Selasa, 26 Januari 2021

BKPM Sebut Pelemahan Rupiah, Biang Keladi Investasi Lesu

BKPM Sebut Pelemahan Rupiah, Biang Keladi Investasi Lesu

Foto. Perekonomian Indonesia di tahun depan diprediksi masih lesu, beban hidup makin bertambah. (nael/swamedium)

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi biang keladi lemahnya pertumbuhan investasi yang terjadi pada kuartal II 2018.

Pasalnya, depresiasi rupiah berdampak pada nilai investasi yang akan digelontorkan pengusaha ketika merealisasikan investasinya di Indonesia.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan sebetulnya pelemahan nilai tukar bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, pengusaha cenderung gentar melihat fluktuasi mata uang.

Menurutnya, dunia usaha tidak akan membatalkan rencana investasinya. Investasi tersebut baru akan terealisasi kembali jika ada kepastian soal kestabilan nilai tukar. Hanya saja, ia enggan menyebut sektor yang investasinya tertahan lantaran mau mengumumkan detailnya dalam waktu dekat.

“Mereka bukan membatalkan investasi, tapi menunda. Yang paling signifikan adalah kurs rupiah, makanya pemerintah harus fokus pada upaya menstabilkan nilai tukar rupiah. Coba pakai kacamata pengusaha, kalau tidak yakin rupiah tidak stabil kan tunggu siapa tahu (kursnya) lebih murah,” papar Thomas di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (7/8).

Tahun Politik

Ia melanjutkan, pelemahan investasi ini juga disebabkan oleh momentum menjelang tahun politik. Menurutnya, tren dalam 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi sudah dimulai setahun sebelum pemilihan umum berlangsung.

Maka, atas dorongan dua faktor itu, realisasi investasi riil kuartal II berada di angka di bawah 6 persen atau turun drastis ketimbang kuartal I kemarin yaitu 6 persen.

“Sebagian perlambatan ini natural karena siklus politik. Tapi tahun ini tentu diamplifikasi oleh gejolak mata uang global,” tambah Thomas.

Ia mengakui bahwa langkah untuk meningkatkan pertumbuhan investasi di kuartal berikutnya bisa begitu berat lantaran sentimen eksternal masih begitu kuat. Tapi, selalu ada langkah untuk membalikkan kondisi yang terjadi saat ini.

Biasanya, lanjut Thomas, investor sangat peka dalam melihat keseriusan pemerintah demi menstabilkan nilai tukar rupiah. Sehingga, kebijakan implementasi pencampuran biodiesel sebesar 20 persen di Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar (B-20) diharapkan bisa membawa angin segar ke investor jika itu betul-betul berjalan.

Sebab, implementasi B-20 merupakan langkah pemerintah untuk menjaga cadangan devisa dengan mengurangi impor BBM. Sementara, cadangan devisa digunakan untuk langkah stabilisasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia. Sehingga, jika kebijakan ini berhasil, maka investasi diyakini akan deras karena investor melihat kesungguhan pemerintah.

“Kalau pemerintah disiplin dan eksekusi dengan baik akan ada dampaknya ke devisa, ini yang akan mengembalikan keyakinan investor bahwa rupiah stabil,” papar dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen di kuartal II, di mana angka ini merupakan pertumbuhan kuartalan tertinggi sepanjang pemerintahan Presiden Joko Widodo. Adapun, titik tertinggi sebelumnya terjadi di kuartal II 2016 dengan angka 5,21 persen.

Sayangnya, pertumbuhan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) tidak menunjukkan kinerja memuaskan. Pertumbuhan PMTB di kuartal II hanya mencapai 5,34 persen dan memutus tren pertumbuhan PMTB yang mencapai lebih dari 7 persen dalam tiga triwulan terakhir.

Sumber: CNNIndonesia

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita