Saturday, 20 July 2019

Nurani CEO Bukalapak dan Mbah Moen

Nurani CEO Bukalapak dan Mbah Moen

Foto: Asyari Usman. (FB)

Oleh: Asyari Usman*

Jakarta, Swamedium.com — Achmad Zaky adalah pengusaha era digital dan memanfaatkan teknologi digital. Dia mendirikan perusahaan niaga internet, yang namanya cukup “kampungan” yaitu Bukalapak. Tapi, meskipun “kampungan”, Bukalapak beromzet triliunan rupiah per tahun. Achmad Zaky sukses besar. Dan dia dijuluki CEO, Chief Executive Officer. Semacam direktur utama.

Kiyai Haji Maimoen Zubair adalah ulama karismatik. Beliau memimpin pesantren Al-Anwar Di Sarang, Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Mbah Moen, panggilan hormat untuk Kiyai Maimoen, juga seorang “pengusaha”. Tepatnya entrepreneur dakwah yang “omzet”-nya tak ternilai dengan angka-angka duniawi.

Nah, sekarang kita menghadirkan dua bidang usaha yang berbeda kontras. Satu usaha dunia, satu usaha akhirat. Dua bidang ini tentu berbeda jenis manajemen dan berbeda produk. Berbeda proses, berbeda tujuan. Berbeda suasana kerja, berbeda cara kerja.

Ajaibnya, ada persamaan antara CEO Bukalapak, Achmad Zaky, dan Mbah Moen. Mereka ditakdirkan berjumpa di lingkaran Jokowi. Sama-sama terkait dengan kepentingan politik Jokowi. Mereka sama-sama keceplosan. Mbah Moen keceplosan doa, sementara Zaky keceplosan kritik. Mbah Moen keceplosan mendoakan Prabowo menjadi presiden di depan Jokowi, sedangkan Zaky keceplosan menyatakan pesimismenya terhadap kecilnya dana penelitian dan pengembangan (research and development atau R&D) di Indonesia.

Kedua keceplosan ini membuat Pak Jokowi merasa tak enak. Karena itu, Mbah Moen dan Zaky melakukan langkah yang sama. Sama-sama melakukan ralat. Mbah Moen dipaksa meralat doa oleh Romi (ketum PPP). Sedangkan Zaky dipaksa meralat ucapan dalam bentuk permintaan maaf kepada Jokowi.

Tetapi, apakah dua ralat yang dilakukan oleh kedua tokoh ini berarti menghapus esensi dari keceplosan mereka? Pastilah tidak. Ralat atau permintaan maaf adalah bentuk penghormatan kepada pihak yang tercederai oleh keceplosan.

Kedua-dua keceplosan ini keluar dari nurani. Dalam konteks pilpres, nurani Mbah Moen dan nurani Zaky telah terisi penuh dan solid oleh Prabowo Subianto. Nama Prabowo menjadi ‘default’ nurani pilpres kedua pemimpin yang berlainan dunia usaha itu. Kata banyak orang bijak, nurani itulah yang berperan sebagai ‘transmitter’ dalam hubungan dengan Yang Maha Kuasa (hablun minallah).

Ketika Mbah Moen mengucapkan “jadikan Prabowo sebagai presiden”, itulah nurani beliau. Itulah dambaan Mbah. Begitu juga dengan Zaky. Sewaktu dia mengatakan, “mudah-mudahan presiden baru bisa menaikkan dana R&D Indonesia” maka itulah nurani Zaky. Itulah ‘default’ kedua tokoh.

Default itu tak bisa diganti sembarangan. Prosedurnya panjang. Anda harus menghubungi pabrik yang membuat gadget Anda. Bisa jadi Anda dapat melakukan perubahan secara online. Tetapi salah-salah tekan tombol, akan muncul kata ‘instruction denied’ alias ‘instruksi ditolak’.

Dipaksa meralat memang satu-satunya jalan yang tersisa. Tetapi, semua yang berbau paksaan tentu tidak akan melahirkan ketenteraman. Kontak batinnya lain. Coba saja Anda usahakan pertemuan yang memancarkan suasana tulus-ikhlas antara Pak Jokowi dan Mbah Moen. Juga dengan Achmad Zaky. Tidak akan menghasilkan ‘blending of heart and mind’ (kecocokan hati dan pikiran).

Karena itu, yang terjadi secara alami biarkalah berlalu. Tak usah dilakukan rekayasa ralat atau permintaan maaf. Sebab, cara ini malah bisa kontraproduktif bagi Pak Jokowi. Lagi pula, meyakini ralat akan mengesankan seolah Anda tak percara pada takdir.

Yakinkah bahwa keceplosan Mbah Moen dan Achmad Zaky adalah kehendak yang sifatnya supranatural. Iradah dari Yang Maha Pencipta. InsyaAllah akan ada hikmahnya bagi Pak Jokowi.

*Penulis adalah wartawan senior

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)