Senin, 26 Oktober 2020

Banteng Gak Mempan, Santri Pun Dijadikan Senjata!

Banteng Gak Mempan, Santri Pun Dijadikan Senjata!

Oleh: Pirman*

Jakarta, Swamedium.com — Para pemangku kekuasaan dan pihak-pihak yang bernafsu mengeruk kekayaan bangsa kian kehabisan akal. Berbagai cara penjegalan dilakukan. Tetapi tak ada satu pun yang efektif.

Lagi pula suka ngeyel kalau dikasih tahu. Satu tak akan pernah efektif. Negeri ini terlalu besar jika hanya diurusi oleh satu orang, satu organisasi, atau satu partai.

Semakin mereka menjegal, Sandi semakin licin. Betul-betul di luar prediksi. Benar-benar tak masuk akal.

Sandi yang awalnya diremehkan dan sama sekali tak diperhitungkan, kini telah menjelma menjadi sosok menakutkan bagi Genderuwo.

Tahu kan? Genderuwo itu sejenis dedemit. Ia hanya takut pada sekelompok orang shalih dan malaikat.

Maka aneka jegalan Banteng tak ada hasilnya. Mulai dari Pekalongan, Tulungagung, Bojonegoro, Tabanan Bali. Semuanya tak efektif. Mentah semua. Gagal total padahal niatnya perang total.

Saking panik, bingung, dan kehabisan cara, santri yang tulus pun dijadikan alat untuk menolak dan menghadang Sandi, Pria Kalem dan Santun.

Mereka mengatasnamakan pesantren. Menggunakan kuasa. Memakai stempel dan tanda tangan. Dengan pongahnya mereka menulis: Menolak Sandiaga karena berpotensi menimbulkan kerawanan sosial.

Astaghfirullah. Pesantren kok gini sih? Mana ada santri yang menolak lelaki santun dan shaleh seperti Sandi?

Gini loh. Dahulu, para pendiri Nahdhatul Ulama itu membuka hutan untuk membangun pesantren. Mereka terbiasa dengan berdakwah kepada pemabuk, tukang zina, dan kaum berandalan lainnya.

Orang-orang yang belum mendapatkan hidayah itu didakwahi. Dakwah yang santun hingga akhirnya mereka bertaubat bahkan sebagian menjadi abdi bagi Kiyai.

Itu logika, cara pikir, cara pandang, dan cara hidup santri NU. Semua dirangkul. Bahkan orang gila ditampung untuk diobati, bukan untuk disuruh nyoblos!

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.