Sabtu, 23 Januari 2021

Kasus First Travel, Fahira: Jangan pernah coba salahgunakan uang jamaah

Kasus First Travel, Fahira: Jangan pernah coba salahgunakan uang jamaah

Foto: Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Vonis hukuman maksimal yang diberikan majelis hakim di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat terhadap dua terdakwa bos PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang berkecimpung di usaha travel umroh untuk benar-benar menjaga amanah jamaah untuk berangkat ke tanah suci.

Banner Iklan Swamedium

Anggota DPD RI DKI Jakarta Fahira Idris mengatakan, selain haji, perjalanan umroh adalah keinginan dan impian terbesar bagi semua kaum muslimin, oleh karena itu menunaikan amanah para jamaah adalah sebuah kewajiban biro perjalanan umroh.

“Saya berharap vonis ini menjadi pelajaran dan peringatan bagi semua perusahaan travel untuk jangan pernah sekalipun mencoba-coba menyalahgunakan uang jamaah untuk kepentingan pribadi ataupun perusahaan. Banyak orang yang hendak berangkat umroh itu harus rela menabung bertahun-tahun, bahkan menjual harta benda. Jadi jangan main-main dengan uang jamaah karena tidak akan selamat dunia dan akhirat,” tukas Fahira, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (31/5).

Fahira mengungkapkan, inti utama bisnis travel umroh adalah kepercayaan jamaah yang hanya bisa diraih jika perusahaan travel mampu memberi pelayanan maksimal dan menjaga kepercayaan customer sebaik mungkin.

Dikatakan Fahira yang juga Ketua Komite III DPD RI yang membidangi persoalan agama, haji, dan umroh ini, selama perusahaan travel umroh menerapkan prinisp customer oriented maka selama itu juga perusahaan travel akan terus mendapatkan jamaah sehingga bisnis ini terus berjalan karena keinginan umat muslim di Indonesia beribadah umroh sangat tinggi.

Apa yang dilakukan first travel, lanjut Fahira, sama sekali melanggar prinsip-prisip bisnis travel dan dampak perbuatan mereka ini menurunkan kepercayaan publik terhadap biro travel umroh.

Menurut Fahira, hukuman maksimal yang diberikan hakim kepada Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan yang divonis masing-masing 20 tahun penjara dan 18 tahun penjara, diharapkan tidak hanya menjadi peringatan bagi travel umroh lain agar terus amanah menjaga kepercayaan jamaah, tetapi juga mampu kembali meningkatkan kepercayaan publik terhadap travel umroh yang jumlahnya cukup banyak.

“Pekerjaan besar setelah vonis ini adalah bagaimana hak-hak semua jamaah first travel yang gagal berangkat dipenuhi terutama pengembalian dana jamaah,” papar Fahira.

Sebagai informasi, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok menjatuhkan vonis masing-masing pidana 20 tahun dan 18 tahun penjara kepada bos First Travel Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan di PN Depok, Kalimulya, Cilodong, Rabu (30/5) kemarin.

Pasangan suami isteri tersebut terbukti menipu dan melakukan pencucian uang para calon jamaah First Travel sehingga gagal berangkat umrah. Keduanyajuga mendapat pidana denda Rp 10 miliar subsider 8 bulan kurungan. Sejumlah harta benda terdakwa yang menjadi barang bukti dirampas pula oleh negara. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita