Minggu, 01 November 2020

Mungkinkah Rekomendasi Said Aqil Mempercepat Kiamat?

Mungkinkah Rekomendasi Said Aqil Mempercepat Kiamat?

Oleh: Asyari Usman*

Jakarta, Swamedium.com — Kalau tidak keliru, ada hadits Rosulullah yang lebih-kurang menyebutkan bahwa salah satu tanda kedatangan qiyamat adalah apabila manusia mengatakan yang benar itu salah, yang salah itu benar. Apabila manusia berpikir dan bertindak terbalik-balik.

Belum lama ini (tepatnya Jumat, 1/3/2019), Munas Ulama NU merekomendasikan agar kata “kafir” tidak lagi digunakan di Indonesia. Alasannya, kata “kafir” tidak dikenal di dalam sistem kenegaraaan. Tidak ada di dalam konstitusi (UUD ‘45). Yang ada ialah nonmuslim, kata Ketua PBNU Said Aqil Siradj (SAS).

Sampai di sini, SAS benar. Kata “kafir” memang tidak ditulis di konstitusi. Begitu juga kata “nonmuslim”.

Yang menjelaskan rekomendasi ini adalah SAS sendiri. Karena itu, saya lebih enak menyebut ini sebagai rekomendasi SAS. Toh, struktur NU dan PBNU tidak salah kalau dipersonifikasikan menjadi Said Aqil Siradj. Bukankah beliau adalah penguasa tertinggi dan terkuat di PBNU?

Baik, kita lanjutkan lagi.

Yang menjadi masalah adalah, rekomendasi penghilangan kata “kafir” itu mau tak mau masuk ke dalam kategori “menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah”. Padahal, Allah Ta’alaa sendiri yang membuat istilah “kafir” di dalam al-Qur’an al-Kareem. Tiba-tiba sekarang mau dihentikan penggunaannya oleh Said Aqil.

Bukankah ini bisa disebut sebagai pertanda qiyamat sudah dekat sebagaimana dijelaskan hadits di atas? Bisa jadi. Dan sangat mungkin qiyamat datang lebih cepat. Mengalami akselerasi gara-gara pelarangan kata “kafir”.

Nah, di sini ada masalah besar. Rekomendasi SAS untuk menghapus kata “kafir”, bisa sangat merugikan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Ruginya di mana? Mari kita ungkap.

Misalnya begini. Jokowi, dengan segala cara dan daya-upaya, bisa menang di pilpres 17 April nanti (meskipun sekarang ini hampir pasti beliau kalah). Nah, bayangkan kalau qiyamat datang dua minggu setelah Jokowi menang gara-gara Said Aqil ingin menghapuskan kata “kafir”. Bukankah itu akan merugikan Jokowi? Tentu iya.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.