Jumat, 17 September 2021

Menebak Partai Islam yang Dimaksud HRS

Menebak Partai Islam yang Dimaksud HRS

Imam Besar Habib Rizieq Syihab.

Oleh: Erwyn Kurniawan*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Sebuah maklumat dengan cepat datang dari Habib Rizieq Shihab (HRS), Senin, 28 Januari, usai Partai Bulan Bintang (PBB) memastikan dukungannya kepada Jokowi-Ma’ruf. Salah satu isinya mengajak umat Islam memilih partai Islam yang tidak menista agama dan mendukung Ijtima’ Ulama. Pertanyaannya, apa Partai Islam yang dimaksud HRS?

Seruan semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak Pilkada DKI 2017 dan paska itu, ajakan tersebut sudah menggema terutama di media sosial. Lalu terus berlanjut ketika para ulama berijtima’ untuk menentukan sosok capres dan cawapres yang direkomendasikan. Ajakan tersebut makin gencar saat pemilu 2019 di depan mata dan PBB secara resmi berada di gerbong petahana.

Sekarang mari kita telisik Partai Islam yang dimaksud HRS. Di Indonesia, setelah Reformasi 1998, banyak partai Islam berdiri. Seiring perjalanan waktu, mereka berguguran dan kini hanya tersisa Partai Keadilan Sejahtera(PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan PBB.

Definisi partai Islam disini kita lihat dalam perspektif asas dan basis pemilih. Dari sisi asas, partai yang secara tegas menyebut Islam sebagai asasnya, yakni PKS, PPP dan PBB.

Sementara itu, PAN dan PKB tak berasas Islam, namun basis pemilih mereka dari kalangan umat, yang diistilahkan oleh Clifford Geertz sebagai Islam Santri. PAN dengan massa Muhammadiyahnya, lalu PKB dan PKB dengan nahdliyinnya. PAN dan PKB masing-masing memiliki relasi kultural dengan Muhammadiyah dan NU, meski secara struktural tidak ada. Kategorisasi partai berdasarkan basis pemilih ini merujuk teori yang diteorikan oleh Gabriel Almond dalam buku Kelompok Kepentingan dan Partai Politi, karya Mochtar Mas’ud dan Collin MC Andrews (1978).

Nah, kini kita kontekstualkan tafsir partai Islam di atas dengan seruan HRS dan dinamika politik kekinian. Pada Pilkada DKI putaran pertama, partai Islam terfragmentasi ke dalam dua gerbong. PPP, PKB, dan PAN merapat ke pasangan Agus-Sylvi. Sementara PKS berada di kubu Anies-Sandi. Pada putaran kedua, polarisasinya kian jelas. PAN ikut PKS mengusung Anies-Sandi, sementara PKB dan PPP pindah ke Ahok-Djarot.

Berlanjut pada Ijtima’ Ulama dan pemilu 2019. Komposisinya relatif tak berubah. PKS dan PAN mendukung Ijtima’ Ulama, sedangkan PPP dan PKB mendukung Jokowi-Ma’ruf yang tidak direkomendasikan ulama. Pada saat itu, posisi PBB masih belum jelas.

Baru pada Ahad, 27 Januari 2019, semuanya terang-benderang. PBB resmi mendukung petahana. Penolakan datang dari para caleg dan kadernya. Diikuti dengan maklumat HRS dari Mekah.

Lalu, sudahkah terjawab partai Islam apa yang dimaksud HRS? Seharusnya sudah. Tinggal lihat saja partai mana yang sejak awal istiqomah bersama umat dan ulama. Dan Pilkada DKI dari putaran pertama menjadi tolak ukurnya. Sebab, para ulama dan habaib secara tegas mendukung Anies-Sandi sejak putaran pertama tersebut.

Jika ini jadi rujukannya, maka saya teramat yakin PKS partai Islam yang dimaksud HRS. Salahkah tebakan saya?

Rasanya tidak. Dan Saya pikir, HRS tak perlu buat maklumat secara eksplisit partai Islam mana yang dimaksud. Sebab semuanya telah kasat mata.

*Penulis adalah Politisi

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita