Monday, 17 June 2019

‘Jaenudin’ Salah Adegan

‘Jaenudin’ Salah Adegan

Tim Jaenudin tidak paham, bahwa manusia selalu menyukai ekspresi manusia lainnya. Tidak pernah bosan menyaksikan spontanitas. Jaenudin adalah pemimpin manusia hidup, maka ia harus mengutamakan berinteraksi kepada yg hidup.

Jadi ketika Tim Personal Image Jaenudin, dengan dibantu Media2 pendukungnya, menyebarkan foto2 bahwa ia lebih mementingkan berinteraksi dengan alam, maka selesailah semuanya.

Rakyat lebih menyukai emosi manusia hidup. Keadaan benda mati adalah segmen kedua, bukan di panggung utama. Rasa haru biru tidak akan muncul dari melihat pemandangan Jaenudin bersama bebatuan, atau karena melihat punggungnya yg menghadap lautan. Adegan2 seperti itu adalah level pak Lurah, bukan kelas Presiden.

Di tengah bencana besar, alam adalah cerita warna-warninya. Yg jadi pusat perhatian utama tetap korban manusianya. Nyawa dan cerita kehidupan di baliknya. Karena itu adegan menggenggam tangan para korban yg putus harapan, memeluk mereka yg melolong kesakitan, membisikkan asa ke telinga manusia yg butuh pertolongan, adalah Headline.

Sebetulnya Jaenudin bisa menjadi setitik cahaya di tengah hamparan kesedihan, jika timnya pandai mengelola isu. Tapi faktor keikhlasan seseorang memang tidak bisa dibuat-buat, karena itu lahir dari martabat dan integritas yg melekat. Sedangkan pencitraan adalah kebiasaan yg bisa membuat ketagihan.

Jadi, agar tidak menjadi pergunjingan, tidak melukai hati rakyat, siapapun pemimpin harus selalu ingat bahwa menjadikan bencana sebagai obyek pencitraan adalah bagai menambahkan bencana di atas bencana.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)