Jumat, 17 September 2021

Membebaskan Imran Kumis

Membebaskan Imran Kumis

Oleh Setiawan Budi*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Perawakannya kurus, tubuhnya tidak tinggi. Orang memanggilnya Imran kumis, padahal dirinya tidak lah berkumis.

Remaja asal Ampenan, NTB ini menjadi viral setelah di gelandang ke polres Mataram karena mem-posting yang di anggap sebagai ujaran kebencian.

Jumat tanggal 18 Januari 2019, Imran menuliskan status di akun facebook (FB)-nya yang berisi caption “Bodohnya orang Islam yang memilih Jokowi! Dasar munafik!” Akibatnya, sekonyong-konyong tanggal 19 Januari 2019, ia ditangkap dan diamankan oleh Polres Kota Mataram.

Hanya selang 1 hari, Imran di datangi oleh kepolisian Mataram dan di bawa ke kantor untuk di adakan pemeriksaan. Ada laporan dari orang2 yang membaca dan ada timbul kemarahan pada diri orang2 tsb yang membuat mereka mengadukan perbuatan Imran ke kepolisian setempat.

Imran di kenakan telah melanggar UU ITE pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan elektronik.

“Pelaku melakukan ujaran kebencian terhadap presiden di media sosial facebook,” ungkap Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam

Yap…lagi2 UU ITE memakan korban rakyat yang mencoba bersuara melalui apa yang dia ketahui.

Terlalu reaktif jika ocehan Imran kumis di anggap sebagai ujaran kebencian pada presiden. Dia masih remaja, masih mencari identitas dirinya. Dia hanya punya agama yang harus dia tegakkan karena itu adalah kewajiban umatNYA.

Imran kumis adalah remaja yang mempunyai penilaian atas diri Jokowi. Selama 4 tahun memimpin, bagi dirinya sudah bisa menilai bagaimana kinerja seorang Jokowi di matanya.

Penilaian itu, dia tuliskan melalui akun Facebook miliknya. “Sungguh bodoh orang islam yang masih memilih dirinya..”

Dalam agama Islam, kita di ajarkan untuk peduli pada sesama, kita di ajarkan untuk tidak menjadi individualis atas permasalahan yang ada di dunia saat ini, khusunya di lingkungan kita.

Dan Imran kumis, melihat hal itu..

Di daerah dia saat ini, telah terjadi gempa yang meluluh lantakkan tanah NTB. Banyak yang jadi korban, banyak yang menderita karena harta benda semua hilang. Telah 6 bulan berlalu, banyak korban masih mendiami pengungsian. Janji pemerintah Jokowi untuk membangun perumahan, ternyata tidak secepat apa yang dia katakan.

Bisa jadi Imran melihat hal itu sebagai sebuah pengingkaran pada janji. Pemimpin seperti ini sangat tidak layak untuk mendapatkan dukungan di periode selanjutnya.

“Jadilah pemimpin yang bisa tepati janji pada rakyatnya. Jangan jadikan rakyat sebagai anak tangga menuju kekuasan dengan perkataan bohong belaka”

Selama 4 tahun, banyak kejadian yang menimpa pada orang2 yang di anggap bersebrangan. Terlebih jika mereka berasal dari komunitas agama yang sudah jelas keras bersuara. Tudingan radikal, anti Pancasila kerap di tuduhkan atas permintaan rasa keadilan pada mereka.

“Jokowi anti Islam”

Begitu lah banyak pemberitaan yang beredar di kalangan rakyat. Pemberitaan yang tendensius namun termakan oleh tim petahana sendiri. Memilih seorang MA pun mereka lakukan untuk menghapus tudingan anti Islam.

Imran adalah anak muda yang mempunyai kegundahan sendiri. Geram, emosi dan terlalu bersemangat membuat dirinya berlaku membuat postingan itu. Imran salah jika mengacu pada pasal yang di tuduhkan, namun sikap penindakannya sangat berlebihan.

Tafsir UU ITE memang hanya di miliki oleh aparat hukum saja, bagi saya..Imran tidak salah. Banyak yang lebih hebat dan lebih liar caption mereka di sosmed, tapi luput dari pelaporan.

Tapi inilah hukum kita, baik dan buruknya kita harus terima bahwa negeri ini sungguh aneh dalam ketegasan hukum. Kita hanya bisa menerima dan mengangguk atas cara kerja mereka. Hukum di tangan penguasa, itu yang kita lihat.

Kemarin, ayah Imran datang ke kantor polisi meminta penangguhan penahanan anaknya. Disabilitas yang di deritanya, membuat dia harus merangkak meminta penangguhan penahanan Imran. Ia hanya membawa air mata kesedihan agar permohonan penangguhan anaknya bisa di terima.

Imran, anak muda yang seharusnya bisa di tindak secara persuasif.

Imran tidak edit gambar Jokowi, Imran tidak membuat hinaan secara kasar pada Jokowi, Imran tidak membuat Jokowi menjadi sesuatu yang di tertawakan.

Imran hanya menuliskan kegundahan hatinya, dan itu di anggap pelanggaran oleh hukum kita.

Para pejuang medsos, akan terus bersuara. Sudah banyak yang terpenjara, tapi tidak menyurutkan niat mereka untuk peduli pada bangsa dengan cara yang mereka punya.

“Kami hanya punya ini, dan dengan cara ini kami ingin membantu bangsa ini keluar dari masalahnya. Tolong jangan anggap kami lawan-mu, musuh-mu, atau virus yang harus kau basmi. Dengarkan suara kami, renungkan jika kau memang mendengar..ingatkan kami jika ada yang salah. Abaikan jika kau anggap hanya ocehan kosong belaka”

Saya bersama Imran kumis, demi sebuah perbaikan.

#SaveImranKumis

*Penulis adalah Pegiat media sosial

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita