Senin, 23 November 2020

Aturan Hanya Mengikat Kubu Lawan

Aturan Hanya Mengikat Kubu Lawan

Tenaga honorer Kementerian Sosial yang dimanfaatkan untuk mendistribusikan kalender berbau kampanye Capres 01 kepada keluarga peserta PKH.

Jakarta, Swamedium.com — Menampilkan cara arogan dengan memecat tenaga honorer yang mendukung prabowo, malah menurunkan nama Jokowi di masyarakat.

Jika kita menemukan tindakan2 bar-bar macam ini, jangan emosi. Justru kita harus gembira karena mendapatkan bahan untuk di jadikan berita pada orang lain. Sebarkan dan biarkan masyarakat yang menilai.

3 hari kemarin, mendapatkan inbox dr salah seorang pertemanan FB. Mengirimkan foto lengkap di sebuah pedesaan, dimana saat itu tenaga kontrak kementrian sosial yang di tugaskan menjadi tenaga pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) terlibat aktif berkampanye utk Jokowi.

Ada pembagian kalender bergambar Jokowi yang di serahkan pada setiap keluarga penerima program PKH. Di foto dan di jejerkan seolah begitu syarat dari yang memerintah.

Tenaga honorer yang di manfaatkan itu tentu saja gak bisa menolak. Kebutuhan kerja dan takut di berhentikan membuat mereka menerima perintah Dr atasan. Dan pastinya, memanfaatkan tenaga kontrak ini bukan terjadi di satu daerah saja, bisa di daerah lain pun demikian.

Ancaman, intimidasi dan persekusi yang mereka teriakkan dahulu, saat ini mereka praktekkan demi sebuah nafsu jabatan.

Di Banten tenaga honorer harus di berhentikan sepihak, karena perbedaan dukungan. Dengan membawa aturan bahwa tidak boleh terlibat dukungan mendukung secara nyata, mereka berlakukan hukum rimba.

“Pecat…karena melanggar!!”

Tapi di sebuah pedesaan, tenaga honorer mendapatkan fasilitas untuk populerkan sang raja. Bagaimana tentang aturan yang melarang hal itu?

“Maaf, aturan hanya mengikat pada kubu lawan. Bukan pada kubu kami”

Bosen sih bahas mereka yang tidak tau malu. Tapi kalau kita bosan dan abai, mereka akan makin menjadi. Tipikal manusia seperti mereka adalah tipikal manusia yang tidak tau malu.

Gak ada bedanya dengan orang gila, menari dan tertawa Dengan kemaluan yang bebas terlihat siapa saja.

Beda mereka dengan orang gila, hanya terletak pada rambut saja. Jika orang gila tidak perduli bentuk rambut-nya, namun mereka lebih utamakan penampilan. Bersisir belah samping menampakkan jidat lebar, atau bersisir gaya mafia judi dengan lurus rapi ke belakang. Seolah di bawah rambut itu tersimpan pemikiran yang brilian.

Taunya, gak ada beda dengan manusia2 yang berjalan gontai tanpa celana.

Manusia waras, adalah manusia yang menyadari kesalahannya.

Penulis adalah Setiawan Budi, pegiat media sosial

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.