Jumat, 17 September 2021

SBY-Prabowo Siap Lancarkan ‘Serangan Oemoem’

SBY-Prabowo Siap Lancarkan ‘Serangan Oemoem’

Oleh: Asyari Usman*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Dulu, semasa Indonesia baru merdeka, Sri Sultan Hamengkubuwono IX merencanakan gempuran terhadap Belanda di kawasan Jogjakarta. Waktu itu, inisiatif militer ini disebut “Serangan Oemoem” (Serangan Umum). Dilancarkan pada 1 Maret 1949. Gagasan Sri Sultan itu dieksekusi oleh Gubernur Militer Jawa Tengah, Kolonel Bambang Soegeng. Letnan Kolonel Soeharto ikut dalam mengatur gerakan militer di lapangan.

Serangam Oemoem itu disebut sebagai salah satu tonggak penting perjuangan kemerdekaan RI. Perjuangan yang sangat menentukan perjalanan bangsa Indonesia dalam meneguhkan kemerdekaan 1945. Alhamdulillah, kemerdekan menjadi berdiri tegak. Rakyat terbebaskan dari belenggu penjajah.

Tak lama lagi, kita akan menyaksikan kembali repetisi Serangan Umum. Kali ini, Indonesia akan dibebaskan dari penjajahan ekonomi domestik dan asing. Kedaulatan negara akan di segala bidang akan direbut kembali.

Serangan Umum itu akan dilancarkan mulai awal Januari 2019. Dua panglima tangguh akan berduet dalam serangan ini, Prabowo Subianto (PS) dan SBY.

Alhamdulillah, Pak SBY sekarang yakin bahwa Prabowo Subianto (PS) akan menang dalam pilpres 2019. Mantan presiden dua periode itu berjanji akan mendampingi Prabowo dalam kampanye mulai Januari hingga akhir Maret.

Tempohari ada kesan bahwa Pak SBY meragukan kemampuan PS untuk mengalahkan Jokowi. Sekarang, tidak lagi. Hari Jumat kemarin dia mengundang PS untuk membicarakan berbagai hal, terutama strategi kampanye.

SBY, kata para wartawan, terlihat senang. Banyak senyumnya. Tampak jelas keraguan itu telah hilang. Sebaliknya, kesiapan tempur tampak datang menjelang.

Disebutkan, SBY akan menjadi mentor kampanye PS. Kira-kira maksudnya akan menjadi ‘guru’ kampanye. Tentu tidak masalah. Wajar juga kalau mau disebut begitu. Soalnya beliau bisa menang dua kali pilpres dengan persentase besar.

SBY dan PS adalah ‘dua jenderal legendaris’, meminjam istilah Dahnil Anzar Simanjuntak (ketua tim jurkam 02). Maksudnya, kedua jenderal itu sama-sama punya penglihatan yang tajam. Cuma, Pak PS memetakan situasi dengan pandangan 4-D alias ‘four dimension vision’.

Penglihatan 4-D itu adalah penyempurnaan dari penglihatan 3-D. Penglihatan 3-D mencakup dimensi ‘panjang’ (length), ‘lebar’ (width), dan ‘kedalaman’ (depth).

Pak PS menambahnya satu lagi: yaitu dimensi ‘waktu’ (time). Dimensi ke-4 ini sangat krusial. Sebab, kehancuran ekonomi-sosial-politik Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi hari ini perlu diperbaiki dengan ‘time frame’ yang jelas tetapi ketat.

No time to waste. Tak bisa buang-buang waktu. Jadi, kita di sini banyak bicara soal ‘waktu’. Waktu yang mendesak, waktu yang harus dihemat, waktu yang tak banyak tersedia, dlsb.

Dimensi ‘waktu’ pada waktu itu termasuklah ‘tak ada waktu untuk negosiasi yang berbelit-belit’ soal mitra koalisi. Dimensi ‘waktu’ juga bermakna ‘the right man in the right time’. Yaitu, sangat diperlukan terobosan ‘sekarang juga’ (dimensi waktu) oleh seseorang yang memiliki ‘kepribadian mutakhir’ (dimensi waktu) dan ‘gagasan mutakhir’ (dimensi waktu).

Nah, ‘the right man in the right time’ dalam konteks rekonstruksi perekonomian Indonesia nantinya adalah Sandi Uno. Begitulah kesimpulan Pak PS. Dan, di seputar gonjang-ganjing soal figur cawapres menjelang pengajuan paslon ke KPU waktu itu, Prabowo tak punya banyak waktu (lagi-lagi dimensi waktu).

Sekarang, semua orang merasa lega. Semuanya klop. Pak SBY tidak lagi menjadi ‘missing link’ dalam mata-rantai koalisi politikn 02. Pak SBY hadir secara penuh dan akan turun langsung ke medan tempur pilpres untuk memastikan kemenangan paslon 02.

Hari ini, mata-rantai koalisi menjadi lengkap. The fighter jets are ready to take off. Skuadron tempur sedang dalam posisi ‘final inspection’. Medan perang telah dipetakan. Kubu-kubu pertahanan lawan di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan digempur habis di bawah komando ‘duo legend generals’, SBY dan PS.

Dengan bantuan ‘pemberontakan massal’ di akar rumput, diperkirakan gempuran total selama tiga bulan (Januari, Februari, Maret 2019) insyaAllah akan mampu melumpuhkan petahana. Mereka akan diberi waktu untuk menyerahkan diri sampai batas akhir 17 April 2019.

*Penulis adalah Wartawan Senior

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita