Sabtu, 24 Oktober 2020

Aktivis Picisan yang Lahirkan (Kembali) Orde Baru

Aktivis Picisan yang Lahirkan (Kembali) Orde Baru

Ilustrasi. (ist)

Oleh: Tarli Nugroho*

Jakarta, Swamedium.com — Terakhir kali membaca dan mendengar orang dicekal bicara masih tahun 1996, saat Cak Nun, Buyung, dan sejumlah tokoh lainnya dilarang mentas. Tapi hari-hari ini, hal-hal yang biasanya kita identikan dengan Orde Baru itu bermunculan kembali.

Hari ini, misalnya, Prabowo sebenarnya akan menyapa konstituennya di Bandung. Panitia sudah menyewa tempat di Arcamanik, tapi tiba-tiba dibatalkan oleh pengelola gedung dengan sejumlah dalih.

Ini juga yang kemarin dialami oleh JASMA (Jaringan Alumni SMA/SMK Indonesia) saat akan deklarasi memberikan dukungan pada Prabowo-Sandi. Tak ada yang mau menyewakan tempat dan gedung untuk mereka. Baru, atas kebaikan Alex Asmasoebrata, mereka akhirnya bisa deklarasi di Sentul.

Semua itu tidak terjadi di masa Orde Baru, Bung. Tapi terjadi pada hari-hari ini, di masa kampanye di era yang katanya demokrasi.

Tolong dicatat, banyak hal yang dulu kita benci dari Orde Baru, yang secara insinuatif selalu dipropagandakan sebagai akan diduplikasi oleh Prabowo jika ia berkuasa nanti, pada kenyataannya secara telanjang telah dipraktikkan oleh rezim saat ini, yang katanya disokong oleh para aktivis pro-demokrasi, anti-Orde Baru, dan anti hal-hal menyeramkan lainnya. Sayangnya, bahkan sejak empat tahun lalu, sudah terbukti jika analisis mereka GAGAL, TIDAK AKURAT, yang membuat semua propaganda mereka sebenarnya hanyalah tinggal mewakili sikap partisan semata.

Pada akhirnya, mereka tak lagi berbeda dengan rezim yang dulu mereka benci. Ya, if you fight with monsters for too long, you become a monster.

Yes, you’re, Dude!

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.