Thursday, 20 February 2020

Kelaparan Merenggut Nyawa

Kelaparan Merenggut Nyawa

Oleh: Dian Agustina, S.Pd*

Jakarta, Swamedium.com – Sungguh menyedihkan, negeri yang dikenal zamrud khatulistiwa gemah ripah loh jinawi kini digemparkan dengan meninggalnya 3 warga suku Mause Ane, Seram Utara Timur Kobi dan Maluku Tengah. Disinyalir kematian ketiganya akibat kelaparan. (detik.com, 25/7)

Tragedi kelaparan ini adalah tragedi yang kesekian kalinya setelah Indonesia digolongkan sebagai negara dengan tingkat kelaparan yang serius dengan skor Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index/GHI) 21,9. Penghitungan GHI ini sudah ada sejak dua tahun lalu dirilis oleh IFPRI (International Food Policy Research Institute), namun agaknya peringatan ini tak mampu merubah kondisi Indonesia hingga tragedi kelaparan ini berulang lagi. 

Ironis memang tragedi kelaparan terus terjadi di negeri ini. Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan tragedi ini tak kunjung berakhir. Pertama, masih berlakunya sistem ekonomi kapitalis. Telah diketahui bersama bahwa mekanisme pasar bebas dalam sistem ini telah menjadikan para kapital (pemilik modal) dibebaskan sebebas-bebasnya dalam menguasai kekayaan. Tak meratanya ekonomi inilah yang menjadikan si kaya semakin kaya si miskin semakin miskin dan tragedi kelaparan pun bermunculan.

Kedua, pemerintah tak menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Sikap abainya penguasa dalam menjamin kebutuhan publik sering dirasakan masyarakat kelas bawah. Hal ini tampaknya tak terlepas dari paham materialis yang dianut. Di mana penguasa hanya mengurusi hal-hal yang akan memberikan keuntungan pribadinya. Walhasil rakyat yang berkekurangan menjadi obyek yang terlupakan. 

Dengan masih adanya dua hal di atas, tak heran kelaparan masih menghantui negeri ini. Oleh karena itu, perlu kiranya langkah pasti dalam menyelesaikan kasus ini. Tentunya tanggung jawab ini tak boleh diserahkan oleh yayasan atau segelintir orang saja. Pemerintah yang merupakan pelayan umat haruslah mengambil peran ini. Tidak boleh memperhatikan publik hanya saat membutuhkan suara ketika Pemilu saja namun saat sukses menjabat pun tak enggan untuk mengurusi kebutuhan rakyatnya hingga tuntas.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.