Senin, 20 September 2021

Keanehan Presiden/Capres Petahana

Keanehan Presiden/Capres Petahana

Oleh: M Rizal Fadillah*

Banner Iklan Swamedium

Bandung, Swamedium.com — Suatu sifat aneh bisa saja disebut unik. Hal ini berlaku untuk setiap orang. Berbeda itu biasa dan setiap perbedaan bisa menimbulkan penilaian. Hal itu wajar wajar saja, apalagi terjadi pada seorang figur publik apakah artis, politisi, pejabat, ataupun Presiden.

Sikap aneh Presiden Jokowi sebagai pimpinan bangsa dapat berefek baik atau buruk. Tergantung pada konten dan konteks sikap itu ditampilkan. Ada beberapa keanehan yang unik tersebut.

Pertama, suka pada ‘pose diri’ seperti duduk di atas mobil Esemka, foto diri di tempat mushibah, mengunjungi petani, atau foto got dan cukur. Tampilan pencitraan menjadi “trade mark” yang melekat.

Kedua, gemar memelihara kodok dan anak katak (cebong) suatu hal rasanya tak pernah ada pemimpin yang memiliki kesukaan seperti ini. Implikasisinya muncul sebutan cebong bagi “pengikutnya”.

Ketiga, senang berbagi tanggungjawab sebagaimana “lempar” beban pada menteri-menteri, baik dalam urusan dalam negeri maupun saat menjawab pertanyaan wartawan luar negeri.

Keempat, mengambil kebijakan dengan cepat, seperti saat menyatakan pembebasan Ba’asyir dan secepat itu pula membatalkannya.

Keanehan terakhir yang ditunjukkan adalah memuji perilaku hoax dan memberi penilaian sebaliknya yakni “jujur”. Ini berkaitan dengan kasus bohong besar Ratna Sarumpaet. Semua mengecam “bohong dan nekad” nya Ratna Sarumpaet yang tega “memermak” wajahnya sendiri. Kemudian menjerat korban dengan tuduhan menyebarkan hoax. Betapa bejatnya “permainan” Sarumpaet.

Jokowi memuji Sarumpaet yang konon jujur mengakui kebohongannya. Warga tahu Sarumpaet sedang “bermain” atau “dimainkan”. Entah dia memang “suka rela” diperlakukan seperti itu atau memang “tertekan” sehingga siap melakukan kebohongan besar. Ratna Sarumpaet jadinya pantas digelari “Ratu Hoax” Indonesia.

Ucapan Jokowi yang memuji kejujuran Sarumpaet memang sangat aneh. Dapat menimbulkan tafsir ada hubungan erat satu dengan yang lain. Apakah Ratna “susupan” atau sejauh mana “tahu” nya Jokowi soal “kehebatan” tokoh kiri Sarumpaet?

TKN Jokowi Ma’ruf ikut memuji Jokowi yang telah memuji Sarumpaet. Ini preseden yang sangat buruk bahwa perilaku hoax dipuji. Akankah Sarumpaet dilindungi dan korban penipuannya justru yang akan disasar. Jika ya sungguh zalim sekali.

Sebaiknya kita jauhi pola permainan politik yang tidak sehat, yakni yang dibangun atas dasar bohong. Tak perlu kita mencemari sistem politik yang dibangun susah payah agar beretika dan bermoral tinggi berdasarkan Pancasila.

Jika terang terangan kita membela orang yang bermain hoax, maka disamping layak kelak disebut sebagai “Raja Hoax” juga sebaiknya jujur saja bahwa ia sebenarnya tak suka pada ideologi Pancasila. Sudahlah, Jujur saja.

Bandung, 5 Februari 2019

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita