Minggu, 25 Oktober 2020

Sentilan dari Sentul

Sentilan dari Sentul

Emak Nurasia Uno, istri Cawapres Sandiaga Uno hadir dalam acara Jaringan Alumni SMA/SMK Indonesia Prabowo Sandi di Sentul.

Oleh: Tata Gibrig*

Sentul, Swamedium.com — Sabtu, 2 Maret 2019 sekitar 4000an alumni SMA/SMK Se-Indonesia yang didominasi dari Jabodetabek berkumpul di Sirkuit Sentul dalam rangka Pentas Seni Budaya dan Kulinari. Acara ini diorganisir oleh JASMA PADI (Jaringan Alumni SMA/SMK Indonesia Prabowo Sandi).

Kebetulan saya dikontak panitia JASMA, senior saya di SMA 1 Jakarta (Boedoet), mba Erna Zein. Sudah jadi tradisi di Boedoet kalau senior yang minta, kami para juniornya cuma punya jawaban siap laksanakan. Di ujung telepon, sebelum saya tanya, mba Erna langsung nyeletuk, “gak usah pikir soal honor, kalau dari panitia kurang, mba yang tambahin sendiri!”

Saya nyengir dalam hati, ‘koq mba Erna bisa menebak isi kepala saya?” Sudah banyak saya rasakan ketika mengisi acara relawan-relawan Prabowo Sandi panitia hanya mengganjar saya dengan honor seikhlasnya. Saya memang selalu diplomatis ketika ditanya, “berapa honornya nih bang Tata, jangan mahal-mahal ya!” oleh para panitia dari relawan Prabowo Sandi. Jawaban saya begini “pokoknya buat Prabowo Sandi atur aja dah, aman. Buat saya yang penting PAS!”
Kalimat ini banyak tafsirnya, sehingga tak heran pulang dari acara-acara Prabowo Sandi, sebagai MC Profesional kadang saya terima honor yang benar-benar ngepas. Bahkan kalau Jokowi tahu honor saya pun dia bakal kaget, seperti kagetnya dia mengetahui honor guru honorer yang tempo hari berdemo di istana.

Pagi itu jam sembilan, saya sudah sampai di sentul. Di halaman parkir sudah banyak berjejer mobil-mobil yang dari tampilannya sekelas MPV atau SUV, juga ada beberapa bus-bus besar kategori premium bus. Sebelumnya saat panitia mengabarkan bahwa lokasi acara di Sirkuit Sentul, saya agak terkejut, ini acara Pentas Seni Budaya koq diadakan di Sirkuit? Seumur-umur saya jadi MC baru kali ini ada panitia ngawur begini. Lamunan saya buyar karena peserta acara mulai berduyun-duyun merangsek masuk tribun. Saya mesti membaca situasi sebagai persiapan sebagai MC. Saya melihat wajah-wajah yang hadir, muka-mukanya kelihatan sekali kalangan kelas menengah terdidik. Meskipun banyak yang sudah senior, yang perempuan kelihatan cantik sementara yang laki-laki tampak gagah. Kelihatannya tidak ada wajah orang susah di situ kecuali saya sendiri.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.