Sabtu, 24 Oktober 2020

Prabowo “Dipersekusi” Tengah Malam di Jalanan Jakarta

Prabowo “Dipersekusi” Tengah Malam di Jalanan Jakarta

Jakarta, Swamedium.com — Warga Jakarta “mempersekusi” Prabowo usai debat. Jalan Kertanegara dan sekitarnya, tempat kediaman capres 02 di Ibu Kota, macet dan ramai tengah malam tadi. Ada apa gerangan?

Rupanya kerumunan rakyat sedang menunggu Prabowo pulang debat. Rakyat ingin memberi selamat. Puas dengan performa Sang Ksatria yang tampil sesuai karakter dirinya yang tegas, lugas, tandas.

Prabowo yang “dicegat” di tengah jalan tetap melayani dengan tersenyum. Tetap segar tak tampak lelah. Entah darimana energinya. Beliau ceria menyambut uluran tangan rakyat yang berdesakan ingin bersalaman.

Pemandangan yang menggetarkan. Saya terharu. Sungguh. Spontanitas rakyat alangkah menakjubkan. Datang tengah malam dari berbagai arah dengan bergairah. Seolah tak sabar, rakyat ingin segera Prabowo menjadi presiden untuk memimpin negeri ini. Hanya menyaksikan videonya saja mata saya basah.

“Jangan ketawa!” Tegur Prabowo pada pendukung 01 yang tertawa saat Prabowo menjelaskan lemahnya pertahanan Indonesia dalam debat.

“Saya bicara kemampuan pertahanan kita sebagai negara berdaulat. Ini sangat penting. Kalian anggap lucu?”
Ruang debat mendadak hening.

Spontan saya meninju udara. “Yes!” Hampir saja saya tepuk tangan di depan tv, nonton sendirian. Itu yang ingin dilihat rakyat: Prabowo yang tegas! Sorot matanya tajam menikam orang-orang bebal. Ekspresinya menghujam. Suaranya meruntuhkan mental benalu kedunguan. Tumbang tumbanglah singgasana kemunafikan.

Performa Prabowo dalam debat kali ini memang beda, sangat berkarakter. Asli dan alami. Ia perlihatkan dirinya tak dapat bermain-main terkait kedaulatan dan nasib rakyat. Ia tak dapat lagi berbasa-basi. Indonesia harus tegak sebagai negara berdaulat. Daulat negara adalah daulat rakyat. Tak boleh tangan-tangan asing diberi keleluasaan menghisap kekayaan negeri ini.

Prabowo tak segan-segan menunjukkan pada petahana bahwa yang benar itu benar, yang salah itu salah. Tak sungkan lagi menunjukkan kekeliruan pengelolaan negara. Bahkan dengan suara menggelegar. Seperti pekik elang menggentarkan ular. Yang kepak sayapnya membuat gerombolan tikus lari ketakutan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.