Selasa, 20 Oktober 2020

Prabowo Itu Pemimpin

Prabowo Itu Pemimpin

Foto: Margarito Kamis. (Republika)

Oleh: Margarito Kamis*

Jakarta, Swamedium.com — Berkali-kali Prabowo Subianto, pensiunan Jenderal Bintang Tiga Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, dalam kampanye capres-cawapres tahun 2019 kali ini, cukup sering mengungkapkan pandangannya tentang persoalan bangsa tercinta ini.

Bangsa ini, kalau bisa disederhanakan, dalam pandangannya mengalami kemerosotan kualitas, hampir pada setiap aspek kehidupan. Pendidikan, kesehatan, pendapatan, lapangan kerja, sumberdaya alam, ekonomi, hukum dan lainnya, teridentifikasi mengandung masalah. Tetapi apakah masalah-masalah ini merupakan masalah dasar, terbesar? Terlihat dalam pandangannya, tidak. Masalah terbesar, sejauh yang terlihat dari pandangannya adalah komitmen membangun secara benar.

Pemimpin

Prabowo, karena itu, sebenarnya hendak bicara tentang pemimpin, setidak-tidaknya kepemimpinan pemimpin. Harus diakui sejarah akan mengarahkan siapapun yang hendak bicara kemajuan atau keterbelakangan sebuah bangsa, dengan menunjuk, secara tak terbantahkan, pada pemimpin sebagai figur yang menjadi penyebab utamanya.

Tidak harus menyandang gelar “prinsipes civitatis” orang pertama dalam negara itu, karena kedudukan dan tanggung jawabnya, tetapi pemimpin selalu begitu, menjadi orang pertama di negara itu yang harus dimintai tanggung jawab atas soal-soal, besar dan kecil, yang terjadi dalam negaranya. Inilah yang dicatat dalam sejarah.

Di Romawi kuno misalnya, tahu pemerintahan sebelumnya, misalnya pemerintahan Tyberius Lucius, yang dalam gambaran Syed Husen Alatas, begitu menjijikan, rakus, Lycurgus segera memecahkannya dengan satu kreasi mengagumkan. Kreasinya adalah mengombinasikan unsur-unsur monarki, arsitokrasi dan demokrasi menjadi satu sistem formal bernegara.

Ketiga unsur itu dibuat saling terkait, sehingga penyelenggaraan negara berlangsung dalam kerangka saling mendukung dan mengawasi. Kreasi itu bertolak dari asumsi manusia memiliki potensi jahat yang luarbiasa, sehingga bila tidak ditemukan cara untuk menjinakan, maka setiap saat akan timbul kejahatan. Setiap kali timbul kejahatan, dalam pandangannya, menandai adanya masalah lebih besar yang tersembunyi dalam masyarakat itu. Asumsi ini, beberapa abad kemudian memancar di Amerika pada saat James Madison merumuskan prinsip cheks and balances dalam Philadelphia Constitutional Convention 1787.

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.