Selasa, 20 Oktober 2020

Macan Telah Bangun

Macan Telah Bangun

Bogor, Swamedium.com — Gaya kepemimpinan Jokowi di tahun 2014 yang mengambil gaya populis berangsur menjadi gaya Soeharto di awal tahun berkuasa. Gaya ini cocok dengan budaya Jawa, memusatkan perhatian dan kekuasaan pada satu titik figur. Orang-orang sekeliling Jokowi juga mirip juga dengan gaya Soeharto, mereka teknokrat cum aktivis yang dulunya agak malu berada di Pusat kekuasaan. Perbedaan konteks situasi ekonomi politik kita bisa saja berbeda, namun Jokowi dengan kondisi ekonomi Indonesia yang cukup stabil menurut saya justru lemah sekali dalam perundingan internasional. Jokowi justru memasukkan sebanyak mungkin investasi asing sebanyak-banyaknya dalam perekonomian Indonesia yang tidak dalam keadaan krisis, justru bisa menjadi basis ekonomi yang kuat dalam lima tahun. Aliran modal era sekarang tentu berbeda dengan aliran modal semasa era Soehato awal.

Ada kesamaan lain, dari awal gaya kepemimpinan Jokowi dipompa oleh buzzer dan oligarki media, yang akibatnya sama dengan gaya Soeharto menguasai RRI dan TVRI dalam demokrasi a la Orde baru. Akibat itu adalah masyarakat digiring dengan slogan, mungkin belum lama berselang kita mendengar Jokowi dinobatkan sebagai Bapak Infrastruktur (jalan tol?), Bapak Pembangunan Tersukses Sepanjang Sejarah Indonesia, gaya ini selalu akan mengingatkan kita pada Soeharto. Dua tahun akhir periode gaya kepemimpinan a la Jokowi yang dikesankan merakyat itu malah terkesan kontraproduktif, yaitu dengan memperlawankan antar elemen masyarakat, seolah-olah negara darurat. Slogn Anti-Pancasila, Anti-Kebhinekaan digaungkan, bukankah ini seperti Orde Baru. Di sisi lain persoalan serius mengenai pencaplokan wilayah Indonesia melalui skema investasi ditelan dan sembunyikan oleh oligarki media yang menyemburkan sloga-slogannya yang sayangnya minim bukti.

Tulisan ini sebenarnya masa bodo dengan gaya kepemimpinan Jokowi, itu cuma pembuka saja untuk paragraf berikutya tentang apa yang ditulis tokoh LSM Indonesia Emmi Hafild, tentang kucing keluar dari karung. Kucing tersebut adalah Prabowo. Bagi saya ini sama sekali keliru, terlalu banyak mitos yang dialamatkan pada Prabowo, termasuk mitos-mitos mengerikan yang sama sekali tidak ada yang bisa membuktikannya kecuali ‘kata si Anu’, “menurut Fulan’. Saya memilih frasa Macan Telah Bangun. Sebagai sipil eks tentara elit Prabowo tidak bisa serta merta menghilangkan habituasinya. Persoalan apakah militerisme akan hadir kembali di Indonesia itu hanya dugaan. Dugaan seberapapun ilmiahnya tetap dugaan, ini juga berlaku bagi Indonesianis asing yang selalu memojokkan Indonesia, sambil menjual proyek-proyek pembangunan, demokrasi, lingkungan hidup, bahkan bisnis militer yang sampai sekarang masih setengah rahasia. Siapa yang bisa menebaknya. Para ilmuwan yang sering mengejek bangsanya sendiri inilah yang menjadi bagian dari pelemahan kepemimpinan negara besar Indonesia siapapun presidennya.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.