Rabu, 12 Mei 2021

The Beautiful Words

The Beautiful Words

Bekasi, Swamedium.com — Islam itu sudah menjadi sesuatu yang berakar di orang Indonesia walaupun dia bukan orang Islam yang Islami.

Banner Iklan Swamedium

Bahkan ada contoh yang sedikit ekstrim ada seseorang yang pulang kemalaman, terus dengan nggak sengaja satu angkot dengan beberapa wts (tersirat dari obrolannya). Salah seorang dari mereka yang kebetulan mendapat penghasilan yang lumayan baginya, berseru, “Alhamdulillah malam ini rezekinya banyak.”

‘Alhamdulillah’ itu dia ucapkan untuk rezekinya yang banyak itu….

Atau cerita seorang teman yang dulu saat minum wine dia baca bismillah dulu .

Tanpa maksud menghina agama, tapi karena kalimat-kalimat baik itu sudah sangat melekat.

Dan itu memang kata-kata untuk kebaikan, seperti bersyukur…atau memulai sesuatu…hanya saja yang mereka ambil jalan yang salah.

Oke kita tidak membahas tentang jalan yang dipilih orang untuk mengisi hidupnya. Kita bicara tentang kata-kata yang baik.

Di dalam mendidik itu butuh kalimat-kalimat yang baik.

Pernah di suatu waktu dulu ada seorang ibu yang bercerita, di tempat kerjanya itu ada orang yang berbusana syar’i tapi dia justru menjadi ‘black campaign’ buat muslimah di tempat kerjanya. Kenapa? Karena dia menjadi orang yang tidak bisa diterima di semua bagian. Sampai akhirnya dia ditempatkan di meja depan teman saya. Semua orang sudah nggak sanggup sama dia. Karena kalimatnya ketus sampai semua orang itu punya stereotype…

“Kog orang berbusana syar’i begitu rapi, ngomongnya lebih kasar dari orang-orang yang bahkan nggak berjilbab?”

Kalau dia marah…pilihan kata-katanya…waw banget…menusuk hingga ke jantung…begitu kira-kira istilahnya.

Pilihan kata ini kan menunjukkan isi hati kita. Jadi lurusnya kata itu menunjukkan lurusnya hati. Lurusnya hati itu menunjukkan lurusnya iman.

Kata-kata adalah gambaran hati itu berpenyakit atau nggak. Hati menunjukkan apakah imannya berpenyakit apa nggak.

Ada orang celetah celeteh begitu saja tapi dirasakan yang mendengar…”Kog gini bgt sih?” Dalam banget…menusuk…jadi bukan bercandaan.

Ada orang yang yang jlebnya jleb ngingetin, ada yang jlebnya nyakitin. Itu sebenarnya gambaran hatinya.

Ada kata yang langsung bisa bikin orang merasa ‘nggak gitu deh’…itu berarti nyakitin.

Kalau itu terjadi ya…kita tanya ke diri kita lagi …”Kog saya ngeluarin kata gitu sih? Oohh ini berarti hati saya nggak bersih nih…iman saya berarti lagi turun.”

Coba perhatikan kalau kualitas keimanan kita sedang turun…kata-kata yang keluar dari kita itu nggak enak didengar. Walaupun mungkin nasihat, tapi tetap nggak enak didengar.

Kita aja kadang nggak suka mendengarnya…apalagi orang lain.

Ada orang yang kata-katanya cendrung nyakitin. Mungkin kita pun pernah begitu. Walaupun mungkin nadanya biasa aja…tapi ditambah gesture…makin lengkap rasa sakit hati orang ke dia.

Misalnya…”Ooohh ikan asin kaya’ gini mau?” (sambil nunjukin mimik ngeremehin). Kalau bercanda kan beda.

Kalimat yang baik ini penting bagi kita seagai penda’wah atau sebagai pendidik….

Niat kita ngomong sesuatu juga nyampe lho ke telinga bahkan ke hati yang mendengar. Walaupun ada kata-kata yang persis sama tapi niat yang berbeda akan berbeda rasa bagi orang yang mendengar.

Ketika niatnya memang untuk menjatuhkan orang…yang terasa ya dijatuhkan.

Misalnya gini kita ngasi tau seseorang bahwa dia itu saltum (salah kostum) dalam suatu acara. Nadanya biasa saja. Tapi ternyata, yang sampai itu menyinggung banget.

Kenapa?
Ooh ternyata niatnya memang bukan untuk ngasi tau tapi memang memanfaatkan ke’saltum’an itu untuk menyampaikan bahwa busana yang dipakai seseorang itu nggak banget…

Niat itu yang tersampaikan di kalimat-kalimat pilihan kita dan di gesture kita.

Makanya niat ini menjadi sangat penting karena nanti kata-kata, pikiran, kemudian amal kita itu akan terbaca di situ.

Dari dalam hati ada niat, lalu keluar jadi kalimat. Kalimat yang keluar itu menggambarkan hati kita.

Mudah-mudahan kita sekali ingat kata-kata nasehat ini…
“Kalimat yang lurus itu (kata-kata yang baik itu) keluar dari hati yang baik. Hati yang baik itu menunjukkan keimanan yang baik.”

Kalimat yang keluar dari dalam hati, menunjukkan niatnya apa.

Mungkin ada yang pernah mengalami ini…
“Kenapa sih kalau saya kasi tau, orang pada nggak mau denger, kalau kamu udah ngomong cuma begitu aja orang pada ngikuti?”

Kalau udah begitu…tanya niat kita yang sejujur-jujurnya itu apa?

Atau situasi begini…
“Tuh kamu ngomong gitu orang-orang nggak pada marah. Saya ngomong lebih halus dari itu orang pada kesal sama saya.”

Kembali ke hati kita lagi…kembali check dengan jujur apa niat kita.

Kalau tidak ada niat mau jatuhin orang, mau merendahkan orang…bicara saja apa adanya…in syaa Allahu baik reaksi yang kita dapatkan (dalam kondisi kita berbicara dengan manusia normal).

Mungkin suatu saat kita dihadapkan situasi yang parah banget…harus dibenerin…
Kalau sudah begini, bersihkan dulu hati kita…buang rasa sebel sama yang mau kita kasi tau kesalahannya…supaya engak nyampe feeling yang negatif itu. Karena memang sudah kita hilangkan kesal-kesal itu.

Sementara meski pilihan kata-kata kita sangat bagus tapi hati kita sebenarnya nggak suka sama si A, B, C, D itu pasti beda…bukan halus lembutnya kata yang nyampe…tapi rasa sebel itu.

Ini penting bagi kita selaku orang tua, penda’wah, pendidik…ketika kita memberi nasehat apalagi kalau berdua saja dengan orang yang akan dinasehati…yang harus disiapkan itu justru diri kita.

Perbanyak istighfar. Kalau masih ada waktu sebelum bertemu dengan yang akan dinasehati, baca al ma’tsurot, tilawah, barulah kita siap untuk nasihatin orang.

Jadi inget ya kalau mau nasihatin orang yang daleem gitu…yang kemungkinan besar kontennya akan menyakiti dia, kita yang harus benerin diri kita dulu.
Bukan dia yang harus dibenerin dulu…tapi kita yang harus benerin diri, kita bersihin dulu niat kita.

Karena begitu kita ada tendensi ‘saya lebih baik dari kamu’,
 أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ
pada saat itu kita jadi iblis.

Iblis itu kan dikeluarin dari surga karena merasa lebih baik dari Adam.

Jadi perhatikan…kalau kita nasihati orang, ada rasa ‘saya lebih baik dari kamu’ walau nggak terucap (tapi adanya di hati kan?)…buang rasa itu.

“Gua kan lebih baik…elu kan bercerai…gua kan keluarga harmonis begini begini begini…”
Nah…pada saat kita nasehatin dia, yang sampai…’saya lebih baik dari kamu’ bukan isi nasehatnya. Itu harus hati-hati… Hati-hati banget!!!

Untuk itu kita minta sama اَللّهُ…
Mudah-mudahan nasihat yang kita sampaikan ini bagian dari solusi اَللّهُ untuk dia.

Kita ini cuma talang. Kita bukan problem solver. Hakekatnya penyelesaian masalah itu, اَللّهُ. Dia yang kasi solusi lewat kita. اَللّهُ pilihnya lewat kita.

Jadi kalau kita menjadikan diri kita hanya sebagai alatnya اَللّهُ untuk apapun menjadi lebih baik di muka bumi ini, mudah-mudahan membuat kita berjarak dengan kesombongan.

Karena kalau kita merasa kita yang selesaikan masalah dia, khawatir kita malah jadi bangga diri.

Jangan sampai kita malah jadi showing kelebihan kita, bukan lagi ke permasalahan utamanya.

Makanya ketika kita temukan orang mau curhat mau apa, kita langsung switch…
“Oohh ini bagian dari da’wah saya. اَللّهُ kasi kesempatan da’wah untuk saya.”
Kita harus berlatih untuk ini.
“Ooh اَللّهُ kasi kesempatan saya untuk beramal sholeh.”

Jadi kita langsung kliknya sama اَللّهُ. Bukan karena gua baik bukan karena gua lebih senior…nggak…tapi اَللّهُ kasi gua kesempatan.

Nah kalau kaya’ gitu kan kita langsung menata hati…dibersihin terus…dan terus pikirkan cara untuk menjadi talang bagi orang lain menuju ridhoNya.
In syaa Allahu kalimat yang keluar dari mulut kita pun kalimat yang baik.

والله أعلمُ بالـصـواب

Catatan Diana
Jakarta 041118

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita