Wednesday, 24 April 2019

Kompas Group Memusuhi Prabowo?

Kompas Group Memusuhi Prabowo?

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sempat menunjukkan kegemarannya berjoget saat satu panggung dengan musisi gambus Nissa Sabyan di halaman kampus Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), Bandung, Jumat (8/3/2019).

Oleh: Andang Burhanuddin*

Jakarta, Swamedium.com — Beberapa hari lalu di medsos lagi rame dibahas soal Independensi Harian Kompas. Kasusnya dipicu kicauan mantan wartawan senior Kompas Rene Pattirajawane. Dia menyoal Pemimpin Redaksi Kompas Ninuk Mardiana Pambudy.

Putri almarhum Moerdiono Mensesneg legendaris di masa Orde Baru itu kedapatan jalan bersama Prabowo di peternakan Hambalang.

Rene mempertanyakannya. Dia khawatir slogan Kompas berubah menjadi “Amanat Hati Nurani 02,” karena Ninuk menempel Prabowo. Ninuk menjawab bahwa itu bagian dari menjaga independensi Kompas, karena dia sebelumnya juga sudah bertemu Jokowi.

Menjadi menarik karena Rene diam saja ketika Ninuk bertemu Jokowi. Padahal Ninuk bersama sejumlah petinggi Kompas lainnya. Tim lengkap. Mengapa dia teriak ketika Ninuk ketemu Prabowo dan bersikap sebaliknya ketika bertemu Jokowi.

Sebagai media Kompas dikenal sebagai pendukung garis keras Jokowi. Posisinya sudah terlihat sejak Jokowi menjadi Gubernur DKI. Dukungan yang sama juga diberikan kepada Ahok.

Kompas juga dikenal sangat sinis kepada gerakan Islam. Posisi ini sebenarnya bisa dipahami. Kompas ketika awal dibangun adalah corong dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Karena latar belakangnya, banyak yang meyakini Kompas adalah singkatan dari Komando Pastor.

Sebuah pemahaman yang salah kaprah, tapi sulit dibantah. Pada awal pendiriannya mayoritas wartawan Kompas adalah lulusan sekolah Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Seminari adalah sekolah calon pastor.

Kalau mau tahu sikap asli para wartawan Kompas, silakan buka-buka status mereka di medsos. Akan ketahuan bagaimana sikap mereka terhadap umat Islam dan Prabowo. Mereka juga sangat sinis tehadap Gerakan 212, apalagi Habib Rizieq. Tidak ada baiknya sama sekali.

Belakangan sikap redaksi Kompas dan media di bawah kelompoknya mulai sedikit berubah, tapi cara-cara mereka melakukan _framing,_ masih terus berlangsung.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)