Senin, 26 Oktober 2020

Din Syamsuddin: Muhammadiyah tak boleh netral dalam Pemilu 2019

Din Syamsuddin: Muhammadiyah tak boleh netral dalam Pemilu 2019

Foto: Din Syamsuddin. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 Prof Dr M Din Syamsuddin mengelurkan tujuh pernyataan sikap berkaitan dengan Pemilu 17 April 2019, yang di dalamnya ada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres).

Selasa (19/3/19) pagi, Din yang kini menjabat Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu Jakata itu mengatakan, tujuh poin sikapnya itu dia sampaikan sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dari banyak warga Muhammadiyah.

Selengkapnya, tujuh pernyataan itu adalah:

Pertama, Piplres sebagai sarana memilih pemimpin adalah tanggung jawab kebangsaan dan keagamaan sekaligus. Warga Muhammadiyah tidak baik jika tidak memilih (golput). “Karena itu mencerminkan sikap tidak bertanggung jawab,” ucapnya.

Kedua, karena harus memilih dan tentu ada pasangan caon (paslon) yang dipilih, maka tidak ada sikap netral. “Sikap netral mencerminkan keragu-raguan, ketakpastian, dan illiterasi politik, yang akan membawa kerugian,” jelasnya.

Ketiga, bahwa organisasi Muhammadiyah tidak menentukan pilihan, menurut Din, itu sudah seyogyanya. “Tapi warga Muhammadiyah harus mempunyai pilihan. Pilihan tersebut boleh dinyatakan atau tidak dinyatakan,” ungkapnya.

Keempat, bagi kelompok warga Muhammadiyah yang mendeklarasikan dukungan politik kepada calon tertentu, sebaiknya tidak membawa nama, lambang, atau hal yang dapat dipahami sebagai ciri khas Muhammadiyah.

Kelima, sebaiknya mereka yang melakukan hal di atas tidak dengan sikap fanatik, ekstrim, dan euforia (menjadi fanatikus buta atau zealot), apalagi jika mereka hanyalah petugas partai atau pekerja politik belaka. “Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika perilaku demikian membawa perpecahan dalam Muhammadiyah,” ujar Din.

“Gunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab, dengan pendekatan ruhiyah yaitu bertanya kepada hati nurani (istafti qalbak) dan pendekatan ‘aqliyyaah yakni mengedepankan akal pikiran (afala tatafakkaruun),” pernyataan keenam Din.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.