Minggu, 25 Oktober 2020

UBN: Pihak yang terganggu dengan istilah kafir, justru pelaku kekerasan ideologi

UBN: Pihak yang terganggu dengan istilah kafir, justru pelaku kekerasan ideologi

Foto: Pimpinan Alquran Islamic Learning Center, KH Bachtiar Nasir. (aqlnews)

Jakarta, Swamedium.com – Sebutan kafir menjadi polemik setelah muncul keputusan Munas PBNU untuk mengganti istilah itu dengan non-muslim. Tujuannya untuk menjalin kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Pimpinan Arrohman Qur’anic Learning (AQL) Center, Ustadz Bachtiar Nasir mengatakan, sebutan kafir tidak pernah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurutnya, sebutan kafir menjadi ramai hanya dalam masalah memilih pemimpin.

“Kemaren ramai dalam hal kepemimpinan. Sementara soal kehidupan antar umat beragama dan pendirian rumah ibadah, hal ini sesuatu tidak bermasalah di Indonesia,” ujar Mantan Ketua Umum GNPF MUI di AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (5/3/2019) malam.

“Ketika ada pihak yang merasa terganggu dengan istilah kafir dalam hal itu, maka dia justru melakukan kekerasan ideologi,” ujar Ustadz Bachtiar menambahkan.

Karena, lanjutnya, umat Islam telah memiliki konsepsi yang jelas soal kepemimpinan di dalam Islam. Salah satu prinsipnya berada di surat Al-Maidah ayat 51.

“Orang Islam tidak boleh menjadikan pemimpin mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Karena masing-masing kita sudah memiliki pola dan konsep kepemimpinannya,” jelasnya.

Dalam konteks kepemimpinan, UBN menegaskan bahwa dalam sebuah negara demokrasi yang bernuansa mayoritas, Indonesia memiliki mayoritas umat Muslim.

“Tentunya kalau ingin memihak dan bersikap adil adalah yang sesuai dengan umat Islam sebagai mayoritas,” tandasnya.

Sumber: Kiblatnet

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.