Saturday, 07 December 2019

Soeharto dan Swasembada

Soeharto dan Swasembada

Jakarta, Swamedium.com — “Piye kabare? Penak jamanku, tho?” Perkataan serupa demikian kerap ditemui di berbagai tempat, termasuk di belakang bak truk. Maksud slogan tersebut ialah mengenang kejayaan pemerintahan Soeharto.

Pada era pemerintahannya, Soeharto membalik kenyataan dari negeri agraris yang mengimpor beras menjadi negara yang mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri. Pada 1969, Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton. Lalu pada 1984, produksi beras dapat mencapai 25,8 juta ton.

Untuk meningkatkan produksi pangan dengan memperluas lahan garapan memang sangat sulit karena memerlukan dana yang besar, selain keterbatasan lahan di sejumlah daerah lumbung padi, seperti di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra. Bagaimana Soeharto menggalang para petani untuk bekerja sama melakukan revolusi pangan?

Kebijakan yang ditempuhnya ialah menitikberatkan pada usaha intensifikasi dengan menaikkan produksi terutama produktivitas padi pada areal yang telah ada.

Pada waktu itu rata-rata petani hanya memiliki setengah hektare dan kemampuan penguasaan teknologi tanam juga belum banyak dikuasai, kecuali bercocok tanam secara tradisional. Pemerintah pun mencetak sejumlah tenaga penyuluh pertanian, membentuk unit-unit koperasi untuk menjual bibit tanaman unggul, dan menyediakan pupuk kimia serta insektisida untuk membasmi hama.

Sistem pengairan diperbaiki dengan membuat irigasi ke sawah-sawah, sehingga banyak sawah yang sebelumnya hanya mengandalkan air hujan, selanjutnya bisa ditanami pada musim kemarau dengan memanfaatkan sistem pengairan.

Lahan-lahan percontohan pun dibangun, kelompok petani dibentuk di setiap desa untuk mengikuti bimbingan dari para penyuluh pertanian yang disebut Intensifikasi massal (Inmas) dan Bimbingan massal (Bimas). Bukan hanya lewat tatap muka, tetapi juga disiarkan melalui radio dan televisi, bahkan sejumlah media cetak menyediakan halaman khusus untuk koran masuk desa dengan muatan materi siaran yang khas pedesaan, membimbing petani.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.