Jumat, 17 September 2021

Jokowi dan Mimpi di Dalam Mimpi (3) PESAN KERAS JENDERAL SOEDIRMAN

Jokowi dan Mimpi di Dalam Mimpi (3) PESAN KERAS JENDERAL SOEDIRMAN

Oleh: Asyari Usman*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Sampailah kita ke bagian ketiga (terakhir) cerita teman saya tentang mimpi dia bersama Jokowi. Mimpi di dalam mimpi. Jokowi bermimpi dan diceritakannya di dalam mimpi juga. Untuk selanjutnya di dalam tulisan ini, “saya” adalah kata ganti (pronoun) untuk teman saya yang menceritakan mimpi berlapisnya itu.
===

Pak Jokowi menceritakan mimpi keempatnya di dalam mimpi saya bertemu dia. Pak Joko mengatakan, dia bermimpi melihat Jenderal Soedirman mengumpulkan sejumlah perwira militer dan polisi berbintang tiga (letnan jenderal dan komisaris jenderal). Tidak terlihat yang berbintang empat. Di dalam mimpi itu, Jokowi bertanya kepada Jenderal Soedirman mengapa Panglima Besar tak mau berjumpa dengan para jenderal berbintang empat.

Masih di dalam mimpi, Jokowi mengatakan kepada saya bahwa Jenderal Soedirman tak sudi menemui mereka karena semua yang berbintang empat sekarang ini tak layak menyandang pangkat yang sangat mulia itu. Jokowi memberanikan diri bertanya kepada Panglima Besar. “Jenderal, mengapa mereka tak layak menyandang pangkat bintang empat?”

Jenderal Soedirman kemudian menatap Jokowi. “Kamu itu menaikkan pangkat mereka hanya untuk kepentingan pribadimu saja,” kata Panglima Besar.

“Joko,” ujar Jenderal Soedirman, “saya paham manuver kamu. Saya tahu ke mana hendak kamu bawa TNI dan Polisi, hari ini.”

Entah bagaimana, saya juga masuk ke dalam mimpi Jokowi bertemu dengan Jenderal Soedirman. Saya melihat Panglima Besar memanggil Jokowi. Dari jauh, saya masih bisa menangkap kata-kata Jenderal Soedriman.

“TNI dan polisi tidak boleh digunakan untuk kepentingan politik. Untuk ambisi pribadi. Saya tidak pernah mengarahkan alat negara ikut berpolitik,” kata Jenderal Soedirman.

Jokowi balik bertanya dengan sangat sopan, dalam bahasa Jawa kelas ningrat. Tapi saya terjemahkan saja di sini. Pak Joko berkata, “Ayahanda…, dahulu Pak Harto menggunakan tentara untuk kepentingan politik beliau.”

Langsung dijawab oleh Panglima Besar. “Joko, pada awalnya Suharto menggunakan tentara untuk melindungi rakyat. Untuk menumpas musuh rakyat. Tetapi kemudian terjadi penyimpangan.

“Kamu lihat sendiri ‘kan bagaimana jadinya penyimpangan itu,” kata Jenderal Soedirman kepada Jokowi.

Di dalam mimpi Pak Joko yang ada di dalam mimpi saya itu, saya mendengar Panglima Besar menasihati beliau. Saya ingat betul kalimat penting pendiri TNI itu. Beliau berkata kepada Pak Jokowi, “Joko, jangan kamu lukai perasaan rakyat. Jangan kamu paksakan keinginan politikmu dengan membawa-bawa TNI dan Polisi.

“Jika cara itu kamu lakukan, kamu akan selesai dengan keburukan,” ujar Jenderal Soedirman. Inilah ucapan terakhir Panglima Besar kepada Pak Joko. Dia pun berlalu tanpa memandang ke mantan pengusaha meubel itu. Panglima Besar kemudian mendatangi para letjen dan komjen yang menunggu di satu ruangan.

Saya dan Pak Joko mengikuti dari belakang. Di dalam mimpi itu, Jenderal Soedirman memanggil dua orang letnan jenderal senior. Seolah-olah Panglima Besar tahu persis rekam jejak keduanya.

“Kamu saya lantik menjadi Panglima TNI,” kata Jenderal Soedirman kepada salah seorang lentan jenderal sambil menyematkan pangkat bintang empat di bahunya.

“Dan kamu menjadi KSAD,” kata Panglima Besar kepada letjen yang satu lagi dan langsung menjadi bintang empat juga.

Setelah itu, Jenderal Soedirman memanggil seorang komisaris jenderal polisi yang berada bersama para letjen TNI di ruangan itu. Ada beberapa komjenpol di situ.

“Kamu saya tugaskan sebagai Kapolri,” kata Panglima Besar. Prosesi pelantikan Panglima TNI, KSAD, dan Kapolri itu berlangsung lebih-kurang 10 menit saja.

Kepada para perwira senior yang dilantik, Jenderal Soedirman berpesan agar mereka menjaga TNI dan Polisi dari ambisi politik penguasa. Selepas menyampaikan pesan singkat ini, Panglima Besar pun langsung menaiki kuda putihnya.

Kuda berlari dalam kecepatan sedang, menuju ke arah yang belum pernah saya lihat di dunia nyata. Di hamparan rumput hijau yang luas dengan pemandangan yang begitu indah. Luar biasa. Saya ikuti terus si kudah putih. Sampai akhirnya tak terlihat lagi di padang rumput yang berhawa sejuk dan wangi semilir itu.

Masih dalam mimpin, saya melirik ke Pak Joko. Dia langsung pergi mencari ahli tafsir mimpi. Sampai di sini, Jokowi keluar dari mimpi saya. Tetapi dia bermimpi lagi bertemu dengan ahli takwil. Dia sangat penasaran tentang makna dari peristiwa Jenderal Soedriman melantik Panglima TNI, KSAD, dan Kapolri.

Jokowi menceritakan kepada saya mimpinya ini. Dia sudah menjumpai ahli tafsir mimpi. Ahli takwil yang keempat. Bukan ahi tafsir yang dia jumpai di mimpi-mimpi sebelumnya.

Si ahli takwil menjelaskan makna Jenderal Soedirman melantik Panglima, KSAD dan Kapolri di dalam mimpi saya yang juga mimpi Jokowi. Si ahli takwil mengatakan mimpi pelatikan itu mengandung beberapa arti. Pertama, Panglima Besar tidak setuju pilihan Pak Joko untuk posisi-posisi penting TNI dan Polri belakangan ini. Kedua, pelantikan oleh Jenderal Soedirman itu merupakan isyarat kegelisahan para senior militer dan polisi.

Kemudian Jokowi mau bertanya kepada ahli takwil. Tapi, baru beberapa kata dia ucapkan, si ahli takwil langsung memotong dan mengatakan, “Saya tahu, Ente mau bertanya perihal keresahan para jenderal berbintang tiga itu, bukan?”

“Iya, Ustad,” jawab Jokowi. “Kok Ustad tahu?”

“Yah, sudahlah. Saya juga tahu Tuan baru saja dinasihati oleh Jenderal Soedirman, bukan?”

“Iya, Ustad,” kata Pak Joko.

Si ahli takwil mengatakan, “Perhatikan baik-baik nasihat beliau. Belum pernah ada presiden yang dinasihati oleh Jenderal Soedirman. Ini sungguh serius, Tuan.”

Saya lihat Pak Jokowi tersentak dari mimpinya. Tak lama kemudian saya juga terbangun.

Besoknya saya menelefon Bang Asyari Usman, minta dia menceritakan mimpi di dalam mimpi ini.
===

*Penulis adalah wartawan senior

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita