam berdasar hadits sahih. Disaat sebagian besar umat Islam hanya mengamalkan yang dua-dua saja, maka mengamalkan yang empat-empat menjadi bukti memelihara semua sunnah Nabi dalam kaifiyat shalat malam, terutama di bulan Ramadhan. Wallahu Alam bish shawab! (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita