Tuesday, 23 April 2019

2019, Uji Materi Kesiapan Partai Politik

2019, Uji Materi Kesiapan Partai Politik

Oleh: Hanif Kristianto*

Jakarta, Swamedium.com — KPU sebagai penyelenggara pemilu serentak 2019, kini bekerja kian ekstra. Pasalnya hajatan Pilpres, Pileg, Pilkada, dan Pilwakilda, bersamaan. Ujian terberat dan terbesar bagi KPU. Hal menarik justru bisa diamati pada kesiapan partai politik. Pasalnya, dalam politik demokrasi instrumen parpol menjadi penentu utama, bahkan pemain utama. Tak ayal, jika ingin berkuasa maka parpol lah pintu utama.

Konsekuensi multiparty system (sistem banyak partai) di Indonesia berdampak pada penyiapan kader dan mesinnya. Partai di Indonesia seperti bakso beranak. Awalnya satu partai, berkembang menjadi puluhan partai. Berbeda pada masa Soeharto yang partai berfusi pada PPP, Golkar, dan PDI. Jika ditelisik kembali, ketua parpol yang ada pun tidak berlepas dari induk semangnya, yaitu Golkar di masa orde baru.

Satu hal tantangan parpol dalam menyiapkan kader yakni apatisme politik rakyat dan keengganan rakyat berpolitik. Demi menarik minat, akhirnya parpol menakut-nakuti, ‘jangan sampai parlemen dikuasai orang-orang rusak, harus ada orang baik yang mewarnai’. Sepintas, hal itu mewakili wajah demokrasi Indonesia yaitu wadah bagi yang baik dan rusak, serta tumbuhnya kerusakan sistemis karena disebabkan demokrasi yang liberalistik.

Pada akhirnya publik menilai parpol asal comot demi memenuhi kuota. Tak heran pula, di beberapa daerah ada parpol yang tidak bisa ikut pemilu karena tidak menyetor nama calegnya. Ada beberapa faktor ketidaksiapan parpol di Indonesia menyiapkan kadernya.

Pertama, basis ideologi partai di Indonesia masih abu-abu. Dibilang Pancasila, sikapnya sering melanggar Pancasila. Dibilang agama, seringnya menolak hukum dan negara agama. Dibilang sosialis kerakyatan, hidupnya perlente dan borjuis. Jika demikian, maka ideologi sesungguhnya parpol yaitu ‘kepentingan’.

Kedua, kader yang dipiiih lebih karena ketokohan dan ketenaran. Hal ini bisa diambil dari kalangan artis, rohaniawan, dokter, aktivis, tokoh kepemudaan, dan tokoh masyarakat berpengaruh. Parpol memandang ini cara cepat menyiapkan kader. Padahal kader itu tidak bisa karbitan, harus dibangun dari pondasi awal. Kalaulah yang dipilih sekadar orang berpengaruh, maka ke depan kader ini akan kendor lalu hilang tak berpolitik.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)