Minggu, 24 Januari 2021

Parah! 500 Siswa Muslim Morotai Dibaptis Usai Karnaval Merah Putih

Parah! 500 Siswa Muslim Morotai Dibaptis Usai Karnaval Merah Putih

 

Morotai, Swamedium.com — Karnaval Merah Putih yang digelar  Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN), Kamis 21 Februari 2019 di pantai Armydoc Nepebest, Kecamatan Morotai Selatan, kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara bermodus misi agama.

Banner Iklan Swamedium

Parahnya, tercatat sebanyak 500 siswa SMA Negeri 1, SMK Pelayaran, SMPN 1, MIS Gotalamo  Aliyah dan SD se-Kota Daruba Morotai yang ikut  kegiatan yang dikemas  dalam sosialisasi anti narkoba dan seks bebas  dengan  itu diarahkan menghadap ke laut dan dilakukan kegiatan yang diduga sebagai pembaptisan.

Sesuai fakta-fakta lapangan menemukan  karnaval merah putih YBSN  menyertakan symbol-simbol agama. Padahal sesuai edaran  YBSN ke  sekolah-sekolah Islam, kegiatan ini  tidak boleh membawa  simbol agama karena temahnya murni  nasionalis. Dengan fakta ini, tokoh agama di Morotai menganggap  ada upaya pendangkalan aqidah terhadap  generasi islam yang ikut  karnaval merah putih itu.

Dugaan Kristenisasi terselubung  yang dilakukan YBSN melalui aksi sosial dan solidaritas kebangsaan. Namun kegiatan itu melenceng. Ada instrumen dan atribut yang digunakan  YBSN menjurus pada simbol misionaris. Kegiatannya yang semula untuk sosialisasi narkoba dan pergaulan bebas,  diduga dialihkan pada upaya pendangkalan aqidah dan Kristenisasi terhadap siswa yang notabenenya sebagian besar  anak-anak muslim.

Simbol-simbol itu nampak pada pembagian Roti Hidup atau  biskuit krispy yang diproduksi khusus dengan logo Tuhan Memberkati yang tercetak pada  biskuit tersebut. Begitu pula prosesi penyiraman minyak urapan dengan cara dicipratkan ke  peserta mirip baptis,  prosesi  dalam agama Kristen terhadap mereka yang baru masuk Kristen kepada  seluruh siswa.

Pertemuan Tokoh Masyarakat dan MUI Pulau Morotai, pembahasan terkait Karnaval Merah Putih yang di duga di susupi misi agama, Jumat 22 Februari 2019, pukul 21.00 WIT

Siswa diminta menghadap ke laut  sambil memegang roti hidup dan menggikuti  pembacaan doa yang dipandu oleh dua wanita sepintas seperti  ikrar, dilanjutkan  prosesi seremoni. Isinya ikrar itu menurut tokoh agama Morotai, ada dugaan  pendangkalan agidah dan  upaya Kristenisasi terhadap anak-anak muslim.

Ketua MUI Pulau Morotai, H. Arsad Haya saat pertemuan tokoh agama  di Masjid At-Tagwa Desa Yayasan, Jumat 22 Februari 2019 malam mengatakan, telah melaporkan masalah ini  Ketua MUI Provinsi Maluku Utara disertai  bukti-bukti visual dan foto  untuk ditindaklanjuti dengan membuat laporan resmi  ke Polda Maluku Utara.

Wakil Ketua MUI Morotai,  Abdullah menyebut, pihaknya akan memanggil  aktor intelektual dibalik kegiatan karnaval bermodus misi agama itu untuk mengetahui apakah ada faktor penyesatan atau tidak.

“Kita harus mengundang  orang-orang yang terlibat,  yang membuka acara maupun yang mendampingi  yakni Kadis Pendidikan. Disitu barulah kita tahu siapa dibalik semua itu. Ketika kita sudah temukan barulah kita bergerak,” tegasnya.

Mustafa  Lasiji  yang memimpin rapat pada Jumat 22 Februari 2919 malam  di masjid At-Taqwa desa Yayasan  menyebut,  yayasan yang menggelar acara itu dipastikan tertlibat supaya dipanggil untuk mengklarifikasi karena sudah ada bukti video.

“Kita tinggal konsepkan dalil hukumnya seperti apa, kita kumpulkan sebagai bukti  laporan resmi,” tegasnya. Mustafa menegaskan, Islam adalah agama yang damai, melindungi agama minoritas. Namun tidak setuju dengan cara-cara yang menjurus pada Kristenisasi.

Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Pulau Morotai, M Qubais Baba mengatakan, jika  benar ada misi agama dalam acara karnaval merah putih yang dilaksanakan Yayasan Barokah Surya Nusantara, maka harus  dilaporkan ke polisi.

Bendera putih tertulis roti hidup

Qubais  menghimbau agar organisasi Islam seperti NU, Muhammadiah dan MUI  tidak boleh ikut-ikutan aksi, karena organisasi tersebut punya mekanisme. Jika ada  bukti, ia  sepakat diproses  hokum.

“Tugas kami menyelesaikan masalah sesuai mekanisme hukum,” katanya. Qubais menambahkan, mengingat ini  tahun politik,  harus lebih bijak dan hati-hati menyikapi persoalan  yang sensitif agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan demi terjaganya kerukunan antar umat beragama di pulau Morotai.

Sementara pertemuan kedua dilaksanakan Sabtu, 23 Februari 2019. Pihak Kementerian Agama Pulau Morotai belum selesai pertemuan langsung pulang, karena masyarakat yang hadir mulai emosi menanggapi masalah ini. Karena itu, para tokoh agama dan MUI berkesimpulan,   Senin 25 Februari 2019 akan ada aksi demonstrasi di Kantor Bupati dan Polres Morotai.

Ibu PAUD Morotai, Sherly Tjoanda mengklarifikasi kehadirannya melalui melalui Whatsapp Minggu 24 Februari 2019. Menurutnya, kehadirannya di acara itu karena diundang untuk membuka acara puncak sosialisasi narkoba dan seks bebas. “Saya  Saya datang di lokasi acara sekitar 30 menit, setelah pembukaan  saya meninggalkan lokasi  sebelum acara selesai,” kataya. Sedangkan  Ketua Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN), Grace  dihubungi  melalui telepon untuk konfirmasi,  tak ditanggapi. Dihubungi melalui whatsapp pun  tidak dijawab.

Sumber: Koridorzine.com

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita