Kamis, 16 September 2021

Bantahan Terhadap Tulisan Syafii Maarif Tentang Pemimpin Non Muslim

Bantahan Terhadap Tulisan Syafii Maarif Tentang Pemimpin Non Muslim

Oleh: Muhammad Edwars*

Banner Iklan Swamedium

Melbourne, Swamedium.com — Mohon bantuan kawan-kawan disini untuk share dan menyebarkan tulisan saya di fb ini. Tulisan Syafii Maarif ini perlu disanggah dengan tegas agar saudara-saudada kita tidak terpengaruh. Terima kasih pada mbak Rima yang sudah share duluan.

Bantahan Terhadap Tulisan Buya Syafii Maarif Tentang Pemimpin Non Muslim

https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/19/01/22/plplyg440-ibnu-taimiyah-tentang-penguasa-yang-adil

Mungkin dengan maksud untuk menggelar karpet merah untuk BTP (Ahok) yang dibebaskan, dua hari sebelumnya Buya Syafii menulis di kolom Resonansi Republika tentang bolehnya umat Islam memilih pemimpin non-Muslim. Untuk mendukung pendapatnya itu, Buya Syafii mengutip dan mendasari argumennya pada perkataan Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah yang saya copy paste dari tautan diatas:

“Wa inna Allâh yuqîmu al-daulat al-‘ádilah wa in kánat kâfirah wa lá yaqûmu al-dhâlimah wa in kânat muslimah” (Dan Allah membiarkan bertahan negara yang adil sekalipun dipimpin oleh orang kafir; dan (Dia) tidak membiarkan [negara] zalim untuk bertahan sekalipun dipimpin oleh penguasa Muslim)

Kalau dilihat selintas, kelihatannya dalil yang dikemukakan Buya Syafii sangat solid sehingga bisa saja membuat orang berkesimpulan: kalau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sudah berkata begitu, berarti memang Islam membolehkan umatnya memilih pemimpin non-Muslim. Siapa kita dibandingkan dengan Ibnu Taimiyah yang muridnya saja termasuk Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan Ibnu Katsir?

Kalau dibaca secara kritis, pembukaan yang diberikan Buya Syafii tentang Ibnu Taimiyah jelas ditujukan untuk membuat kita terkagum akan figur ulama besar abad ke-7 Hijriah itu – dan memang seharusnya begitu; lihat saja keluasan ilmu, dakwah, jihad dan karya-karya Beliau. Hanya saja Buya sepertinya memanfaatkan kekaguman kita itu untuk membuat kita lengah dan kurang berhati-hati dalam mencermati narasi yang dia coba kembangkan untuk menggiring umat Islam Indonesia menerima dan mau memilih pemimpin yang berbeda aqidah.

Pertama. Kutipan perkataan Imam Ibnu Taimiyah diatas sama sekali tidak berbicara tentang memilih pemimpin, apalagi memilih pemimpin non Muslim. Syaikhul Islam berbicara tentang pentingnya suatu negara atau pemerintahan menegakan keadilan. Ini bisa dilihat dari pendahuluan kutipan diatas yang entah dengan sengaja tidak dimasukan Buya Syafii. Imam Ibnu Taimyah memulai perkataannya dengan:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ

Artinya: “Manusia tidak berselisih bahwa balasan dari perbuatan zalim adalah kebinasaan sementara balasan dari sikap adil adalah kemuliaan.”

Kedua. Buya Syafii dengan sengaja menyelipkan kata ‘pemimpin’ pada terjemahan perkataan Imam Ibnu Taimiyah yang sebenarnya tidak ada sama sekali dalam teks asli Bahasa Arabnya. Teks, “Wa inna Allâh yuqîmu al-daulat al-‘ádilah wa in kánat kâfirah wa lá yaqûmu al-dhâlimah wa in kânat muslimah” seharusnya diartikan, “Allah membiarkan berdiri negara yang adil walaupun kafir, sedangkan negara yang zhalim tidak akan berdiri walaupun Muslim.”

Dari mana datangnya kata ‘pemimpin’? Hanya Buya Syafii yang bisa menjelaskan mengapa Beliau menambahkan kata ‘pemimpin’ dalam terjemahannya. Yang jelas, teks pendahulu dan kalimat Imam Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Buya Syafii sama sekali tidak bicara tentang pemimpin, apalagi sampai dijadikan sebagai dalil untuk membolehkan memilih pemimpin selain dari orang yang beragama Islam.

Dengan menambahkan kata ‘pemimpin’ pada terjemahannya, Buya Syafii kemudian membuat kesimpulan, “Tidak tanggung-tanggung, Ibnu Taimiyah memilih negara yang adil sekalipun pemimpinnya tidak beriman, daripada negara zalim sekalipun pemimpinnya Muslim.” Buya, sekali lagi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak berbicara pemimpin, tapi berbicara negara, pentingnya menegakan keadilan dalam bernegara. Jangan membuat kesimpulan sendiri, Buya.

Saya berharap Buya Syafii Maarif membaca sanggahan ini dan meralat tulisannya yang menurut saya sangat tidak etis karena dengan cara yang elok mempelintir perkataan Syaikhul Islam untuk menghalalkan apa yang sudah jelas-jelas diharamkan oleh Allah. Menurut saya ini adalah kezhaliman terhadap Ulama Besar Ibnu Taimiyah dan fitnah besar umat Islam Indonesia.

Tulisan Buya ini tentu menjadi konsumsi yang lezat sekali bagi orang-orang yang memang mencari pembenaran memilih pemimpin non-Muslim, termasuk mereka yang selama ini tidak mau menerima pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan bahkan mengecam dan menolak Beliau.

Sekedar mengingatkan Buya Syafii, saya Muhammed Edwars dari Melbourne, yang pernah mendebat Buya pada tahun 2015 di Makassar ketika Buya mengatakan, “Allah saja tidak membedakan mu’min dengan kafir.” Na’udzubillah.

Melbourne 24012019

Sumber: https://www.facebook.com/100001076022145/posts/2114860248559822/

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita