Kamis, 16 September 2021

Dihadiri Keluarga, Kajian ‘111 Tahun Buya Hamka’ Makin Semarak

Dihadiri Keluarga, Kajian ‘111 Tahun Buya Hamka’ Makin Semarak

Jakarta, Swamedium.com — Ada yang spesial pada kajian “Napak Tilas Keteladanan Politik Buya Hamka” Ahad (20/01) lalu. Seorang nenek duduk di sebuah kursi khusus yang sejak awal telah disediakan oleh panitia di sisi utara ruang kajian. Saat MC membuka acara pada pukul 09.20 WIB, barulah peserta kajian sadar bahwa di tengah-tengah mereka ada Azizah Hamka, anak ke-5 Buya Hamka.

Banner Iklan Swamedium

Andung, panggilan sayang dari cucu-cucunya kepada beliau, telah hadir di lokasi acara sejam sebelum acara dimulai.

“Saat saya masih di perjalanan, saya dapat kabar bahwa Andung sudah tiba di lokasi. Padahal waktu itu belum jam delapan. Kata Akbar, cucunya, beliau ingin cepat-cepat berangkat dari rumah, takut terlambat ke acara ini,” ujar Akmal Sjafril, Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat yang pada hari itu juga hadir sebagai salah seorang narasumber kajian.

Menurut Akmal, kehadiran Azizah Hamka dalam kajian di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Cawang, Jakarta, pagi itu, memang bukannya tanpa rencana. “Memang Andung sendiri yang ingin hadir. Sepekan sebelumnya, saya bertemu beliau untuk pertama kalinya, menceritakan rencana besar kami dengan rangkaian kegiatan 111 Tahun Buya Hamka ini. Sebenarnya kami mengundang beliau untuk hadir dalam seminar di bulan Februari nanti. Tapi ternyata beliau ingin hadir di setiap acaranya. Memang semangatnya luar biasa,” ungkap Akmal.

Di tengah-tengah kajian, Azizah sempat meminta waktu untuk bicara. Beliau bercerita tentang bagaimana sikap Buya Hamka terhadap musuh-musuh politiknya.

“Waktu Mohammad Yamin sekarat, ia minta Ayah (Buya Hamka – red.) datang. Ia minta Ayah berkenan mengantarkan jenazahnya ke kampung halaman dan meminta ijin warga kampung agar Yamin boleh dimakamkan ke sana. Ayah menerima permintaan itu, dan benar-benar memenuhi janjinya,” ujar Azizah.

Hal yang sama juga ia tunjukkan kepada Soekarno, orang yang telah memenjarakannya. “Ketika Soekarno wafat, Ayah yang memimpin shalat jenazahnya. Padahal semua orang tahu apa yang telah diperbuat Soekarno kepada Ayah,” tandas Azizah lagi.

“Andung memang luar biasa semangatnya. Beliau memperhatikan kajian dari awal hingga akhir dengan serius. Sebagai anak muda, saya jadi merasa perlu belajar lebih banyak lagi,” ujar Sartika Idayu, salah seorang panitia yang diberi tugas untuk menemaninya selama acara berlangsung.

Kehadiran Azizah Hamka tak pelak lagi telah menghangatkan suasana diskusi. Bersama Azizah, juga hadir putri, keponakan dan dua orang cucu beliau. Selepas acara, seluruh peserta yang hampir semuanya anak muda berebut minta berfoto dengan beliau.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita