Friday, 13 December 2019

Mimpi Joko dan Paradoks Tol Trans Jawa yang Mahal

Mimpi Joko dan Paradoks Tol Trans Jawa yang Mahal

Truk berangkat dari Jakarta meggunakan tol lalu keluar di Gerbang Tol Cikampek. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan hingga Surabaya melalui jalur pantai utara Jawa (Pantura). Kendala mahal pun perlu disiasati dengan jalur alternatif via Cirebon melalui Jalan Tol Kanci-Pejagan.

“Nah, kalau kita nanti mau total pakai tol, nanti total biaya perjalanan kita itu nambah sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,8 juta. Nah itukan mahal sekali. Jadi kita kebanyakan sih aklau angkutan barang gak pakai tol,” kata Lookman di Jakarta (3/2/2019).

Mulai 21 Januari Kementerian PUPR memang mengenakan tarif baru Tol Trans Jawa setelah sebelumnya diresmikan pada 20 Desember 2018 oleh Presiden Jokowi dan digratiskan untuk mendukung libur Natal dan Tahun Baru. Untuk golongan V (truk dan angkutan sejenis) misalnya dari Jakarta-Surabaya dikenakan tarif sebesar Rp. 1.382.500.

Keluhan itu nampaknya bukan sesuatu yang besar bagi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. Luhut berkelit soal tarif jalan Tol Trans Jawa yang mahal karena terlampau dini untuk menilai tarif yang baru diberlakukan pada pekan ketiga Januari 2019.

“Nanti akan dievalusi. Kan membangun itu mereka juga hitung. Revenue (pendapatan) yang didapat dengan investasi segitu. Itu enggak sembarang dibuat juga,” kata Luhut pada Senin, 4 Februari 2019 lalu di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta.

Pembelaan terhadap tarif Tol Trans Jawa yang mahal dilakukan oleh Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Desi Arryani. Desi percaya dengan kabar tarif yang mahal, namun ia mendengar banyak pihak yang sangat senang dengan adanya Jalan Tol Trans Jawa karena kelancaran dan kecepatan akses.

Ia juga enggan berbicara banyak soal kemungkinan kompensasi tarif Tol Trans Jawa.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.