Monday, 20 May 2019

Pelajaran dari Kasus Romy

Pelajaran dari Kasus Romy

Oleh: Tony Rosyid*

Jakarta, Swamedium.com — Jumat kemarin (15/3) jadi hari keramat. Dua peristiwa besar terjadi. Yang satu menghebohkan dunia internasional. Satunya lagi memenuhi halaman berita di media nasional.

Pembunuhan massal umat Islam di dua masjid di New Zealand. Lebih dari 40 jama’ah shalat Jumat dibantai. Dunia berkabung. Seluruh umat manusia, apapun agamanya, mengutuk tindakan itu. Sebuah bentuk prilaku terorisme. Ini tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang tak waras akal dan ideologinya. Mewakili masyarakat Jakarta, Anies Baswedan telah menyampaikan bela sungkawa dan keprihatinannya. Kok tidak mewakili Indonesia? Bukankah Anies gubernur Indonesia? Masih ada Pak Jokowi, “dejure” adalah presiden Indonesia. Kita tunggu pidato bahasa Inggrisnya beliau. Semoga tak kalah fasih dari Anies Baswedan.

Peristiwa satunya lagi terkait OTT Romahurmuziy. Orang lebih mengenalnya dengan nama Romy. Ketum PPP yang kalah dalam sengketa partai di pengadilan, tapi pemegang SK sah dari Menkumham ini terpaksa harus berurusan dengan KPK.

Romy kena OTT. Kabarnya terkait masalah pengisian jabatan di Kemenag. Apakah termasuk jabatan rektor PTAIN yang SK penentuannya ada di tangan menteri? Silahkan tanya satu persatu rektor yang sudah dilantik. Gratis, atau ada fee, gak ada yang tahu. Tapi, jangan su’udhan. Tetap praduga tak bersalah. Itu prinsip hukumnya.

Dalam konteks pemilihan rektor ini, negara mundur jauh. Kembali ke sistem Orde Baru. Rektor dipilih dan ditentukan menteri, maka otomatis bisa dikontrol penguasa. Dunia akademik tak berkutik. Kendati senat universitas atau institut bisa mengusulkan tiga nama, tapi menteri yang menunjuk siapa yang jadi rektornya. Akhirnya, siklus “sandera” model Orde Baru berlaku. Mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor (karena dipilih dan ditentukan secara otoritatif oleh rektor), rektor takut pada menteri, dan menteri takut pada presiden. Ini nyanyian yang dihafal hampir seluruh aktifis mahasiswa era Orde Baru. Termasuk saya adalah bagian dari aktifis di rezim Orde Baru.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)