Minggu, 18 Oktober 2020

Tanggapan Din Syamsuddin untuk KH Hamdan Rasyid dan Nadirsyah H

Tanggapan Din Syamsuddin untuk KH Hamdan Rasyid dan Nadirsyah H

Foto: “Prihatin banyak aktivis Muslim ditangkap dengan tuduhan makar (termasuk kader-kader muda Muhammadiyah),” kata Din. (ist)

Jakarta, Swamedium.com —Bismillahirrahmanirrahim.

Saya sudah membaca tanggapan thd Imbauan saya agar semua pihak tidak kembangkan isu bernuansa keagamaan terkait Pilpres, khususnya dari KH. Hamdan Rasyid. Saya mengucapkan terima kasih atas nasihatnya agar saya belajar dan mendalami Bhs. Arab agar jangan sesat dan menyesatkan.

Memang saya mengakui pengetahuan saya ttg Bhs. Arab sangat minim, walaupun merasa sdh belajar sejak Madrasah Ibtidaiyah, di Gontor, UIN, hingga S2 dan S3 yg ada seminar dgn menggunakan Bhs. Arab di UCLA dulu. Oleh karena itu saya ingin berguru kpd Ust. KH. Hamdan Rasyid yg pengetahuan Bhs. Arabnya tinggi dan dalam.

Utk itu saya ingin beliau menguji pemahaman saya ttg konsep al-Qur’an, khususnya ttg khalifah dan khilafah. Yang disebut oleh Al-Qur’an memang hanya kata khalifah (tdk ada penyebutan kata khilafah). Namun,karena yg kedua adalah bentuk derivatif dari yg pertama (fa’il dan fi’alah/noun dan verbal noun), maka secara substansial khilafah juga dikandung oleh Al-Qur’an. Tentu ini merupakan kesimpulan kaum substantivis, yg mungkin tidak diterima oleh kaum tekstualis. Sama halnya polemik ttg _’aradh dan jauhar_ di kalangan mutakallimun maunpun falasifah, sebagaimana antara lain dibahas dalam Kitab Ushul al-Din, karya Al-Baqillani, salah seorang ulama Sunni terkemuka.

Ini pulalah yg kemudian diadopsi oleh fukaha seperti Al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah yg pada baris pertama sudah menyebut khilafah dlm konteks khilafat al-Nubuwwah. Al-Mawardi tentu merujuk kpd konsep khilafah sejak Umawiyyyah hingga Abbasiyyah. Khilafah sebagai lembaga politik selama itu berada di tangan para khalifah. Dari sinilah mulai muncul _’alaqah ma’nawiyah’ bahkan _tasyaqquq ma’nawi_ antara kedua istilah yg saling berkelit berkelindan, atau menurut Imam Al-Ghazali dlm Bhs. Persia disebut _az yik modar omad_. Saya cukupkan sketsa pemahaman awam saya di sini dan dapat dikembangkan dgn membuka kitab para mutakallimun, fukaha, dan falasifah tentang maudhu ini.

Terkait Bhs. Arab yg KH. Hamdan Rasyid lebih luas ilmunya dari saya, mungkin beliau bisa jelaskan “apakah kata khilafah dan khalifah yg berbeda bunyi tidak memiliki kaitan maknawi”?. Kalau tidak salah akar kata keduanya sama yaitu _kha la fa_, yg berarti mengganti, mewakili, atau datang kemudian. Bukankah kalau demikian terdapat _’alaqah ma’nawiyah_, walau berbeda wazan. Khalifah adalah orang/pelaku, sedangkan khilafah adalah wujud dari perbuatan khalifah, yg mengandung arti sistem nilai kehidupan. Memang orang yg memahami khilafah sebagai lembaga politik (hukumah siyasiyah/political authority or a form of government) akan mengatakan keduanya berbeda.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.