Wednesday, 24 April 2019

Meng-Indonesia-kan Monas

Meng-Indonesia-kan Monas

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Oleh: Tony Rosyid*

Jakarta, Swamedium.com – Monas adalah simbol. Tidak hanya untuk masyarakat Jakarta, tapi juga rakyat IIndonesia. Namanya saja Monumen Nasional, bukan Monumen Jakarta. Karena lokasinya di Jakarta, maka tata kelolanya menjadi tanggung jawab Gubernur Jakarta.

Bisa dimaklumi bila selama ini Monas menjadi tempat seremonial. Tempat orang Indonesia ngumpul. Ada yang demo, ada yang mengadakan kirab budaya dan kesenian, ada maulid, ada paskah, ada yang bagi-bagi sembako, ada yang doa bersama, ada juga yang sekedar jalan-jalan, melihat dari atas Monas view ibu kota yang sarat ketimpangan, antara si Ahong dan si Marhaen.

Monas menjadi simbol masyarakat Indonesia dengan berbagai ekspresi dan aspirasinya, termasuk ekspresi kebudayaan dan keberagamaan. Bahkan ekspresi kegalauan. Demo adalah salah satu ekspresi kegalauan itu. Dan memang begitulah semestinya. Sebab, Monas adalah icon ke-Indonesia-an. Harus mampu menampung setiap ekspresi dan aspirsi Indonesia.

Setelah Monas oleh gubernur Ahok sempat ditutup untuk ekspresi kebudayaan dan terutama keberagamaan, kini Anies-Sandi membukanya kembali. Sejak Anies-Sandi dilantik jadi Gubernur dan Wagub DKI, Monas seperti mendapatkan ruhnya dan hidup kembali.

Bahkan di bulan Ramadhan ini, Monas akan dijadikan tempat shalat tarawih massal. Tepatnya tanggal 26 mei 2018. Masyarakat DKI, bahkan juga yang tinggal di luar DKI, mulai antusias untuk hadir. Membayangkan jama’ah membludak seperti shalat tarawih di pelataran Masjid Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Apalagi kalau yang jadi Imam adalah Syeikh Sudais, imam besar Masjid Haram.

Tarawih kok di Monas? Ada yang protes. Satu dua orang. Wajar. Tak mungkin manusia semua sama isi kepalanya. Ini bagian dari dinamika bernegara.

Kalau demo dan bagi-bagi sembako saja boleh di Monas, kenapa untuk shalat tarawih diprotes? Kan bisa di masjid? Sanggah orang yang protes. Tidakkah Masjid Istiqlal juga dekat? Betul. Doa dan dzikir juga bisa di Masjid Istiqlal. Kenapa MUI malah melakukannya di Monas. Kapan? Doa untuk Palestina.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)