Kamis, 16 September 2021

Kisah Sang Rajawali dari Hambalang

Kisah Sang Rajawali dari Hambalang

Jakarta, Swamedium.com — Sekitar jam 12.45 wib., ada pesan masuk di WA dari salah seorang kopassus Prabowo Subianto prihal “Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto : Indonesia Menang oleh Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi”, Senin, 14 Januari 2019, pukul 19.00 wib.

Banner Iklan Swamedium

Meski bukan tim BPN Prabowo — Sandy, pertemanan saya dengan satu dua orang dekat kopassus PSD tetap terjaga, walau cuma lewat WA.

Kita sering menyebut Prabowo Subianto dengan PSD. PSD adalah salah satu panggilan Prabowo Subianto di kalangan intern, singkatan dari Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Selain pula dipanggil 08 yang merupakan kode atau sandi saat di kesatuan pasukan elit Komando Pasukan Khusus TNI-AD (Kopassus TNI-AD).

Tapi setidaknya dari pesan WA tersebut, ingatan saya kembali melayang pada memori lima tahun, dan menjadikan saya menuliskannya kembali dari file yang ada.

Oktober 2013, saat lagi asyik ketak-ketik di notebook, terdengar nada dering lagu Indonesia Raya dari handphone yang sedang dicas. Belum sempat beranjak untuk mengambilnya, ternyata sudah disambar terlebih dulu oleh anak saya, yang kebetulan ada didekatnya. “Pa, ada telpon,” katanya sambil menyerahkan hp.

Begitu saya angkat, hallo, diseberang sana langsung dijawab, “Bisa gak, sore ini ke Hambalang, di undang makan malam sama bapak PSD,” kata salah seorang pasukan khusus PSD. Siap, jawabku. “Oke, ketemu di tempat biasa ya, nanti kita jemput!” timpahnya. Dan hp langsung dimatikan.

Seperti biasa, setiapkali diundang PSD ke kediamannya di Hambalang, Bojong Koneng — Bogor, kita kumpul di salah satu pom bensin di Sentul City — Bogor yang sudah tidak beroperasi lagi. Dari situ didampingi ‘tim pasukan khusus’ mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad, dijemput menuju ke kediaman PSD. Perjalanan dari pom bensin menuju ke kediaman PSD menempuh waktu sekitar 30 menit.

Singkat cerita. Sesampai di sana, seperti biasa dipersilahkan menunggu di salah satu pendopo yang ada.

Sambil menunggu, saya melihat-lihat aneka pajangan yang ada di ruang pendopo berukuran 4 x 4 meter. Pandangan mata saya pun sempat tertuju pada sebuah patung burung rajawali berwarna emas keperakan berukuran sekitar satu seperempat meteran yang berada di sudut kanan ruang pendopo.

Saat memandangi patung tersebut, saya langsung teringat lagu ‘Rajawali’-nya Kantata Takwa, ciptaan Sawung Jabo, Iwan Fals dan Jockie Soeryoprayogo, liriknya ditulis penyair WS Rendra.

Dan saya anggap liriknya pas banget untuk menggambarkan situasi kebatinan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad ini;

Satu sangkar dari besi / Rantai kasar pada hati / Tidak merubah rajawali / Menjadi burung nuri / Rajawali… rajawali / Rajawali… rajawali

Satu luka perasaan / Maki puji dan hinaan / Tidak merubah sang jagoan / Menjadi mahluk picisan / Rajawali… rajawali / Rajawali… rajawali

Meski menorehkan satu luka perasaan, caci maki dan hinaan yang diarahkan kepada dirinya dengan aneka tudingan dan stigmatisasi sebagai orang paling bertanggungjawab di peristiwa kasus penculikan aktivis pro demokrasi ultra kanan 1997/1998, penembakan mahasiswa Trisakti, dalang kerusuhan Mei 1998, dan tuduhan hendak melakukan kudeta Mei 1998, nyatanya tidak merubah sang jagoan menjadi mahluk picisan.

Ia tetap tegar sebagai seorang patriot menghadapi semua gelombang badai itu, dan tetap gagah perkasa sebagai “Sang Rajawali”.

Meski menorehkan satu luka perasaan dicopot dari jabatannya sebagai Pangkostrad atas tudingan insubkoordinasi dan berlanjut dengan pemberhentiannya dari karir militernya, ia tetap tegar menerima dan menghadapi kenyataan ini.

Sebagai seorang patriot, ia tetap setia kepada janji memegang teguh kehormatan sumpah prajurit dengan menyimpan dan menjaga rapat-rapat untuk tidak membuka rahasia sebuah isi “Kotak Pandora”.

Meski namanya hingga kini masih tersandera oleh ragam tudingan dan stigmatisasi atas kasus tersebut, “Sang Rajawali” tetap tegar menghadapinya dan tidak pula merengek minta dibela dikasihani.

Ia tetap yakin pada pepatah filosofi hidup ‘becik ketitik, ala ketara’ yang baik akan tampak dan yang jelek akan terungkap. Dan ia yakin, kalaupun ‘becik ketitik, ala ketara’ datangnya tidak hari ini, kebenaran itu pasti datang sekalipun akan dinyatakan oleh proses waktu.

Dan “Kisah Sang Rajawali dari Hambalang” bukanlah kisah burung nuri yang suka manggut-manggut sambil berteriak melengking asal nyaring untuk dipuji dan disanjung.

Dan “Kisah Sang Rajawali dari Hambalang” adalah burung gagah perkasa yang berteriak lantang memecahkan kesunyian di tengah kebisuan.

Dengan suaranya yang lantang menggetarkan, ia pecahkan kesunyian dan kebisuan untuk menggugah jiwa lara demi dan atas nama kebenaran.

“Kisah Sang Rajawali dari Hambalang” bukanlah kisah burung nuri yang gila sanjung pujian dan manggut-manggut merengek minta dikasihani. Ia kisah burung yang gagah perkasa yang siap menghadapi terpaan badai gelombang yang menghantamnya.

Kita gampang mengadili seseorang. Sementara kita sendiri terkadang tidak fair dan bijak yang dengan begitu mudahnya dipengaruhi prasangka atau hanya dilandasi asumsi dalam mengadili seseorang.

Kita lebih gampang mencaci, memaki, menghujat dan mencari kesalahan dan mempersalahkan orang lain walau hanya didasari prasangka tanpa dukungan fakta dan bukti sekalipun.

Sementara kebaikan, jasa, keberhasilan, prestasi yang pernah diukir tidak pernah dipujikan dan acungan jempol, malah kalau perlu ditutup-tutupi dan dilewati seakan tak pernah ada. Dicari jeleknya buat dicaci, dihujat dan dipersalahkan, sebaliknya baiknya tidak dipujikan.

Stigmatisasi tudingan penculikan aktivis pro demokrasi ultra kanan, penembakan mahasiswa Trisakti, otak di balik kerusuhan Mei 1998, dan isu akan lakukan kudeta di tengah terjadinya krisis politik Mei 1998 inipun selalu dipergunjingan dijadikan konsumsi politik untuk menghadang dan menjegal melajunya mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad ini di Pilpres 2014.

Kini ‘Sang Rajawali’ bersama partainya Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) kepakan sayap terbang tinggi melayang mengarungi angkasa Indonesia Raya.

Dengan mengkibarkan semangat perubahan — Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? — “Sang Rajawali” kembali terbang dengan kehormatannya sebagai seorang patriot menembus kabut malam, menguak cadar fajar, mendatangi matahari, meraih mimpi menjadi pembela kaum papa dan penggugah jiwa lara.

Tulisan “Kisah Sang Rajawali dari Hambalang” ini tidak dimaksudkan untuk membela dan membersihkan stigmatisasi yang ditudingkan kepada mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad sebagaimana tudingan orang paling bertanggungjawab atas peristiwa kasus penculikkan aktivis pro demokrasi ultra kanan, penembakkan mahasiswa Universitas Trisaksi – Jakarta, otak di balik kerusuhan Mei 1998, ataupun isu seputar rencana melakukan kudeta di hari-hari lengsernya Presiden Soeharto juga di Mei 1998.

Biarlah proses sejarah itu sendiri yang akan membelanya seiring perjalanan waktu. Karena sejarah itu sendiri tidak pernah mati.

Begitupun ketika kemudian dibilang bahwa semua peristiwa tersebut adalah sebagai “kehendak sejarah” atau sebagai jalan sejarah yang dihendaki. Dan ketika “kehendak sejarah” itu dihidupi bukan tidak mungkin interpretasi narasi ceritanya pun berkisah bergantung pada siapa yang memainkan kehendak sejarah itu sendiri.

Karena sejarah itu sendiri merupakan rangkaian peristiwa dan fakta yang bisa diwacanakan, diinterpretasikan dan dinarasikan. Semua itu berpulang pada siapa yang mewacanakan, menceritakan, mengopinikan, menuliskan, memberitakan, dan menghidupi semua rangkaian peristiwa dan fakta tersebut untuk dan demi kepentingan apa dan siapa. Bahkan tak jarang hal ini dilakukan untuk memenuhi kepentingan politik pragmatis demi sebuah kekuasaan.

Dari “Kisah Sang Rajawali dari Hambalang” ini kita diingatkan pula pada yang disebut oleh penyair asal Czechnya — Milan Kundera sebagai perjuangan ingatan melawan lupa.

Karena inti dari perjuangan ingatan melawan lupa itu sendiri tak lain sebagai bentuk sikap kritis untuk membebaskan diri salah satunya yaitu membebaskan diri dari keterkungkungan kita pada ingatan yang dihidupkan dan diopinikan. Sehingga di sini pun kita pun dituntut lebih dapat bersikap kritis dan objektif dalam memahami maupun memaknai perjuangan ingatan melawan lupa akibat dari keterkungkungan tersebut.

Dari “Kisah Sang Rawajali dari Hambalang” ini pula diharapkan kita dapat memetiknya sebagai pelajaran sejarah, termasuk bagaimana menjadikan perjuangan ingatan melawan lupa ini sebagai pengalaman sejarah yang akan membebaskan kita dari dari keterkungkungan ingatan yang dihidupkan dan diopinikan.

Dari pengalaman sejarah ini pula akan mengajarkan kepada kita sebuah cara untuk menentukan pilihan, mempertimbangkan, menilai, bahkan kalau perlu mempertanyakan ulang atas sebuah keraguan. Sehingga daripadanya akan mengantar kita kepada sikap kritis dalam memaknai cerita di balik peristiwa antara fakta, histori dan interpretasi yang dibangun.

Karena tidak jarang kisah sejarah itu sendiri dibangun diperuntukkan bagi kepentingan-kepentingan politik pragmatis jangka pendek yaitu hasrat kekuasaan.

“Kisah Sang Rajawali dari Hambalang” juga tak ubahnya cerita di dunia perwayangan Mahabarata, bagaimana ketokohan Gatotkaca sebelum memperoleh kedigdayaan terlebih dahulu harus menjalani penggemblengan dan ditempah di yang namanya “Kawah Candradimuka”.

Aneka ujian, cobaan dan tantangan ini harus ia hadapi sebelum menjadikan dirinya sebagai kesatria yang digdaya, kuat, tahan banting dan menjadi superman ‘otot kawat balung wesi’, dan menjadikan dirinya sebagai superhero yang akan berjuang melawan bala Kurawa.

Bagi “Sang Rajawali”, bahwa dalam perjuangan hidup yang namanya tantangan dan kesulitan adalah hal biasa. “Jika kita mengaku sebagai patriot, maka kita tidak boleh gentar, tidak boleh berkecil hati. Tetap teguh, tetap kokoh,” ujarnya.

Katakan, I am the mountain. Saya tidak akan goyah dari pendirian saya. Saya tidak akan goyah dari cinta saya kepada bangsa, keadilan dan kejujuran”, ucap “Sang Rajawali’ dengan lantang.

Dan sekali lagi, siapa pun yang menyempatkan dengarkan lagu “Rajawali”-nya Kantata Takwa yang dinyanyikan secara lantang oleh Iwan Fals getaran Prabowo Subianto-nya terasa sekali, di antara maki pujian dan hinaan tidak merubah rajawali menjadi burung nuri, dan tidak pula merubah sang jagoan menjadi makhluk picisan.

Kini, di tahun 2019, “Sang Rajawali” kembali kepakan sayap terbang tinggi melayang mengarungi angkasa Indonesia Raya sambil pekikan “Victory and Peace”. Semoga!

Alex Palit, citizen jurnalis Jaringan Pewarta Indonesia “#SelamatkanIndonesia”, seniman bambu unik, pendiri Komunitas Pecinta Bambu Unik Nusantara (KPBUN)

Sumber: https://www.kompasiana.com/pewartaindependen/5c3c54306ddcae37ce71adb2/kisah-sang-rajawali-dari-hambalang

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita