Wednesday, 24 April 2019

Minim Kesejahteraan, Rawan Dibungkam Penguasa, Inilah Nasib Wartawan

Minim Kesejahteraan, Rawan Dibungkam Penguasa, Inilah Nasib Wartawan

Foto: Setop kekerasan terhadap jurnalis. (ilustrasi/ist)

Pada 1712 terbit surat kabar yang berisi berita dalam negeri, berita kapal, dan semacamnya. Agar berita-berita perdagangan tidak jatuh ke tangan pesaing VOC, koran yang tidak disebutkan namanya ini dilarang terbit.

Nasib yang sama juga dialami Bataviase Nouvelles pada 1744 di Batavia. Hanya bertahan dua tahun, surat kabar ini juga ditutup atas perintah para direktur VOC yang berpusat di Belanda.

Akibat sensor makin diperketat di awal abad ke-20, pada 1903 redaktur Nieusblaad, JF Scheltema, harus mengundurkan diri setelah dihukum tiga bulan penjara karena tulisannya yang tajam mengenai sikap mendua pemerintah kolonial dalam politik candu.

Sementara Ordinansi Pengawasan Pers pada 1937 memberikan kekuasaan mutlak pada pemerintah untuk menutup penerbitan surat kabar. Meski tanpa proses hukum demi tegaknya hukum dan ketertiban.

Pada 1930-an dan selama revolusi (1945-1949), Belanda menutup beberapa surat kabar Indonesia yang terbit di daerah pendudukannya. Hal yang sama juga dilakukan pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Semua penerbitan pers milik Belanda dan Cina diambil alih. Beberapa penerbitan pers Indonesia bisa berjalan di bawah pengawasan ketat.
Boleh dikata, pers mengalami kebebasan pada masa demokrasi liberal karena tidak dikenal SIT (Surat Izin Terbit) dan SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan). Tapi kemerdekaan ini tidak berlangsung lama. Apalagi setelah pada 14 Maret 1957 diberlakukan keadaan perang dan darurat perang (SOB).

Tahun 1957 merupakan tahun tindakan keras terhadap pers yang menghasilkan 125 tindakan antipers berupa penahanan, sanksi ekonomi, pemenjaraan, sanksi perizinan, kertas koran, dan berbagai tindakan lainnya. ”Tiga belas penahanan, tujuh pemenjaraan, dan 32 pembredelan menggambarkan tahun suram bagi pers di Indonesia merdeka,” tulis Edward C Smith dalam bukunya Pembredelan Pers di Indonesia.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)