Senin, 19 Oktober 2020

Polisi Tidak Boleh Menangkan Jokowi

Polisi Tidak Boleh Menangkan Jokowi

Foto: Margarito Kamis. (Republika)

Ternate, Swamedium.com — 02 itu Pak Prabowo dan Pak Sandi dalam pilpres ini. Apa perlunya menggembosi suara mereka? Apa salah Pak Prabowo dan Pak Sandi? Kalau yang menggembosi pemilih sendiri, ya biasa, konstitusional.

Tapi bila dilakukan polisi, terstruktur, sistematis atau tidak, jelas tidak biasa. Itu memukul telak kewibawaan Polisi sendiri. Itu memukul, mendeligitimasi Kapolri, yang telah menerbitkan TR, yang secara esensial mengharuskan semua polisi netral dalam pilpres ini.

Urusan menggembosi suara Pak Prabowo dan Pak Sandi diungkap telanjang oleh Pak Sulman Aziz, mantan Kapolsek Pasirwangi, Garut. Saya, katanya, telah dimutasi dari jabatan saya sebagai Kapolsek ke Polda Jabar, dikarenakan saya berfoto dengan seorang tokoh agama Kecamatan Pasirwangi yang kebetulan beliau sebagai ketua panitia deklarasi Prabowo-Sandi, ujar Sulman di Kantor Lokataru, Jakarta, Minggu (31/3).

Diakui Sulman yang berpangkat AKP, sebelumnya “sudah ada perintah untuk menggembosi suara” (tanda petik dari saya) konsentrasi massa yang mendukung paslon 02. Perintah itu, katanya dalam jumpa pers di kantor Lokataru, sebuah LSM di bawah kemudi Haris Azhar, hari minggu kemarin, diberikan oleh Kapolres Garut, (RMOL, 31/3). Menariknya Pak Kapolres membantahnya.

Lain Garut, Jawa Barat lain pula NTB. AKBP Erwin Ardiansah, entah apa jabatannya, seperti ditulis Mas Hersubeno Arif, memberi instruksi kepada seluruh Kapolsek memenangkan Paslon Nomor 01. Minimal 60 persen di wilayah masing-masing. Bila gagal mereka akan dievaluasi. Perintah itu, sekali lagi, tulis Mas Hersu yang merujuk data yang dimilikinya berasal dari kapolda NTB. Ini mirip substansi pengakuan Sulman, mantan Kapolsek Pasirwangi Garut, Jawa Barat.

Semoga Tak Begitu

Pak Kapolres Garut sudah membantah. Tetapi bantahannya tidak cukup menghilangkan keperluan untuk mendalami kasus ini. Dalam kerangka itu, muncul satu soal. Soalnya adalah kapan peristiwa berfoto bersama dengan seorang tokoh agama itu dilakukan? Jujur, tak dapat ditemukan jawaban kongklusif karena minimnya data yang tersedia. Apakah berfoto bersama itu dilakukan setelah keluarnya Telegram Rahasia, TR, Pak Kapolri yang mengharuskan personil polisi netral dalam pemilu juga tak terjawab.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.