Kamis, 16 September 2021

Mas Bowo dan Bang Sandi di Balik Layar Debat

Mas Bowo dan Bang Sandi di Balik Layar Debat

Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Oleh :Miftah N.Sabri*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Sebelum berangkat, sore itu Mas Bowo masih menerima tamu. Kemudian jam 18.00 Bang Sandi datang bersama Kak Nur. Nur Asia. Cahaya Asia, pacar pertama yang jadi istrinya itu.

Sebelum Bang Sandi sampai, sudah datang Bang Fadli, Pak Hashim dan istri, serta Bu Mariani kakaknya Mas Bowo. Kemudian datang Mba Titiek.

Mba Titiek langsung nyamber Dani SPRI Mas Bowo, “Gimana Bapak?” Lagi siap-siap Bu. Beliau langsung gabung dan minggel dengan tamu tamu lainnya.

Saya melihat, Mba Titik dan Mas Bowo sekarang ini seperti dua orang mantan yang sudah jadi sahabat baik. “Your Ex is Your Best Friend”.

Saling chit chat, ternyata ibu-ibu seisi rumah itu. Bu Mariani, Bu Hashim dan Bu Titiek penggemar Gamal Albinsaid. Sayapun menepi.

Kemudian juga ada Pak Amien Rais dan Mas Bambang Widjojanto yang sudah datang duluan juga untuk kumpul dan berangkat bareng.

Mas Bowo selesai salinan Jas dasi lengkap. Minta bicara dulu dalam perpustakaan dengan Bang Sandi. Mas Bowo tampak masih siap-siap. Pegang data ini baca report itu. Bang Sandi nyeletuk “Mr President, I think enough, just be your self, relax”. Semua bahan-bahan itu ditutup.

Dan adzan maghrib berkumandang. Ustd Sambo jadi muazin dan setelah itu kami shalat berjamaah dipimpin Imam KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i. Selepas maghrib langsung menuju Bidakara.

Kita harus menunggu. Karena yang pertama datang harus presiden dengan standard paspampres super ketat. Baru kita masuk.

Di selasar menuju holding room VVIP bertemulah dengan Bu Mega dan Mba Puan dan terjadilah foto yang super bersahabat itu. Cekrek-cekrek.

Dalam holding room ada pecakapan. “Sand, we share 50:50 yah” ujar Mas Bowo. Kalau yang susah-susah gw bagi elo.

Kadang-kadang Mas Bowo kalau lagi seneng dia lo gw. Kalau belum begitu akrab, Anda. Kalau lagi pidato, “engkau”. Kalau ama adek-adek junior TNI, kau. Cair aja orangnya.

Soal “engkau” ini pernah saya bahas dengan beliau suatu saat. Kenapa kata “Anda” yang ditulis di script pidato jarang bapak baca dan diganti jadi “engkau”?

“Soekarno menyebut ‘engkau’, itu lebih sastrawi”, jawabnya.

Singkat cerita, debat pun dimulai. Saya jadi stuntman. Dua sesi pertama saya jadi stuntman melihat dua babak di depan. Menggantikan kursi Hanafi Rais yang tak terisi di belakang panggung. Begitu Hanafi datang, gantian saya menggantikan kursi Said Iqbal. Lantas Gamal datang, saya kasih kursi ke Gamal.

Saya punya penglihatan sendiri. Soal rasa. Ya soal rasa. Saya merasakan Pak De Jokowi diliputi nuansa anger, amarah, dan ketegangan.

Apa ini suatu yang direncanakan, saya tidak tahu. Tapi kuat dugaan memang ini sengaja, untuk memancing emosi Mas Bowo.

Pak De Jokowi menyerang dari langkah pertama. Saya yakin dan percaya, para advisor di sekelilingnya yang saya tampak ada di sana memberikan masukan ini, memberikan strategi itu.

Strategi yang membuat Jokowi tidak seperti Jokowi yang tampak kita kenal sepanjang kita melihatnya dari luar. Bersahaja dan baik hati.

Malam itu dia tampak berkuasa dan keras hati. Mungkin jubah presiden itu mengubah dirinya. Kuasa memang banyak mengubah watak laki-laki.

Bahkan seorang laki-laki desa biasa sekalipun. Di hadapan kuasa yang merasuk pada diri, dia bisa berubah total. Atau pameo lain, kuasa memperlihatkan watak asli seorang laki-laki.

Anda bisa tentukan mana yang anda pilih. Dia laki-laki yang berubah, atau dia yang begitu-gitu saja. Silahkan nilai sendiri.

Beberapa advisor saya kenal baik. Ada yg duduk di belakang panggung, ada pula yang mungkin dari jauh melihat. Mencatat dan memberi input.

Dengan “sengaja” mereka memberi masukan untuk menyerang Mas Bowo untuk memancing emosi Mas Bowo. Diharapkan dengan serangan itu, Mas Bowo akan terpancing dan tak terkendali.

Sepanjang yang saya tangkap, lawan politik kerap mempercayai bahkan sampai pada level Iman, bahwa Mas Bowo ini temperamental. Pancing saja emosinya. Dia akan menyalak.

Lantas setelah itu biar dia menggali kuburnya sendiri. Kalau sudah begitu. Kita tinggal mempermalukan dia.

Saya punya catatan tersendiri soal ini. Dengan keyakinan mau mencuri point besar dengan menyerang emosi Mas Bowo di debat pertama, supaya debat-debat selanjutnya lebih mudah, ternyata tidak berhasil.

Akhirnya Pak De Jokowi dalam hemat saya, malam itu tampil bukan sebagai petahana yang harusnya lebih mengedepankan prestasi kepemimpinan dan hasil kerja serta capaian di bidang Hukum, HAM, Terorisme, dan Korupsi.

Tetapi dia fokus mau membuat Mas Bowo marah. Dia fokus menyerang. Bahkan di penutup debat, Pak De tampak menggulung baju. Apa maksudnya ini?

Hanya ada dua opsi. Opsi denotatif, mau menampakkan citra bekerja, tapi karena ini suasana debat, dan sebelumnya penuh serangan-serangan. Tafsir lain lebih dimungkinkan, singsingan lengan mengajak berkelahi.

Alih-alih Pak De berhasil, yang ada dia yang tampak marah. Mas Bowo justru rileks, kelewat rileks bahkan. Apakah rileks ini bisa dibuat buat? Saya fikir susah.

Jadilah malam itu seperti posisi yang tertukar. Pak De rasa penantang. Mas Bowo rasa Incumbent. Yang ditantang seputar Mas Bowo di Gerindra. Kesan yang saya tangkap, Pak De sedang mau mengkritik ketua umum Gerindra. Supaya dia bisa jadi ketua umum. Hehe… Semacam penantang calon ketum Gerindra menyerang ketum incumbent.

Tapi seorang kawan membisikkan, inilah hal sengaja yang penuh kesadaran dilakukan Pak De Joko. Mengacaukan konsentrasi psikologi dan emosi Mas Bowo.

Kita tahu, secara psikologis, Gerindra identik dengan Mas Bowo. Beliau membesarkan Gerindra dari nol hingga sampai sebesar sekarang ini.

Jika menyerang Gerindra dan Mas Bowo sekali pukul maka ini tentu akan membuat mekanisme self defence Mas Bowo diharapkan berjalan. Sehingga akal jadi ga jalan. Serangan psikologis untuk mematikan nalar Mas Bowo.

Terkapar kah Mas Bowo? Hilang nalar kah dia? Ini menariknya.

Ternyata tidak. Mas Bowo tidak terpancing. Mungkin Mas Bowo ingat. Eling dan waspodo.

Di sini peran Bang Sandi sangat kuat. Bang Sandi bisa membuat Mas Bowo rileks. Vibe yang diberikan Bang Sandi di sisi Mas Bowo sangat positif.

Istilahnya, jika Mas Bowo adrenalin, Bang Sandi serotinin dan endorphine. Bang Sandi bikin Mas Bowo Enjoy.

Serangan psikologis eks pedagang mebel tak berhasil melumpuhkan psikologi eks komandan pasukan khusus ini. Ada seorang akuntan dan pengusaha investasi keuangan yang menenangkan dan membuat damai.

Justru serangan kepada diri pribadi dan Gerindra, dihadapi Mas Bowo dengan rileks, sambil menggoyangkan diri, melenggok. Suasana gerrr pun tercipta.

Break!

Gamal datang. Saya leluasa ke belakang panggung. Dan bisa menyamperin Mas Bowo dan Bang Sandi ke panggung.

Gimana? “Santai Bang” kata saya. Minta teh panas donk. Biar enak. Dingin banget AC. Spri pun berlari mengambil teh panas.

Dalam break itu berbeda dengan Mas Bowo dan Pak De.

Pakde banyak didatangi pelatih tinju. Ada yang membawa handuk. Mas Bowo hanya didatangi teman-teman pendukung. Sambil ketawa ketiwi saat break. Tidak ada pelatih tinju yang wara wiri ke Mas Bowo.

Saya melihatnya begini. Pak De Jokowi ini ibarat anak laki-laki satu-satunya di dalam keluarga. Dia anak tertua dengan tiga adik perempuan semua. Seluruh saudarinya perempuan. Jadi memang cendrung kepribadiannya akan dominan unsur femine.

Kebalikan Mas Bowo yang sangat maskulin sebagai komandan pasukan khusus/tempur. Melewati masa kecil yang keras di pengasingan. Dan punya adek laki-laki bernama Hashim.

Hashim pernah cerita kejadian kecil yang membuat bulu kuduknya berdiri melihat sikap berani Mas Bowo. Suatu ketika di Singapura, saat umur kami 7/8 tahun. Ketika asik bermain, kakinya tertusuk paku yang sangat dalam. Sehingga ia kesakitan, meringis, tapi tak berani menarik paku yang dalam itu dari kakinya tersebut.

Mas Bowo dengan keberanian tingkat tinggi menahan mulut saya dan dengan secepat kilat menarik paku yang panjangnya kira kira sejari teluncuk orang dewasa itu. Udah kamu diam!

Itu masa kecil. Itu tak pernah bisa saya lupakan ujar hashim. Ga sembarangan anak kecil berani melakukan itu dalam kenangan Hashim. Di dirinya dominan unsur maskulin.

Sehingga dalam debat, Pak Jokowi berusaha semaksimal mungkin menjadi macho dan “gagah berani” dengan menyerang. Menekan dominasi femine dalam dirinya. Sementara Mas Bowo yang dipersepsikan sebagai sosok yang keras dan tegas berusaha tampil soft, tidak melawan ketika diserang. Kedua belah fihak jadi tampil berkebalikan atas persepsi yang ada selama ini. Berusaha tampil femine.

Dugaan saya ini bukan strategi masing-masing. Tapi terjadi secara subliminal di alam bawah sadar Mas Bowo dan Pak De Joko. Melawan bawaan badan masing masing.

Sebagai pesilat dan pemegang penuh filosifi pendekar, dia mundur saja ke belakang jika melihat lawan yang tak sebanding. Atau lawan menganggapnya curang.

Pak De Joko memilih frasa nuduh. Itu agak mengganggu psikologi Pendekar Bowo. Karena pendekar memang kurang suka dengan atribuasi curang atau tak ksatria.

Tapi mundurnya terlalu jauh ke belakang. Mas Bowo tidak mau menyerang balik.

Teeet. Waktu habis.

Saya naik ke atas. Mas Bowo ke toilet. Saat Mas Bowo ke toilet saya samperin Bang Sandi. Bang Sandi tanya saya, “gimana soal Novel, kita keluarin ga?” Saya bilang, “ga usah lah. Kalau mereka ga menyerang ganas. Ga usah. Udah ga perlu. Udah bagus kok”, kata saya.

Ternyata sebelumnya Mas Dirman dan Mas BW sudah menekankan untuk di sesi akhir tolong angkat soal Novel.

Sampai debat berakhir. Akhirnya Mas Bowo tiada sama sekali balas menyerang Pak De Joko. Bang Sandi cerita, di sesi akhir, Bang Sandi minta waktu 30 detik untuk membahas soal Novel, untuk menambahkan saja di closing statement. Jika Prabowo Sandi dipercaya, soal Novel akan dituntaskan dalam 100 hari. Toh semua sudah diketahui duduk soalnya. Tinggal perlu pemimpin yang berani saja.

Mas Bowo ternyata bilang ke Bang Sandi, “udah ga usah sand. Ga tega”. “We have allready lead”. Jadilah Bang Sandi patuh pada keputusan Mas Bowo.

Debat berakhir. Ternyata keengganan Mas Bowo membalas serangan individual dan attacking Gerindra secara lembaga dari Pak De buat gemes para pendukungnya.

Mba Titiek, “The ex” yang sekarang jadi best friend itu tiba-tiba menghampiri dan dalam kerumunan protes ngedumel ke Mas Bowo. “Kamu kenapa sih ga serang balas, partai mana yang paling banyak korupsi dan ditangkap KPK itu partai mana, kan dari mereka” ujar Mba Titiek.

E Mas Bowo cuma senyam senyum mesem mesem. “Udah biar, biar aja. Ga usah. Ga usah” bisik Mas Bowo. Saya menyaksikan langsung dialog ini. Saya melihat, memang antik dan unik juga Mas Bowo ini.

Debat selesai. Tiba tiba M Lutfi, Rosan, dan Tuan Guru Bajang datang menghampiri Pak Prabowo dan Bang Sandi. Bersalaman bermanis-manis. Cupika cupiki. Saya tidak faham apa maksud tiga orang ini datang. Yang jelas Pak Zainul Majdi alias TGB ini punya stories yang panjang dengan Bang Sandi.

Waktu periode pertama jadi Gubernur di NTB Bang Sandi banyak membantu. Pilpres 2014 juga jadi ketua team Prabowo Hatta di NTB. Belakangan berbalik menjadi campaigner die hard Pak De Joko. Lain Rosan lain Lutfi. Dua nama ini perlu ditulis lebih komprehensif di lain kesempatan agaknya hehe.

Mas Bowo menyalami mereka denga suasana sangat cair dan bersahabat. Ya kita sekarang “musuhan dulu” kata Pak Bowo. Namanya juga lagi kompetisi. Besok kita “temanan lagi”. Gerrrrr lagi. Saya heran juga, Mas Bowo bener bener ketawa aja. Joyfulll. Tanpa beban dan rileks.

Acara selesai. Kita ke holding room dulu seperti biasa. RI1 harus pulang dulu dengan segala SOP paspampres. Mas Bowo dan Bang Sandi harus nunggu di holding room. Di sanalah Mas Bowo menjelaskan kenapa dia tidak memilih menyerang balik. “Tidak perlu katanya”.

Suasana joyfull. Rileks.

Saya senang menyaksikan ini. Bagi saya suasana Joyfull antara Mas Bowo dan Bang Sandi ini menggemberikan saya. Mereka benar-benar menjadi dynamic duo. Saling mengisi dan melengkapi.

Mas Bowo taking lead, tapi Bang Sandi bebas bermanufer dan tidak kaku. Ini adalah style kepemimpinan yang baik sehingga yang di puncak piramida kepemimpinan tidak merasa benar sendiri.

Macam Steve Job yang punya Wozniak. Macam Soekarno yang punya Hatta, macam Mercedez yang punya Benz. Maka malam itu ke seluruh jagad, Mas Bowo mengabarkan kepada dunia bahwa dia punya Sandi.

Prabowo Sandi. The Dynamic Duo.

Go Go Mas Bowo Go
Go Go Bang Sandi Go

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita